Ekonomi Indonesia Tangguh, Ekspor dan Manufaktur Menguat di Kuartal III

0
209
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan keterangan pers usai rapat kabinet di Jakarta, Senin (2 Nov 2026). (Foto : Tangkapan layar YouTube BMPI Setpres)
(Vibizmedia – Economy & Business) Perekonomian Indonesia menunjukkan momentum penguatan menjelang pengumuman pertumbuhan ekonomi triwulan III 2026 pada 5 November mendatang. Indikasi positif tercermin dari tiga indikator utama yang dirilis pada 2 November 2026, yakni inflasi yang tetap terkendali, neraca perdagangan yang kembali mencatat surplus, serta aktivitas manufaktur yang mencapai ekspansi tertinggi dalam lebih dari dua tahun terakhir.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, ketiga indikator tersebut menunjukkan fondasi ekonomi nasional tetap kuat di tengah ketidakpastian global. Pemerintah akan terus menjaga keseimbangan antara stabilitas harga dan pertumbuhan melalui penguatan investasi, aktivitas industri, serta daya saing produk nasional.

Dari sisi stabilitas harga, inflasi Oktober 2026 tercatat sebesar 3,23 persen secara tahunan (year-on-year/yoy), masih berada dalam sasaran nasional 2,5±1 persen. Inflasi inti bahkan melandai menjadi 2,56 persen, sementara inflasi harga yang diatur pemerintah (administered prices) terkendali pada 3,24 persen.

Namun, inflasi pangan bergejolak (volatile food) meningkat menjadi 5,81 persen akibat kenaikan harga cabai rawit, cabai merah, dan tomat seiring penurunan produksi akibat musim kemarau yang diperpanjang fenomena El Niño.

Pemerintah memperkuat ketahanan produksi dan distribusi pangan melalui optimalisasi irigasi, pengaturan pola tanam, pemetaan wilayah rawan, serta kerja sama antardaerah. Langkah ini juga ditujukan untuk menjaga pasokan dan keterjangkauan harga menjelang Natal dan Tahun Baru (Nataru), ketika permintaan masyarakat berpotensi meningkat.

Sementara itu, kinerja perdagangan luar negeri tetap memberikan kontribusi positif. Neraca perdagangan September 2026 mencatat surplus USD3,36 miliar, melanjutkan tren surplus selama tiga bulan berturut-turut. Nilai ekspor mencapai USD27,59 miliar, meningkat 3,68 persen secara bulanan dan 11,87 persen secara tahunan. Kenaikan tersebut didukung membaiknya harga sejumlah komoditas utama, seperti batu bara, gas alam, minyak kelapa sawit, karet alam, serta bijih besi dan tembaga.

Peluang ekspor juga semakin terbuka melalui program hilirisasi dan perluasan akses pasar. Indonesia telah mengimplementasikan 25 perjanjian perdagangan internasional, sementara 13 perjanjian lainnya masih dalam proses perundingan. Pemberlakuan Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA) diharapkan semakin memperluas akses produk Indonesia ke pasar Eropa.

Dari sisi impor, nilainya tercatat USD24,23 miliar. Impor barang baku dan penolong meningkat 24,65 persen yoy, sedangkan impor barang modal naik 1,25 persen yoy. Perkembangan ini mencerminkan kebutuhan industri terhadap bahan produksi, mesin, dan peralatan untuk mendukung kapasitas usaha. Adapun impor migas turun 7,35 persen secara bulanan menjadi USD3,27 miliar.

Penguatan aktivitas industri terlihat dari Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia yang naik menjadi 54,0 pada Oktober 2026, dari 52,4 pada bulan sebelumnya. Angka tersebut menandai ekspansi selama dua bulan berturut-turut sekaligus menjadi kinerja manufaktur terkuat sejak Maret 2024.

Peningkatan ini ditopang permintaan baru yang tumbuh paling cepat dalam lima tahun terakhir serta pesanan ekspor baru yang mencatat pertumbuhan tertinggi sejak survei dimulai pada April 2011. Aktivitas produksi, pembelian bahan baku, dan persediaan juga meningkat untuk memenuhi kebutuhan pasar.

Untuk mempertahankan momentum tersebut, pemerintah melanjutkan dukungan pembiayaan sektor produktif melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR), Kredit Alsintan, Kredit Industri Padat Karya (KIPK), dan Kredit Program Perumahan. Peningkatan kompetensi tenaga kerja melalui program magang dan pelatihan vokasi juga terus didorong.

Dengan inflasi yang terkendali, surplus perdagangan yang berlanjut, serta ekspansi manufaktur yang semakin kuat, ketiga indikator tersebut memberikan sinyal positif bagi prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan III 2026.