(VibizMedia– Commodity) – Harga minyak sawit tidak dapat bertahan di harga tertinggi pada minggu lalu, karena pergerakan harga minyak mentah dan minyak kedelai yang turun dari harga tertingginya.
Di Indonesia permintaan domestik minyak sawit masih tetap naik karena penggunaan biodiesel B30, untuk mengurangi import bensin, anjuran dari pemerintah dilaksanakan penggunaannya.
Produksi minyak sawit Indonesia turun masih belum ditingkatkan karena pandemi dan masalah cuaca, walaupun cuaca di Indonesia mulai kembali normal.
Pergerakan harga minyak sawit pada minggu ke empat bulan Maret tahun 2021 ini dari tanggal 22 Maret – 26 Maret 2021.
Harga minyak sawit terus turun dari harga tertinggi 13 tahun pada hari Senin 22 Maret, pada seminggu ini harga minyak sawit turun 0.9%, dan ditutup ke harga terendah 3 minggu terendah sejak 3 Maret 2021.
Pergerakan harga minyak sawit pada minggu ini masih digerakkan oleh faktor fundamental diluar minyak sawit, yaitu dari harga minyak mentah dan harga minyak kedelai, sedangkan untuk faktor fundamental dari produk minyak sawit adalah produksi minyak sawit global sudah meningkat lagi seiring dengan cuaca yang sudah kembali normal di Indonesia dan Malaysia.
Pergerakan harga minyak sawit pada minggu ke empat bulan Maret :
• Harga minyak sawit Juni pada penutupan pasar hari Jumat 26 Maret 2021 turun 168 ringgit atau 4.4% menjadi 3,695 ringgit ($891.54) per ton, turun ke harga terendah sejak 3 Maret.
• Harga minyak sawit Juni pada hari Kamis 25 Maret 2021 di Bursa Malaysia Derivatives Exchange turun 54 ringgit atau 1.38% menjadi 3,869 ringgit ($933.64) per ton setelah turun sebesar 2.5% .
• Harga minyak sawit Juni pada hari Rabu 24 Maret 2021 di Bursa Malaysia Derivatives Exchange ditutup turun 7 ringgit (0.17%) menjadi 3,923 ringgit ($949.88) per ton nyaris tidak berubah dari hari sebelumnya setelah sempat turun ke harga 3,862 ringgit pada pertengahan pasar.
• Harga minyak sawit Juni pada penutupan pasar hari Selasa 23 Maret 2021 naik 87 ringgit atau 2.26% menjadi 3,930 ringgit ($953.88) per ton. Selama perdagangan hari Selasa harga minyak sawit sempat naik 4.4%.
• Harga minyak sawit Juni pada penutupan hari Senin tanggal 22 Maret 2021 di Bursa Malaysia Derivatives Exchange naik 113 ringgit atau 3.03% menjadi 3,837 ringgit per ton.
Faktor penggerak kenaikan harga minyak sawit:
• Ekspor minyak sawit Malaysia dari 1 – 25 Maret naik 10.4% dari bulan lalu menjadi 1,017,730 ton menurut AmSpec Agri Malaysia.
• Persediaan minyak sawit Indonesia, negara penghasil minyak sawit terbesar di dunia akan turun setengahnya menjadi 2.67 juta ton pada akhir 2021 karena kenaikan permintaan tidak disertai dengan produksi yang besar. Persediaan turun 45% mencapai rekor terendah dari 4.87 juta ton pada akhir 2020 menurut the Indonesian Palm Oil Association.
• Total permintaan minyak sawit dari ekspor dan permintaan domestik naik 9% dari tahun lalu.
• Ekspor naik 37.6 juta ton di 2021 dari 34 Juta ton tahun lalu, sementara konsumsi lokal tinggi di biodiesel dan olein.
• Konsumsi global minyak sawit akan kembali naik ke 1 juta ton di 2020/21, sehingga harga minyak nabati kembali naik dalam empat minggu ke depan
• Harga minyak mentah naik setelah pada hari sebelumnya sempat turun sehingga harga biodiesel bisa naik, dan harga minyak sawit juga naik.
• Mandat penggunaan B30 bahan bakar diesel yang berisi 30% fatty acid methyl ester (FAME) dari minyak sawit, membuat permintaan akan minyak sawit lokal meningkat.
• Keputusan Biden untuk menggunakan minyak nabati membuat harga minyak nabati meningkat ke harga tertinggi, sehingga membuat konsumen India dan Afrika khawatir karena akan membuat inflasi global untuk harga bahan makanan menjadi naik. Harga minyak kedelai naik tinggi pada perdagangan malam hari dan di pasar Asia pada perdagangan pagi hari. Hal ini membuat minyak kedelai lebih banyak lagi dibuat, sementara itu produksi minyak sawit juga akan meningkat lagi. Pasar akan terus melihat perkembangan dari harga minyak kedelai untuk beberapa hari ini.
Pada minggu ini yang menyebabkan penurunan harga minyak sawit:
• Harga minyak sawit turun karena turunnya harga kedelai setelah naik empat hari berturut-turun, melemahnya harga minyak mentah, turunnya penjualan ekspor kedelai AS, sehingga harga minyak kedelai turun 0.3%.
• Indonesia menaikkan biaya restribusi ekspor untuk membiayai program B 30 setelah pandemi covid menurunkan harga minyak mentah.
• Produksi sawit di Asia Tenggara terganggu karena cuaca La Nina pada tahun lalu namun produksi masih naik 4% dari 2020 menjadi 49 juta ton
• Perkiraan harga minyak sawit Indonesia antara $1,000 – $1,150 per ton pada pertengahan tahun ini. Rata-rata harga panduan CPO di Bursa Malaysia sebesar 3,638 ringgit ($883.01) per ton tahun ini.
• Produksi minyak sawit global naik kembali menjadi 3.2 juta ton di 2020/21, produksi minyak sawit Indonesia sebesar 3.3 juta ton sedangkan produksi Malaysia sebesar 500,000 ton di 2020/21, menurut analis Oil World pada Virtual Palm and Lauric Oils Price Outlook Conferense.
• Harga minyak mentah yang turun karena lockdown yang terjadi di Eropa akibat pandemi covid gelombang ke 3, membuat harga minyak sawit turun karena permintaan biodiesel berkurang.
• Kurs ringgit melemah 0.2% terhadap dolar sehingga harga minyak sawit menjadi murah bagi pembeli di luar Malaysia.
• Harga minyak sawit tidak bisa bertahan lama di harga tertingginya pada hari Selasa karena pada akhir pasar trader melakukan penjualan karena melihat bahwa produksi minyak sawit meningkat, sementara permintaan belum naik.
• Indonesia, negara produsen minyak sawit terbesar di dunia mengumumkan harga referensi untuk bulan April naik ke $1,093.83 per ton sehingga akan meningkatkan pajak ekspor, menurut Laporan dari Departemen Perdagangan Indonesia.
• Ekspor biodiesel berbasis minyak sawit Malaysia turun ke jumlah terendah sejak 2017, karena Uni Eropa melakukan lockdown dan pembatasan perjalanan akibat pandemi covid gelombang ke -3 menurut Malaysian Biodiesel Association ( MBA).
• Cuaca yang sudah membaik dan penggunaan pupuk yang membaik dan kenaikan harga minyak sawit membuat produksi minyak sawit Indonesia meningkat dan ekspor tertinggi di 2021/22 menurut laporan the US Departemen Agriculture Foreign Agricultural Service di Jakarta pada laporannya hari Sabtu lalu
• USDA’s Ag Attache memperkirakan produksi minyak sawit Indonesia di 2021/22 sebesar 45.5 MMT, naik 2 MMT dari tahun lalu apabila terjadi. The Attache office memperkirakan persediaan akhir minyak sawit di 2020/21 sebesar 1.25 MMT diatas perkiraan USDA yang resmi sebesar 3.880 MMT
• Di negara pembeli minyak sawit terbesar dunia, India, terjangkit virus covid yang terbaru sehingga diperkirakan menghalangi lonjakan permintaan untuk bulan Ramadhan.Seperti biasanya dua bulan sebelum bulan Puasa umat Muslim yang dimulai tanggal 13 April, ada kenaikan permintaan minyak sawit.
Kesimpulan :
Pada minggu ini harga minyak sawit hanya naik 2 hari pertama di awal minggu dan tidak bisa kembali lagi ke harga diatas 4,000 ringgit.
Dengan adanya lockdown di Eropa membuat permintaan bahan bakar kembali turun akibatnya permintaan akan biodiesel juga menurun membuat harga minyak sawit akan turun.
Produksi minyak sawit akan kembali meningkat karena musim hujan sudah mulai berakhir, sementara penyebaran virus covid di Indonesia sudah sangat berkurang sehingga pekerja sudah bisa bekerja di perkebunan lagi, walaupun protokol kesehatan masih berlaku.
Namun ekspor pada bulan Maret masih naik dari bulan Februari sehingga dapat menjadi penggerak harga minyak sawit meningkat.
Pasar menantikan kenaikan permintaan minyak sawit pada bulan puasa 13 April sampai hari Raya di bulan Mei, tapi dengan perayaan-perayaan yang tidak bisa dilakukan pada saat pandemi diperkirakan permintaan minyak sawit akan berkurang.
Analisa tehnikal untuk minyak sawit dengan support pertama di 3,630 ringgit dan berikut ke 3,600 ringgit sedangkan resistant pertama di 4,010 ringgit dan berikut ke 4,060 ringgit.
Loni T / Senior Analyst Vibiz Research Centre Division, Vibiz Consulting
Editor : Asido.









