DKI Jakarta Resmikan Dua Embung di Cipayung untuk Perkuat Pengendalian Banjir

0
68
Embug di kawasan Cipayung Jakarta Timur. (Foto: Pemprov DKI Jakarta)

(Vibizmedia – Jakarta) Pemerintah Provinsi DKI Jakarta meresmikan Embung Bambu Hitam dan Embung Batu Bangkong di Kecamatan Cipayung, Jakarta Timur, pada Senin (19/10/2026). Pembangunan kedua embung ini menjadi bagian dari upaya memperkuat pengendalian banjir, menjaga ketersediaan sumber daya air, sekaligus menyediakan ruang publik yang dapat dimanfaatkan masyarakat.

Kedua embung tersebut memiliki kapasitas tampungan gabungan sebesar 36.550 meter kubik. Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menjelaskan, pembangunan dilakukan oleh Dinas Sumber Daya Air (SDA) DKI Jakarta pada 2025 dengan menerapkan konsep infrastruktur biru-hijau dan pendekatan berbasis alam (nature-based solutions).

“Embung Batu Bangkong dan Embung Bambu Hitam dibangun oleh Dinas Sumber Daya Air DKI Jakarta pada 2025 melalui pendekatan biru hijau dan solusi berbasis alam atau nature-based solutions. Dibangun sebagai sarana pengendali sumber daya air, sumber air baku, sekaligus ruang interaksi publik,” ujar Pramono.

Dari sisi luas dan kapasitas, Embung Batu Bangkong menempati lahan seluas 1,3 hektare, dengan badan air mencapai 0,58 hektare dan kapasitas tampungan 20.300 meter kubik. Adapun Embung Bambu Hitam memiliki luas lahan sekitar 2,1 hektare, badan air 0,50 hektare, serta kapasitas tampungan 16.250 meter kubik.

Pramono menerangkan, embung berperan menampung air hujan sekaligus membantu proses peresapan ke dalam tanah. Mekanisme ini memungkinkan air tersimpan dan meresap, sehingga tidak seluruhnya langsung mengalir menuju saluran drainase maupun sungai.

“Fungsi utama dari embung ini yaitu untuk tempat penampungan air. Jadi bukan kemudian dialirkan, tapi air itu meresap di sini. Sehingga dengan demikian namanya menjadi tempat untuk konservasi,” jelasnya.

Tidak hanya berfungsi sebagai infrastruktur pengelolaan air, kedua embung juga dilengkapi berbagai fasilitas publik, antara lain instalasi pengolahan air limbah, jalur joging, taman bermain anak, balai warga, lapangan multifungsi, dan sunken plaza. Fasilitas tersebut dapat digunakan warga untuk berolahraga dan melakukan kegiatan sosial ketika cuaca kering. Sementara itu, area tertentu juga dapat dimanfaatkan sebagai ruang tampungan tambahan saat hujan.

Menurut Pramono, upaya mengatasi banjir di Jakarta harus lebih menitikberatkan pada pencegahan jangka panjang. Karena itu, Pemprov DKI Jakarta terus mengembangkan infrastruktur pengendalian air, mulai dari embung dan waduk hingga normalisasi sungai.

Ia juga menilai masih terdapat peluang untuk membangun embung tambahan di Jakarta Timur guna meningkatkan kapasitas tampungan air dan memperkuat upaya pengendalian banjir secara bertahap. Namun, ia menekankan pentingnya pemeliharaan agar fasilitas yang telah dibangun dapat terus berfungsi dengan baik.

“Pemerintah DKI Jakarta dalam hal berkaitan dengan penanganan banjir tidak hanya serta-merta kalau hujan baru dilakukan kegiatannya ataupun penanganannya. Kita lebih pada pencegahan, sehingga saya minta karena sudah bagus dan digunakan secara gratis oleh warga, tetapi saya minta perawatannya betul-betul ditangani secara baik,” tegasnya.

Pembangunan kedua embung tersebut juga mendapat sambutan positif dari masyarakat setempat. Ketua RW 06 Kelurahan Cipayung, Amid Suminar, berharap fasilitas ini dapat membantu mengurangi risiko banjir sekaligus menjadi ruang yang mendukung kegiatan olahraga dan aktivitas warga.

“Ya, mudah-mudahan embung ini bisa bermanfaat, baik itu untuk mengantisipasi banjir-banjir dan juga bermanfaat juga untuk fasilitas olahraga, jogging dan lain sebagainya. Saya berharap fasilitas ini yang sudah dibangun oleh pemerintah, khususnya Pemerintah Provinsi DKI, bisa dirawat dengan baik dan juga dijaga kebersihannya, keindahannya agar suasana ini tetap asri,” ujarnya.