Teh Kejek Garut Bertahan di Tengah Krisis Perkebunan

0
185
Teh Kejek

(Vibizmedia-Kolom) Di Cigedug, Jawa Barat, tradisi mengolah teh dengan cara diinjak menggunakan kaki masih dipertahankan di tengah menyusutnya perkebunan teh Indonesia. Di balik keunikan proses pembuatannya, teh kejek menghadapi tantangan regenerasi petani, penurunan kualitas bahan baku, dan tekanan ekonomi yang mengancam kelangsungan warisan budaya Sunda.

Teh Kejek, Warisan yang Bertahan Seabad

Di tengah perubahan industri teh Indonesia, sebuah tradisi pengolahan teh yang tidak biasa masih bertahan di Desa Cigedug, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Tradisi tersebut dikenal sebagai teh kejek, yaitu teh hijau yang diolah menggunakan teknik menginjak dan meremas daun dengan kaki. Proses ini menghasilkan karakter warna, aroma, dan cita rasa yang membedakannya dari produk teh lainnya. Keunikan tersebut menjadikan teh kejek bukan sekadar komoditas pertanian, melainkan juga bagian dari warisan budaya masyarakat Sunda.

Pembuatan teh kejek membutuhkan keterampilan, ketekunan, dan bahan baku berkualitas tinggi. Untuk menghasilkan satu hari produksi, diperlukan sekitar 150 kilogram daun teh pilihan. Jumlah tersebut menunjukkan besarnya kebutuhan bahan baku untuk mempertahankan produk tradisional yang masih mengandalkan keterampilan manusia. Ketika pasokan daun teh semakin terbatas, produsen menghadapi tantangan untuk menjaga volume produksi sekaligus mempertahankan kualitas yang menjadi ciri khas teh kejek.

Teh ini juga memiliki hubungan erat dengan tradisi Nyaneut, ritual minum teh masyarakat Sunda yang telah berlangsung setidaknya selama satu abad. Dalam tradisi tersebut, teh menjadi sarana untuk berkumpul, berbincang, dan mempererat hubungan sosial. Cara menyeduh dan meminum teh mengikuti tata cara yang diwariskan antargenerasi. Karena itu, berkurangnya produksi teh kejek tidak hanya mengancam sebuah produk lokal, tetapi juga berpotensi melemahkan tradisi budaya yang telah lama hidup di tengah masyarakat.

Dari Kebun hingga Pengolahan Tradisional

Rantai produksi teh kejek dimulai dari para pemetik yang mengumpulkan daun teh secara manual. Salah satunya adalah Sari, perempuan yang telah bekerja memetik sekaligus menjual daun teh selama sekitar sepuluh tahun. Dalam sehari, ia dapat mengumpulkan hingga 30 kilogram daun teh. Pekerjaan tersebut membutuhkan ketelitian karena kualitas bahan baku sangat menentukan karakter produk akhir. Bagi para pemetik, keberlangsungan industri teh berarti mempertahankan sumber pendapatan yang bergantung pada ketersediaan kebun dan permintaan produsen.

Daun yang digunakan untuk membuat teh kejek berasal dari pucuk tanaman teh. Bagian tersebut memberikan karakter rasa sedikit pahit yang menjadi salah satu ciri khasnya. Setelah dipetik, daun dijual kepada perajin yang mengolahnya menjadi produk siap dipasarkan. Hubungan antara pemetik dan pengolah menjadi bagian penting dari rantai usaha ini karena keduanya bergantung pada kualitas, kuantitas, dan kesinambungan pasokan bahan baku.

Salah satu produsen yang masih mempertahankan metode tersebut adalah Rahmat, yang telah menekuni pengolahan teh selama lebih dari lima dekade. Ia meneruskan usaha keluarga bernama Kejek Pak Oos di Garut. Pada dekade 1970-an dan 1980-an, menurut pengalaman Rahmat, terdapat ratusan pabrik pengolahan teh di wilayah tersebut. Kini, usaha keluarganya menjadi satu-satunya produsen teh kejek yang masih bertahan di distrik itu. Perubahan tersebut memperlihatkan bagaimana sebuah industri tradisional dapat menyusut ketika semakin banyak pelaku usaha berhenti beroperasi.

Proses Pengolahan yang Menentukan Cita Rasa

Sebelum memasuki tahap penginjakan, daun teh terlebih dahulu dipilah untuk memastikan hanya bahan berkualitas terbaik yang digunakan. Daun pilihan kemudian disangrai dalam kuali besar. Proses ini membantu mengeluarkan minyak alami daun sekaligus membuatnya lebih lentur untuk diolah pada tahap berikutnya. Selama penyangraian, daun harus terus dibolak-balik agar tidak saling menempel atau mengalami pemanasan yang tidak merata.

Selama sebagian besar perjalanan kariernya, Rahmat melakukan penyangraian menggunakan api terbuka. Pada 2018, ia berinvestasi pada mesin penyangrai untuk membantu proses produksi. Langkah ini menunjukkan bahwa mempertahankan tradisi tidak selalu berarti menolak teknologi modern. Peralatan baru dapat digunakan untuk meningkatkan efisiensi pada tahapan tertentu, sementara teknik pengolahan yang menjadi identitas teh kejek tetap dipertahankan. Bagi usaha kecil, tantangannya adalah menentukan investasi yang sesuai dengan kemampuan modal dan skala produksi.

Tahap paling khas kemudian dimulai, yaitu menginjak dan meremas daun teh menggunakan kaki. Kata kejek merujuk pada tindakan menginjak. Dalam satu proses, Rahmat menghabiskan sekitar 15 menit untuk menginjak dan meremas hingga lima kilogram daun teh. Tekanan tersebut membantu mengeluarkan cairan dari daun yang berkontribusi terhadap warna khas produk. Sebagian penikmat juga mengaitkan metode ini dengan aroma dan cita rasa yang berbeda dibandingkan teh yang diolah menggunakan teknik lain.

Setelah proses penginjakan selesai, daun teh kembali disangrai sebelum siap dijual. Produk tersebut kemudian dipasarkan melalui pedagang di pasar lokal. Setiap tahapan membutuhkan pengalaman untuk menentukan tingkat panas, kelenturan daun, dan intensitas pengolahan yang tepat. Pengetahuan semacam ini umumnya berkembang melalui praktik bertahun-tahun, sehingga keberlangsungannya sangat bergantung pada kesediaan generasi berikutnya untuk mempelajari keterampilan tersebut.

Penyusutan Perkebunan Mengancam Industri Teh

Indonesia memiliki sejarah panjang sebagai negara penghasil teh. Tanaman teh mulai diperkenalkan ke Nusantara pada abad ke-17, sedangkan perkebunan teh berkembang lebih luas sejak 1828. Industri ini kemudian tumbuh pesat, dan pada awal abad ke-20, teh Indonesia telah dipasarkan ke berbagai negara Eropa. Reputasi tersebut terbentuk melalui produksi perkebunan yang luas dan perdagangan yang menghubungkan daerah penghasil dengan pasar internasional.

Namun, sejarah panjang itu tidak menjamin industri teh akan terus berkembang. Dalam beberapa dekade terakhir, perkebunan yang menua dan penurunan kualitas daun menjadi persoalan bagi para pelaku usaha. Sebagian petani memilih beralih ke komoditas lain, seperti sayuran atau tanaman yang dinilai memberikan keuntungan lebih baik. Keputusan tersebut merupakan respons terhadap kebutuhan ekonomi rumah tangga, terutama ketika pendapatan dari teh tidak lagi sebanding dengan tenaga, waktu, dan biaya produksi.

Luas perkebunan teh Indonesia dilaporkan menyusut hampir 14% selama periode 2001–2020. Dalam kurun 19 tahun, lebih dari 56.000 acre lahan perkebunan teh dilaporkan telah hilang. Penyusutan ini memengaruhi ketersediaan bahan baku dan mempersempit ruang bagi usaha pengolahan untuk berkembang. Bagi produsen teh kejek, keterbatasan pasokan daun berkualitas dapat menghambat produksi sekaligus meningkatkan kesulitan mempertahankan mutu secara konsisten.

Dampaknya menjalar ke seluruh rantai industri. Sektor teh Indonesia diperkirakan melibatkan sekitar 300.000 orang, termasuk petani, pemetik, pekerja pengolahan, dan pedagang. Ketika kebun teh berkurang, para pemetik seperti Sari menghadapi risiko kehilangan sumber pendapatan. Produsen seperti Rahmat pun semakin sulit memperoleh bahan baku sesuai kebutuhan. Dengan demikian, penyusutan perkebunan bukan sekadar perubahan penggunaan lahan, melainkan persoalan ekonomi yang memengaruhi kehidupan masyarakat di daerah penghasil teh.

Produktivitas dan Regenerasi Menjadi Tantangan

Penyusutan lahan bukan satu-satunya masalah yang dihadapi industri teh. Keterbatasan dukungan, akses terhadap teknologi baru, serta pendidikan mengenai praktik pertanian yang lebih baik turut memengaruhi produktivitas dan kualitas hasil panen. Perkebunan yang tidak diperbarui secara memadai berisiko menghasilkan daun dengan kualitas yang kurang sesuai dengan kebutuhan pasar. Sementara itu, perbaikan kebun membutuhkan investasi, pengetahuan, dan perencanaan jangka panjang yang tidak selalu mudah dipenuhi oleh petani kecil.

Situasi tersebut menciptakan lingkaran yang sulit diputus. Ketika kualitas daun menurun, harga jual dan pendapatan petani dapat ikut tertekan. Pendapatan yang rendah kemudian mengurangi kemampuan mereka untuk memperbaiki kebun, membeli peralatan, atau menerapkan metode budidaya yang lebih produktif. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat membuat komoditas teh semakin kurang menarik dibandingkan tanaman lain yang dianggap lebih menguntungkan.

Regenerasi tenaga kerja juga menjadi persoalan penting. Pengolahan teh tradisional memerlukan pengalaman panjang, tetapi keterampilan tersebut akan semakin sulit diwariskan apabila generasi berikutnya tidak melihat prospek ekonomi yang memadai. Anak muda cenderung mempertimbangkan peluang pendapatan dan kestabilan pekerjaan sebelum memutuskan untuk meneruskan usaha keluarga. Tanpa perbaikan kondisi usaha, tradisi yang membutuhkan keterampilan khusus berisiko kehilangan orang-orang yang mampu menjalankannya.

Rahmat sendiri tidak lagi dapat mengandalkan produksi teh setiap hari. Untuk memenuhi kebutuhan hidup, ia juga menggembalakan domba dan menanam sayuran. Diversifikasi pekerjaan menjadi strategi bertahan ketika usaha teh tidak mampu memberikan penghasilan yang stabil. Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa kecintaan terhadap pekerjaan tradisional tidak selalu cukup untuk menjamin keberlanjutan usaha. Agar produksi tetap berjalan, diperlukan kondisi ekonomi yang memungkinkan pengolah memperoleh pendapatan layak dari keterampilan mereka.

Nyaneut Menjaga Hubungan Teh dan Budaya Sunda

Di tengah tantangan produksi, teh kejek masih memiliki tempat dalam kehidupan budaya masyarakat Sunda melalui tradisi Nyaneut. Tradisi ini tidak hanya berkaitan dengan jenis teh yang digunakan, tetapi juga dengan tata cara menyiapkan dan meminumnya. Dadan, seorang pegiat Nyaneut, telah menjalankan tradisi tersebut selama sekitar satu dekade dan membeli teh kejek dari Rahmat sejak 2016. Baginya, teh menjadi bagian dari praktik budaya yang perlu dipertahankan agar tidak terputus oleh perubahan zaman.

Dalam praktik Nyaneut, air dipanaskan menggunakan hawu, yaitu tungku tradisional berbahan tanah liat. Air panas kemudian dituangkan ke dalam teko berisi daun teh. Proses selanjutnya mengikuti sejumlah aturan yang diwariskan secara turun-temurun. Tata cara tersebut memberikan pengalaman yang berbeda dibandingkan kebiasaan minum teh sehari-hari karena menempatkan proses persiapan, penyajian, dan interaksi sosial sebagai bagian dari satu kesatuan tradisi.

Sebagian pelaku Nyaneut meyakini teh kejek memiliki manfaat kesehatan. Namun, keyakinan tradisional semacam itu tidak dengan sendirinya menjadi bukti medis atas manfaat tertentu. Nilai yang lebih jelas terlihat adalah fungsi sosialnya. Tradisi ini menyediakan ruang bagi masyarakat untuk berkumpul, berbagi cerita, dan menjaga hubungan antargenerasi. Dalam konteks tersebut, secangkir teh memiliki makna yang melampaui harga jualnya sebagai produk konsumsi.

Hubungan antara teh kejek dan Nyaneut juga memperlihatkan bagaimana sebuah produk lokal dapat bertahan karena memiliki makna budaya. Konsumen tidak hanya membeli minuman, tetapi juga mengenali sejarah dan praktik yang menyertainya. Nilai tersebut dapat menjadi keunggulan bagi pengembangan produk, selama pelestarian budaya dilakukan dengan menghormati masyarakat yang mewarisinya dan tetap memberikan manfaat ekonomi bagi para pelaku usaha.

Festival Budaya Membuka Peluang Pasar

Dadan melihat pelestarian Nyaneut sebagai salah satu cara untuk membantu mempertahankan industri teh di Jawa Barat. Ia menyelenggarakan festival tahunan yang bertujuan menjaga tradisi tersebut di kalangan masyarakat lokal sekaligus memperkenalkannya kepada wisatawan. Teh kejek buatan Rahmat menjadi bagian penting dalam kegiatan tersebut. Melalui festival, pengunjung dapat mengenal proses pembuatan teh sekaligus memahami hubungan antara pertanian, produk lokal, dan kebudayaan Sunda.

Kegiatan budaya seperti ini berpotensi menciptakan nilai tambah di luar penjualan teh dalam bentuk produk jadi. Demonstrasi pengolahan, kunjungan ke kebun, pengalaman menyeduh teh, dan kegiatan edukasi dapat dikembangkan sebagai bagian dari wisata berbasis budaya. Apabila dikelola dengan baik, kegiatan tersebut berpeluang memperluas pasar dan memperkenalkan teh kejek kepada konsumen yang sebelumnya tidak mengenal produk ini.

Meski demikian, festival budaya bukan solusi tunggal bagi persoalan struktural industri teh. Peningkatan jumlah pengunjung tidak otomatis menjamin kesejahteraan petani atau keberlanjutan produksi. Keberhasilan jangka panjang tetap bergantung pada ketersediaan bahan baku berkualitas, harga jual yang layak, dan kemampuan produsen menjaga konsistensi produk. Promosi perlu berjalan bersama perbaikan pada sisi produksi agar permintaan yang meningkat dapat dipenuhi secara berkelanjutan.

Manfaat ekonomi juga perlu menjangkau seluruh rantai usaha, mulai dari pemilik kebun dan pemetik hingga pengolah serta pedagang. Jika nilai tambah hanya dinikmati oleh sebagian pelaku, insentif untuk mempertahankan perkebunan dan keterampilan tradisional akan tetap terbatas. Sebaliknya, hubungan yang lebih baik antara petani, produsen, pelaku wisata, dan pasar dapat menciptakan alasan ekonomi yang lebih kuat untuk menjaga teh kejek tetap diproduksi.

Menjaga Tradisi agar Tetap Bernilai Ekonomi

Kisah teh kejek memperlihatkan bahwa warisan budaya dapat menghadapi ancaman bukan karena masyarakat kehilangan minat terhadap sejarahnya, melainkan karena kondisi ekonomi membuat tradisi tersebut semakin sulit dipraktikkan. Ketika lahan perkebunan menyusut, tenaga kerja berkurang, dan keuntungan usaha tidak menentu, keterampilan yang diwariskan selama puluhan tahun berisiko ikut menghilang. Pelestarian karena itu membutuhkan pendekatan yang menghubungkan kebudayaan dengan keberlanjutan usaha.

Perbaikan kualitas kebun, penggunaan teknologi yang sesuai, peningkatan keterampilan petani, serta pengembangan pasar untuk produk bernilai tambah dapat menjadi bagian dari upaya tersebut. Promosi melalui festival dan pariwisata budaya juga berpotensi memperkenalkan teh kejek kepada konsumen yang lebih luas. Namun, semua langkah tersebut perlu disertai perhatian terhadap kondisi para pemetik dan pengolah yang menjadi fondasi rantai produksi.

Bagi Rahmat, mempertahankan produksi teh merupakan bagian dari perjalanan hidup yang telah berlangsung selama lebih dari 50 tahun. Ia berencana terus membuat teh selama masih mampu menjalankannya. Ketekunan tersebut menjadi gambaran penting tentang peran individu dalam menjaga tradisi. Akan tetapi, masa depan teh kejek tidak dapat bergantung pada satu orang saja, terutama ketika produksi membutuhkan bahan baku yang cukup dan tenaga kerja dengan keterampilan khusus.

Agar tradisi ini bertahan melewati generasi berikutnya, diperlukan petani yang tetap menanam teh, pekerja yang bersedia mempelajari teknik pengolahan, konsumen yang menghargai produknya, serta ekosistem usaha yang memungkinkan semua pihak memperoleh penghasilan layak. Dukungan terhadap kualitas perkebunan dan pengembangan pasar menjadi sama pentingnya dengan upaya memperkenalkan nilai budaya teh kejek kepada masyarakat luas.

Teh kejek menawarkan pelajaran penting bagi pengembangan ekonomi berbasis warisan budaya. Tradisi tidak cukup hanya dikenang atau ditampilkan dalam festival, tetapi perlu terus dipraktikkan melalui kegiatan yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Selama nilai sejarah dan identitasnya dapat berjalan seiring dengan kelayakan ekonomi, teh kejek masih memiliki peluang untuk bertahan sebagai bagian dari kekayaan budaya dan industri teh Indonesia.