Pemerintah Bidik Internet 100 Mbps di Rumah dengan Tarif Sekitar Rp140 Ribu

0
70
Wakil Menteri Komunikasi dan Digital, Nezar Patria, saat memberikan keterangan dalam wawancara bersama CNBC Indonesia di Kantor Kemkomdigi, Jakarta Pusat. (Foto: Kemkomdigi)
(Vibizmedia – Jakarta) Pemerintah menargetkan masyarakat dapat menikmati layanan internet tetap (fixed broadband) berkecepatan 100 Mbps dengan tarif sekitar Rp140 ribu atau di bawah Rp200 ribu per bulan melalui percepatan pembangunan jaringan fiber optik hingga ke rumah-rumah.
Langkah ini menjadi salah satu fokus Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) dalam memperluas akses internet yang lebih terjangkau, sekaligus memperkuat dukungan terhadap aktivitas ekonomi, pendidikan, pekerjaan, dan layanan digital masyarakat.
Wakil Menteri Komunikasi dan Digital, Nezar Patria, mengatakan perluasan jaringan fixed broadband merupakan strategi penting untuk meningkatkan kualitas konektivitas nasional sekaligus menekan biaya akses internet bagi masyarakat.
Menurutnya, pembangunan jaringan fiber optik harus diperluas agar layanan internet berkecepatan tinggi tidak hanya terkonsentrasi di kawasan bisnis maupun perkotaan, tetapi juga dapat dinikmati oleh rumah tangga di berbagai wilayah sehingga satu koneksi dapat digunakan bersama oleh seluruh anggota keluarga.
“Internet bisa ditekan biayanya menjadi lebih murah dengan cara memperluas fixed broadband. Kita perlu memperluas jaringan fiber optik agar bisa masuk ke rumah tangga sehingga koneksinya bisa digunakan bersama oleh keluarga,” ujar Nezar Patria dalam wawancara dengan CNBC Indonesia di Kantor Kemkomdigi, Jakarta Pusat, seperti dikutip pada Jumat (30/10/2026).
Ia menjelaskan, pemerintah membidik layanan internet berkecepatan 100 Mbps dengan biaya sekitar Rp140 ribu atau di bawah Rp200 ribu per bulan. Skema tersebut dinilai mampu memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar karena satu sambungan internet dapat dimanfaatkan oleh seluruh anggota keluarga untuk berbagai kebutuhan, mulai dari belajar, bekerja, hingga menjalankan usaha.
“Dengan kecepatan 100 Mbps, masyarakat bisa membayar sekitar Rp140 ribu atau di bawah Rp200 ribu. Ini akan memberikan dampak ekonomi yang cukup tinggi bagi masyarakat,” jelasnya.
Selain mempercepat pembangunan jaringan fiber optik, pemerintah juga mendorong penguatan konektivitas seluler melalui peningkatan pemanfaatan teknologi 5G. Saat ini, tingkat adopsi layanan 5G di Indonesia masih berada di bawah 10 persen dan ditargetkan meningkat hingga mendekati 30–40 persen dalam kurun tiga hingga lima tahun mendatang.
“Penguatan infrastruktur menjadi yang pertama dan paling penting. Kita akan meningkatkan adopsi teknologi 5G yang saat ini masih di bawah 10 persen, dengan target mendekati 30 hingga 40 persen dalam tiga sampai lima tahun ke depan,” ungkap Nezar.
Pemerintah berharap kombinasi pengembangan jaringan fiber optik dan perluasan teknologi 5G dapat memperluas akses masyarakat terhadap layanan internet yang cepat, stabil, dan terjangkau. Konektivitas yang semakin baik juga diharapkan menjadi fondasi bagi peningkatan pemanfaatan teknologi digital dalam pendidikan, dunia kerja, pengembangan usaha, hingga akses terhadap berbagai layanan publik.
Melalui percepatan pembangunan infrastruktur digital tersebut, Kemkomdigi berupaya menciptakan ekosistem digital yang lebih inklusif dan memperluas partisipasi masyarakat dalam pertumbuhan ekonomi digital Indonesia.