Riau Rhythm: dari Pekanbaru ke AS Tampilkan Sastra dan Musik Melayu

0
1061
Riau
Riau Rhythm di Chicago, Illinois (dok : Riau Rhythm) jpeg

(Vibizmedia – Internasional) Belum lama ini kelompok musik Riau Rhythm yang berasal dari Pekanbaru Riau tampil di Amerika Serikat. Walau sudah pernah tampil di luar negeri, termasuk di Eropa, India, dan Korea Selatan, ini merupakan pertama kalinya bagi kelompok musik melayu asal Pekanbaru, Riau ini menghibur warga internasional di tiga negara bagian di Amerika Serikat.

Berdiri sejak 22 tahun lalu, sebenarnya keinginan untuk manggung di Amerika sudah ada sejak tahun 2003. Mereka berhasil menarik perhatian penonton lewat musik yang dimainkan dengan menggunakan berbagai alat musik tradisional Indonesia, seperti gambus dan calempong.

“Kita sudah memberikan porto folio ke Amerika itu dari tahun 2003. Nah, sejauh itu kita selalu masuk dalam proses kuratorial,” jelas Rino Deza Pati, komposer sekaligus anggota dari Riau Rhythm.

Dua puluh tahun berlalu, akhirnya kelompok yang beranggotakan 8 personil ini diundang untuk tampil di Old Town School of Folk Music di Chicago, Illinois, Jersey City Theatre Centre di Newarks, New Jersey, dan New York.

“Ini merupakan tentunya sebuah berita yang baik ya, bagi kami, karena menjaga konsistensi untuk bisa terus masuk ke dalam pencapaian, dimana pusat seni pertunjukan di dunia itu di Amerika,” ujar Rino.

Untuk tur ke Amerika kali ini, Riau Rhythm membawa konsep musik hibrida yang unik, yang merupakan musik tradisional Indonesia yang dipadukan dengan nuansa music modern Amerika.

Dalam kesempatan yang sama Riau Rhythm juga mempromosikan album ke-8 mereka yang bertajuk “Awang Menunggang Gelombang,” yang mengangkat cerita mengenai ekspedisi dari penjelajah Ferdinan Magellan di abad ke-15. Mereka juga sempat mengangkat beragam sastra lisan dari Sumatra yang hampir punah, juga sastra Bugis dari Makasar mengenai mantra penjinak lautan.

“Ini menjadi bagian penting dan sejarah yang luar biasa bagi grup Riau Rhythm, yang sudah berdiri sejak 22 tahun ini.”

Merupakan tantangan tersendiri bagi Riau Rhythm saat harus menampilkan musik dan bahasa yang berbeda kepada publik Amerika. Walau sempat mempresentasikan sinopsis di awal penampilan mereka di panggung, namun, penonton juga dintantang untuk memahami makna yang ingin disampaikan melalui musik.

“Sebelum berangkat itu kita memberikan beberapa konsep-konsep yang sepertinya orang awam atau bahkan orang yang bukan di luar culture-nya sendiri itu bisa merasakan, ‘oh, ternyata lagu ini menceritakan tentang ini,’” ujar Rino.

Perjalanan Riau Rhythm ke Amerika ini juga memberikan kejutan bagi warga Amerika dengan menghadirkan kebudayaan Indonesia yang berbeda. Jika kebudayaan Jawa dan Bali kerap ditampilkan melalui berbagai institusi di Amerika, kini adalah giliran Riau Rhythm untuk memperkenalkan budaya yang jarang ditampilkan.