Pemerintah Perkuat Ketahanan Energi, Siapkan E20 hingga E50 dan Tambah Cadangan Minyak

0
98
Kabinet Merah Putih
Presiden Prabowo Subianto menggelar rapat terbatas bersama sejumlah menteri Kabinet Merah Putih di Istana Merdeka, Jakarta, pada Selasa, 3 November 2026. FOTO: BIRO PERS SETPRES

(Vibizmedia-Nasional) Presiden Prabowo Subianto membahas langkah strategis memperkuat ketahanan energi nasional di tengah ketidakpastian ekonomi global dan dinamika geopolitik. Pemerintah menyiapkan pengembangan bioetanol E20 hingga E50, mempertahankan program biodiesel B50, serta membangun fasilitas penyimpanan minyak untuk memperkuat cadangan energi nasional.

Pembahasan tersebut berlangsung dalam rapat terbatas bersama sejumlah menteri Kabinet Merah Putih di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (3/11/2026).

Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, mengatakan Presiden Prabowo secara khusus menanyakan kesiapan pemerintah dalam menerapkan program bioetanol E20 sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan energi.

“Saya kebetulan dari sektor energi. Bapak Presiden menanyakan kesiapan tentang implementasi daripada E20 dalam rangka mendorong ketahanan energi kita,” ujar Bahlil seusai rapat.

Menurut Bahlil, pemerintah telah menyiapkan rencana strategis pengembangan bioetanol secara bertahap, mulai dari E20 hingga E50. Program ini akan melibatkan kerja sama lintas kementerian, terutama Kementerian ESDM dan Kementerian Pertanian, untuk memastikan kesiapan pasokan bahan baku hingga implementasinya.

Pengembangan bioetanol tersebut juga menjadi bagian dari upaya pemerintah mengurangi ketergantungan terhadap energi berbasis minyak sekaligus memperkuat pemanfaatan sumber energi domestik.

Di tengah ketidakpastian geopolitik global, pemerintah juga memastikan program biodiesel B50 tetap dilanjutkan.

“E20 sampai dengan E50 dan kami sudah menyiapkan renstranya. Saya dengan Pak Mentan, karena hulunya itu adalah kolaborasi antara Pak Mentan dengan ESDM. Dan menyangkut dengan B50 tetap kita pertahankan, karena ini adalah geopolitik yang tidak pernah kita tahu ujungnya ke mana,” kata Bahlil.

Selain mengembangkan energi berbasis nabati, pemerintah juga menyiapkan pembangunan fasilitas penyimpanan minyak (storage) di sejumlah wilayah Sumatra.

Langkah ini dilakukan untuk meningkatkan kapasitas penyimpanan minyak mentah yang diimpor Indonesia, sehingga pasokan energi nasional memiliki cadangan yang lebih kuat ketika terjadi gangguan distribusi maupun gejolak global.

Bahlil mengatakan pemerintah menargetkan fasilitas penyimpanan tersebut mampu menampung cadangan minyak untuk kebutuhan lebih dari 20 hari, dengan target jangka panjang mencapai 60 hari.

“Di samping itu kita akan membangun storage beberapa di wilayah Sumatra untuk ketika kita melakukan impor crude, itu semuanya bisa ada tempatnya di atas 20 hari. Target kita bisa sampai dengan 60 hari,” jelasnya.

Menurut Bahlil, studi kelayakan pembangunan fasilitas penyimpanan minyak tersebut telah selesai. Pemerintah selanjutnya akan melakukan peninjauan lokasi pada akhir tahun ini, termasuk memastikan aspek keamanan dan keselamatan fasilitas.

Pemerintah, katanya, tidak hanya mempertimbangkan kapasitas penyimpanan, tetapi juga potensi risiko yang dapat ditimbulkan dari pembangunan fasilitas tersebut.

“Salah satu di antaranya adalah kita rancang jangan sampai kondisi di mana kita meletakkan storage itu punya peluang atau potensi besar untuk jadi bencana. Itu kan menyangkut keselamatan,” tegas Bahlil.

Pengembangan bioetanol E20 hingga E50, keberlanjutan biodiesel B50, serta peningkatan kapasitas penyimpanan minyak menjadi bagian dari strategi pemerintah menghadapi ketidakpastian pasokan dan harga energi dunia.

Melalui langkah tersebut, pemerintah berupaya memperkuat ketersediaan energi domestik, meningkatkan pemanfaatan sumber daya dalam negeri, serta membangun cadangan strategis yang lebih memadai.

Di tengah dinamika geopolitik yang sulit diprediksi, penguatan ketahanan energi menjadi salah satu upaya menjaga stabilitas pasokan dan mengurangi risiko terhadap perekonomian nasional.