BRIN Kaji Penggunaan Es Kering untuk Atasi Inversi Suhu dalam Penanggulangan Karhutla

0
51

(Vibizmedia – Jakarta) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mendukung kajian ilmiah terhadap penggunaan es kering (dry ice) dalam operasi modifikasi cuaca untuk membantu penanggulangan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Pendekatan ini diteliti untuk mengetahui potensinya dalam memengaruhi kestabilan atmosfer, terutama ketika fenomena inversi suhu menghambat pertumbuhan awan hujan dan menyebabkan kabut asap bertahan di dekat permukaan.

Perekayasa Utama Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air BRIN, Florentinus Heru Widodo, menjelaskan bahwa inversi suhu merupakan kondisi ketika udara yang lebih hangat berada di atas lapisan udara yang lebih dingin. Situasi ini dapat menghambat pergerakan udara secara vertikal sehingga asap sulit menyebar ke lapisan atmosfer yang lebih tinggi.

Dalam kondisi atmosfer normal, suhu udara cenderung menurun seiring bertambahnya ketinggian. Perbedaan suhu tersebut memungkinkan udara hangat dari permukaan bergerak naik melalui proses konveksi dan mendukung pembentukan awan. Namun, ketika inversi terjadi, lapisan udara hangat bertindak seperti penghalang yang membatasi pergerakan tersebut.

“Lapisan inversi ini dapat diibaratkan sebagai penutup yang menghambat pergerakan udara ke atas. Akibatnya, asap dari kebakaran sulit menyebar secara vertikal dan semakin terkonsentrasi di dekat permukaan. Pada saat yang sama, kondisi atmosfer yang stabil juga menghambat pertumbuhan awan hujan,” jelas Heru dalam briefing bersama Tim Desk Terpadu Operasi Modifikasi Cuaca untuk Penanggulangan Karhutla di Posko Halim Perdanakusuma, Jakarta, Minggu (18/10/2026).

Salah satu metode yang tengah dievaluasi adalah pemanfaatan es kering, yakni karbon dioksida dalam bentuk padat yang memiliki suhu sekitar minus 78,5 derajat Celsius. Ketika dilepaskan ke atmosfer, es kering mengalami sublimasi atau perubahan langsung dari padat menjadi gas, dengan menyerap panas dari lingkungan sekitarnya.

Secara teoritis, proses tersebut dapat menimbulkan pendinginan lokal yang berpotensi memengaruhi perbedaan suhu dan kerapatan udara. Perubahan ini diharapkan dapat mendorong pencampuran udara secara vertikal dan, apabila kondisi atmosfer mendukung, membantu melemahkan kestabilan lapisan inversi.

Pendekatan tersebut berbeda dari penyemaian awan konvensional yang bertujuan meningkatkan peluang terjadinya hujan pada awan dengan kondisi yang sesuai. Penggunaan es kering dalam kajian ini lebih diarahkan untuk menguji kemungkinan perubahan kondisi termal pada lapisan atmosfer yang mengalami inversi.

Meski demikian, Heru menekankan bahwa mekanisme tersebut masih berupa hipotesis yang membutuhkan pembuktian melalui pengamatan dan analisis data. Efek pendinginan es kering tidak serta-merta menjamin lapisan inversi akan melemah atau awan hujan akan terbentuk.

“Penggunaan es kering diharapkan dapat menimbulkan pendinginan lokal dan memengaruhi kestabilan udara pada lapisan inversi. Namun, mekanisme ini masih merupakan hipotesis ilmiah. Kita harus menguji apakah perubahan yang dihasilkan benar-benar cukup untuk melemahkan inversi dan mendukung pertumbuhan awan,” ujarnya.

Tantangan lainnya adalah karakteristik lapisan inversi yang berbeda-beda, baik dari segi luas wilayah, ketebalan, maupun tingkat kestabilannya. Karena itu, perubahan suhu di satu titik belum tentu mampu memengaruhi kondisi atmosfer dalam cakupan yang lebih luas.

Untuk mengukur efektivitas metode tersebut, evaluasi perlu menggunakan data atmosfer sebelum, selama, dan setelah penyemaian. Langkah ini penting untuk mengetahui perubahan yang berkaitan dengan perlakuan modifikasi cuaca sekaligus membedakannya dari dinamika atmosfer yang terjadi secara alami.

BRIN dapat mendukung analisis dengan memanfaatkan data pengamatan dari instansi pelaksana operasi serta Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Parameter yang dikaji mencakup profil suhu udara pada berbagai ketinggian, kelembapan, ketinggian dan ketebalan lapisan inversi, serta tingkat kestabilan atmosfer.

Salah satu instrumen yang dapat digunakan adalah radiosonde, perangkat meteorologi untuk mengukur kondisi atmosfer secara vertikal. Data yang diperoleh dapat membantu mengidentifikasi posisi dan ketebalan lapisan inversi, sehingga perubahan kondisi atmosfer setelah perlakuan dapat dievaluasi secara lebih terukur.

Heru menegaskan, pengamatan yang sistematis diperlukan untuk memastikan apakah penggunaan es kering benar-benar memberikan pengaruh terhadap lapisan atmosfer yang menjadi sasaran.

“Kita ingin memastikan bahwa setiap teknologi yang digunakan dalam penanggulangan bencana memiliki dasar ilmiah yang kuat. Data pengamatan menjadi kunci untuk mengetahui apakah perlakuan yang diberikan benar-benar memengaruhi lapisan inversi, atau apakah perubahan kondisi yang terjadi juga dipengaruhi dinamika cuaca lainnya,” pungkasnya.

Kajian ini menjadi bagian dari upaya memperkuat penerapan teknologi penanggulangan karhutla berbasis bukti ilmiah. Efektivitas es kering untuk mengatasi kabut asap maupun mendukung pembentukan hujan masih harus dibuktikan melalui pengujian. Hasil evaluasi diharapkan dapat menjadi dasar bagi pengambilan keputusan dalam operasi modifikasi cuaca agar pelaksanaannya lebih terukur, tepat sasaran, dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.