Operasional Pertamina Tumbuh di Semua Lini Bisnis pada 2023

0
130
Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati saat memberikan pemaparan pada Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Tahunan Pertamina di Lantai 21 Kementerian BUMN, Jakarta, Senin (10/06/2024) (Foto: Pertamina)

(Vibizmedia- Jakarta) Pada Kinerja 2023, operasional Pertamina tumbuh di segala lini bisnis sehingga Pertamina sukses jalankan penugasan pemerintah. Pascarestrukturisasi organisasi pembentukan Holding dan Subholding, kinerja PT Pertamina (Persero) sepanjang 2023 terus meningkat.

Berdasarkan siaran pers Pertamina pada Selasa (11/6/2024), dinyatakan bahwa tantangan global, terutama berkaitan dengan penurunan harga minyak dunia dan pelemahan nilai tukar, telah berhasil dilalui dengan baik oleh Pertamina melalui pengelolaan operasional yang  semakin efisien serta dilakukannya optimalisasi manajemen keuangan.

Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati usai Rapat Umum menyatakan, sejak restrukturisasi organisasi, kinerja operasional seluruh lini bisnis, baik holding dan subholding juga semakin solid dan andal. Seiring dengan pertumbuhan operasional, capaian keuangan pun meningkat berkat efisiensi, optimalisasi biaya, manajemen liabilitas, serta komitmen penyelesaian piutang pemerintah kepada Pertamina.

Pemegang Saham Tahunan (RUPST) Perseroan Tahun Buku 2023, yang dilaksanakan di Kementerian BUMN, Jakarta, Senin 10 Juni 2024.

Melalui Subholding Hulu, produksi minyak dan gas (migas) bertumbuh 8 persen dari 2022 sebesar 967,4 juta barel setara minyak per hari (million barrel oil per day/MBOEPD) menjadi 1.044 MBOEPD pada 2023. Produksi tersebut dialokasikan untuk kebutuhan energi nasional, dimana dari 24 persen blok dalam negeri yang dikelola Pertamina berkontribusi terhadap pasokan minyak dan gas nasional sebanyak 69 persen dan 34 persen. Pada 2023, Pertamina juga melakukan enam akuisisi blok, termasuk Blok Masela, Blok Bunga dan Peri Mahakam.

Dari Subholding Pengolahan dan Petrokimia, produksi kilang meningkat 2 persen, dari 333 juta barel (BBL) di 2022 menjadi 341 juta BBL pada 2023. Program refinery development master plan (RDMP) Balikpapan telah mencapai 84 persen per akhir Desember 2023, serta keberhasilan lain seperti inovasi produk energi ramah lingkungan berupa sustainable aviation fuel (SAF), BioSolar B35, dan Pertamax Green.

Sementara pada bisnis pemasaran dan niaga, melalui subholding Commercial & Trading, realisasi penjualan produk BBM dan Non-BBM juga meningkat, yakni dari 98 juta kiloliter (KL) di 2022 menjadi 100 juta KL di 2023. Selain itu, Pertamina Patra Niaga telah mulai menyalurkan BBM ramah lingkungan Pertamax Green 95, Biosolar 35. Pertamina, di tahun 2023 terus menjalankan program BBM 1 Harga, One Village One Outlet (OVOO) dan Pertashop di seluruh wilayah Indonesia, yang hingga akhir tahun 2023 telah mencakup 98 persen wilayah.

Nicke menjelaskan, sebagai lini bisnis yang berhubungan dengan konsumen, Pertamina terus mengoptimalkan pemanfaatan digitalisasi secara terintegrasi, mulai dari distribusi hingga layanan, sehingga proses bisnis sektor ini dapat menghasilkan efisiensi yang signifikan bagi Pertamina.

Selain itu subholding Gas   berhasil meningkatkan penjualan gas dari  327 ribu BBTU (billion british thermal unit) di 2022 menjadi 337 ribu BBTU di  2023. Kenaikan itu didorong oleh pertumbuhan permintaan dari sektor industri, komersial dan rumah tangga. Sementara itu, jaringan gas (jargas) pada  2023 bertambah 55 ribu, atau secara akumulasi menjadi 820 ribu sambungan rumah tangga (SRT). Sementara, transmisi gas meningkat sekitar 8 persen dari 493 Miliar SCF di 2022 menjadi 532 Miliar SCF di 2023.

Subholding Integrated Marine Logistics ( SH IML) juga mencatatkan kinerja yang positif di sepanjang 2023. Transportasi kargo Pertamina  meningkat 3 persen dari tahun sebelumnya yakni dari 157 juta KL di 2022 menjadi 161,4 juta KL di 2023. SH IML saat ini mengoperasikan 784 tanker serta supported vessels di domestik dan 50 rute internasional. Sebagian besar kapal milik Pertamina juga telah menggunakan desain EcoShip, yang berdampak pada penurunan emisi dan efisiensi bahan bakar hingga 8 persen.

Nicke mengungkapkan, adapun di sisi subholding Pertamina New & Renewable Energy (PNRE), produksi listrik dari energi baru dan terbarukan, termasuk panas bumi naik 17 peren dari 4.658 giga watt hour (GWh) di tahun 2022 menjadi 5.451 GWh di 2023. SH PNRE juga melakukan komersialisasi beberapa operasional, diantaranya IPP Jawa 1 Unit 2, Pembangkit Listrik Tenaga Surya di Rokan, Refinery Unit II, III, IV, dan VI.

Nicke menjelaskan, sebagian besar indikator operasi di seluruh subholding meningkat pada tahun 2023 dibandingkan dengan tahun 2022. Kenaikan operasional Pertamina Grup didorong oleh tumbuhnya permintaan dari konsumen, terutama pada sektor energi transisi dimana pertumbuhannya cukup tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa Pertamina menjalankan visinya untuk mendorong pemanfaatan energi transisi, sekaligus menjaga ketahanan energi nasional pada sektor migas.

Nicke menambahkan, selama 2023, salah satu kunci pemanfaatan digitalisasi di Pertamina diimplementasikan melalui Pertamina Integrated Enterprise Data and Command Center (PIEDCC),  yang merupakan transformasi digital dalam memonitor dan mengendalikan  seluruh proses bisnis Pertamina dapat berjalan dengan baik, termasuk  proses distribusi dan ketersediaan pasokan energi.