Neraca Perdagangan Indonesia Surplus USD10,61 Miliar hingga September 2026

0
191
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS RI, Ateng Hartono, menyampaikan paparan mengenai kinerja neraca perdagangan serta perkembangan ekspor dan impor Indonesia dalam konferensi pers Berita Resmi Statistik (BRS) di Jakarta, Senin (2/11/2026). (Sumber: YouTube BPS)
(Vibizmedia – Jakarta) Perdagangan luar negeri Indonesia masih mencatatkan kinerja positif sepanjang Januari hingga September 2026. Di tengah meningkatnya aktivitas ekspor dan impor, Indonesia berhasil mempertahankan surplus neraca perdagangan sebesar USD10,61 miliar. Capaian tersebut menunjukkan nilai ekspor nasional masih melampaui total impor.
Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan, surplus kumulatif tersebut turut ditopang oleh kinerja perdagangan pada September 2026 yang mencatatkan surplus sebesar USD3,36 miliar.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS RI, Ateng Hartono, menjelaskan bahwa surplus perdagangan selama sembilan bulan pertama 2026 terutama berasal dari sektor nonmigas. Sektor ini mencatatkan surplus sebesar USD34,21 miliar, sedangkan perdagangan migas masih mengalami defisit USD23,60 miliar.
Hal tersebut disampaikan Ateng dalam konferensi pers Rilis Berita Resmi Statistik (BRS) BPS di Jakarta, Senin (2/11/2026).
Dari sisi ekspor, nilai pengiriman barang Indonesia ke pasar internasional selama Januari–September 2026 mencapai USD221,23 miliar. Angka tersebut meningkat 5,58 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Pertumbuhan ekspor terutama didorong oleh komoditas nonmigas yang mencatatkan peningkatan sebesar 6,30 persen menjadi USD12,27 miliar.
Berdasarkan sektor usaha, industri pengolahan menjadi penyumbang ekspor terbesar dengan nilai mencapai USD182,83 miliar. Nilai tersebut tumbuh 8,93 persen dibandingkan periode Januari–September 2025.
Adapun pasar tujuan utama ekspor nonmigas Indonesia masih didominasi Tiongkok dengan nilai USD54,17 miliar atau berkontribusi 25,52 persen. Berikutnya adalah Amerika Serikat sebesar USD25,39 miliar atau 11,96 persen, serta India dengan nilai USD15 miliar atau 7,07 persen.
Sementara itu, aktivitas impor juga mengalami peningkatan cukup signifikan. BPS mencatat nilai impor Indonesia sepanjang Januari–September 2026 mencapai USD210,63 miliar, atau naik 19,67 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Kenaikan tersebut berasal dari impor nonmigas yang meningkat 16,92 persen menjadi USD178,06 miliar. Sementara itu, impor migas mengalami pertumbuhan lebih tinggi, yakni 37,35 persen, dengan nilai mencapai USD32,57 miliar.
Jika dilihat berdasarkan kelompok penggunaan, kebutuhan bahan baku dan barang penolong masih mendominasi struktur impor nasional. Nilainya mencapai USD150,57 miliar atau meningkat 21,11 persen.
Selanjutnya, impor barang modal tercatat sebesar USD41,55 miliar, tumbuh 16,49 persen. Adapun impor barang konsumsi mencapai USD18,51 miliar atau mengalami kenaikan 15,54 persen.
Dari sisi negara pemasok, Tiongkok tetap menjadi mitra utama impor nonmigas Indonesia dengan nilai mencapai USD76,16 miliar atau mencakup 42,77 persen dari keseluruhan impor nonmigas. Jepang berada di urutan berikutnya dengan nilai USD10,04 miliar atau 5,64 persen, disusul Australia sebesar USD8,07 miliar atau 4,53 persen.
BPS juga mengidentifikasi sejumlah komoditas yang memberikan kontribusi besar terhadap surplus perdagangan nonmigas Indonesia. Lemak dan minyak hewani atau nabati menjadi penyumbang terbesar dengan surplus USD29,31 miliar.
Komoditas lainnya meliputi bahan bakar mineral dengan surplus USD21,42 miliar, besi dan baja sebesar USD13,95 miliar, nikel dan barang daripadanya sebesar USD9,52 miliar, serta alas kaki yang mencatatkan surplus USD4,86 miliar.
Kinerja tersebut memperlihatkan bahwa sektor nonmigas masih menjadi penopang utama surplus perdagangan Indonesia. Meskipun nilai impor tumbuh lebih cepat dibandingkan ekspor, surplus neraca perdagangan tetap terjaga hingga akhir September 2026.