
(Vibizmedia – Jakarta) Pemerintah mendorong seluruh operator telekomunikasi nasional untuk memperkuat sinergi melalui strategi Indonesia Incorporated. Langkah ini bertujuan agar Indonesia tidak sekadar menjadi pasar bagi perusahaan kecerdasan artifisial (AI) global, tetapi juga mampu meraih nilai ekonomi yang lebih besar dari perkembangan teknologi tersebut.
Sekretaris Jenderal Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi), Ismail, menilai pengalaman industri telekomunikasi dalam menghadapi ekspansi perusahaan over the top (OTT) dapat menjadi pembelajaran penting ketika Indonesia memasuki era AI.
Ia mengingatkan, apabila setiap operator menghadapi perkembangan AI secara terpisah, Indonesia berpotensi kembali hanya menjadi pasar sekaligus jalur distribusi bisnis perusahaan teknologi global. Kondisi tersebut dapat membuat sebagian besar keuntungan justru dinikmati oleh perusahaan asing.
“Kalau pendekatan ini berjalan terus, kita akan menyiapkan karpet merah buat pemain global dan kita hanya menjadi pasar. Para operator hanya akan menjadi saluran bisnis mereka, jadi kita dapat remah-remahnya saja,” ujar Ismail dalam diskusi panel Lintas Teknologi Solutions Day 2026 di Jakarta Timur, Sabtu (31/10/2026).
Untuk menghindari kondisi tersebut, Kemkomdigi menginisiasi dialog antara pemerintah dan operator telekomunikasi guna merumuskan model bisnis serta strategi negosiasi bersama perusahaan teknologi global. Dalam hal ini, pemerintah akan bertindak sebagai orkestrator yang mengonsolidasikan kekuatan pasar nasional sehingga Indonesia memiliki posisi tawar lebih baik.
“Komdigi hadir menjadi orkestrator untuk membantu memperbaiki model bisnis ini dulu. Untuk diskusi ke depan, bersama para global player, pemerintah dan para telko harus duduk satu meja agar posisi tawar kita kuat. Karena kita punya pasar,” tegasnya.
Menurut Ismail, pendekatan Indonesia Incorporated perlu diterapkan untuk memperkuat posisi Indonesia di berbagai lapisan ekosistem AI. Upaya tersebut mencakup investasi dan negosiasi secara kolektif, sehingga tidak dilakukan secara terpisah oleh masing-masing perusahaan.
Ia menegaskan bahwa kekuatan Indonesia akan lebih besar apabila seluruh pelaku industri membangun kepentingan bersama dalam menghadapi perusahaan teknologi global.
“Kalau kita belanja sendiri-sendiri atau mengeluarkan negosiasi sendiri-sendiri, pasti akan berbeda ketika kita bicara Indonesian Incorporated untuk setiap stack itu. Kita harus membangun daya tawar sebagai bangsa, bukan sebagai perusahaan yang datang sendiri-sendiri,” jelas Ismail.
Lebih lanjut, ia menyatakan bahwa persaingan antaroperator tetap dibutuhkan untuk mendorong peningkatan kualitas layanan kepada masyarakat. Meski demikian, terdapat sejumlah sektor strategis yang perlu dikembangkan melalui kerja sama agar kepentingan nasional dapat diperjuangkan secara lebih optimal.
“Masalah AI ini adalah masalah kedaulatan bangsa ke depan. Di sana ada kedaulatan data, ada kedaulatan digital. Operator saling bersaing, wajar. Namun, kita harus cari di bagian mana yang kita tidak harus bersaing,” ungkapnya.
Melalui strategi kolaborasi tersebut, pemerintah berharap industri telekomunikasi Indonesia dapat memiliki daya tawar yang lebih kuat di tengah persaingan teknologi global. Selain meningkatkan manfaat ekonomi dari perkembangan AI, langkah ini juga diharapkan mampu menjaga kedaulatan data dan digital nasional.








