Inflasi Terkendali, Manufaktur Menguat, Pemerintah Optimistis Ekonomi Tetap On Track

0
107
Kabinet Merah Putih
Presiden Prabowo Subianto menggelar rapat terbatas bersama sejumlah menteri Kabinet Merah Putih di Istana Merdeka, Jakarta, pada Selasa, 3 November 2026. FOTO: BIRO PERS SETPRES

(Vibizmedia-Nasional) Pemerintah optimistis perekonomian Indonesia tetap berada pada jalur positif menjelang akhir 2026. Inflasi masih berada dalam rentang sasaran, aktivitas manufaktur menunjukkan penguatan, sementara arus modal asing tetap masuk ke pasar keuangan domestik.

Perkembangan tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam rapat terbatas bersama sejumlah menteri Kabinet Merah Putih di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (3/11/2026). Rapat juga membahas pengelolaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), khususnya optimalisasi penerimaan dan efektivitas belanja pemerintah pada dua bulan terakhir tahun anggaran.

Menteri Keuangan Suahasil Nazara mengatakan, kondisi ekonomi nasional masih menunjukkan perkembangan yang sesuai dengan proyeksi pemerintah. Salah satu indikatornya adalah inflasi yang tercatat sebesar 3,23% dan masih berada dalam rentang sasaran pengendalian harga.

“Kita tadi menyampaikan kepada Bapak Presiden mengenai perkembangan ekonomi terkini. Kemarin kan keluar data rilis dari BPS mengenai inflasi 3,23 persen itu di dalam range yang memang menjadi sasaran target dari inflasi Indonesia. Jadi ini on track inflasinya,” ujar Suahasil seusai rapat.

Pemerintah menetapkan sasaran inflasi sebesar 2,5% dengan toleransi plus minus 1%, sehingga rentang target berada pada 1,5% hingga 3,5%.

Dengan inflasi sebesar 3,23%, pemerintah menilai perkembangan harga masih sesuai dengan sasaran yang telah ditetapkan. Kondisi ini menjadi salah satu indikator penting dalam menjaga stabilitas ekonomi dan daya beli masyarakat.

Selain inflasi, pemerintah mencermati penguatan aktivitas manufaktur nasional yang tercermin dari Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Indonesia.

Suahasil mengungkapkan, indeks PMI meningkat dari kisaran 52 menjadi 54 pada Oktober 2026. Kenaikan tersebut menunjukkan optimisme pelaku usaha terhadap prospek permintaan pasar.

Menurutnya, meningkatnya PMI menjadi sinyal bahwa pengusaha mulai mempersiapkan peningkatan produksi, termasuk dengan menambah pembelian bahan baku dan input produksi.

“Jadi meningkat, ini menunjukkan bahwa para pengusaha kita membayangkan bahwa akan ada peningkatan permintaan karena itu pengusaha mulai siap-siap untuk meningkatkan produksi dengan membeli input lebih banyak,” jelasnya.

Penguatan manufaktur menjadi perhatian pemerintah karena sektor ini berperan dalam mendorong aktivitas ekonomi, meningkatkan produksi barang, serta memperkuat kontribusi industri terhadap perekonomian nasional.

Dalam rapat tersebut, pemerintah juga membahas perkembangan arus modal asing yang masuk ke pasar keuangan Indonesia.

Suahasil melaporkan, aliran modal asing masih tercatat masuk melalui instrumen Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).

Perkembangan tersebut menjadi bagian dari pemantauan pemerintah terhadap kondisi pasar keuangan domestik di tengah dinamika ekonomi global.

Di sisi fiskal, pemerintah memastikan realisasi pendapatan dan belanja APBN hingga akhir Oktober 2026 masih berjalan sesuai rencana.

Namun, pemerintah menghadapi pekerjaan besar pada November dan Desember, terutama untuk mengoptimalkan penerimaan negara sekaligus memastikan belanja pemerintah terserap secara efektif.

Suahasil mengatakan, pemerintah masih harus mengumpulkan penerimaan negara sekitar Rp600 triliun lebih dalam dua bulan terakhir. Sementara itu, belanja negara yang masih perlu direalisasikan mencapai sekitar Rp990 triliun.

“Kemudian saya juga tadi sempat melaporkan APBN untuk tutup bulan Oktober di mana semuanya on track untuk pendapatan dan belanja. Dan kira-kira untuk pendapatan negara kami harus mengumpulkan lagi November-Desember ini sekitar 600 triliun lebih dan untuk belanja negara masih sekitar 990 triliun akan dibelanjakan,” kata Suahasil.

Besarnya target tersebut membuat pemerintah perlu menjaga keseimbangan antara percepatan realisasi anggaran dan kualitas pelaksanaan belanja negara.

Pemerintah memberikan perhatian khusus terhadap pola penyerapan anggaran yang biasanya meningkat menjelang akhir tahun.

Suahasil menjelaskan, percepatan belanja pada November dan Desember dapat dilakukan selama tetap mengedepankan efisiensi, tata kelola yang baik, serta pencapaian target keluaran atau output yang telah direncanakan.

“Dua bulan terakhir seperti biasa namanya operasi APBN itu kalau di akhir tahun biasanya itu ngegas lebih cepat, lebih besar itu silahkan tetapi harus tetap efisien. Harus tetap dalam tata kelola yang baik dan tentu harus dilakukan sesuai dengan target output yang dicanangkan ketika meminta anggaran tersebut,” tegasnya.

Dengan inflasi yang masih berada dalam sasaran, manufaktur yang menunjukkan penguatan, serta pengelolaan APBN yang terus dipantau, pemerintah berupaya menjaga momentum pertumbuhan ekonomi hingga akhir 2026.

Fokus berikutnya adalah memastikan penerimaan negara tetap optimal dan belanja pemerintah memberikan manfaat nyata bagi perekonomian, tanpa mengabaikan efisiensi dan kualitas penggunaan anggaran.