Komitmen Indonesia Tingkatkan Tata Kelola Migrasi Internasional Aman dan Teratur

0
116
Wamenaker Afriansyah Noor bersama peserta lain di Konferensi Internasional Kedua tentang Regulasi Rekrutmen Internasional yang diselenggarakan International Organization for Migration (IOM) di Jenewa, Swiss pada Senin (10/6/2024). (Foto : Kemnaker)

(Vibizmedia – Jenewa, Swiss) ┬áSebagai anggota Global Compact for Safe, Orderly and Regular Migration (GCM), pemerintah Indonesia berkomitmen dalam meningkatkan tata kelola migrasi internasional yang aman dan teratur dengan kebijakan di tingkat nasional, regional dan global.

Wakil Menteri Ketenagakerjaan (Wamenaker) Afriansyah Noor menyampaikan hal ini saat memberikan sambutan di Konferensi Internasional Kedua tentang Regulasi Rekrutmen Internasional yang diselenggarakan oleh International Organization for Migration (IOM) di Jenewa, Swiss pada Senin (10/6/2024).

Dalam siaran pers pada Selasa (11/6/2024) Afriansyah menyatakan, Indonesia berkomitmen untuk memperkuat kebijakan di tingkat nasional, regional, dan global yang mendukung migrasi aman dan teratur.

Wamenaker memaparkan berbagai langkah konkret yang telah diambil oleh pemerintah Indonesia. Di tingkat nasional, Indonesia telah membentuk layanan rekrutmen terintegrasi yang bertujuan untuk mengurangi biaya migrasi dan mencegah praktik penyelundupan manusia serta perdagangan manusia.

Selain itu, Indonesia juga telah menginisiasi program Desa Migran Produktif (Desmigratif), yang merupakan kolaborasi antara pemerintah daerah, komunitas lokal, organisasi masyarakat sipil, dan donor dengan menyediakan informasi tentang migrasi yang aman, pengolahan dokumen, penyelesaian keluhan, pemberdayaan ekonomi, dan manajemen data bagi para migran dan keluarganya.

Wamenaker menjelaskan, layanan rekrutmen terintegrasi ini memfasilitasi proses dan tata kelola yang lebih baik efisien dan aman bagi para pekerja migran. Sedangkan untuk program Desmigratif ini berfungsi sebagai pusat layanan terpadu yang melindungi pekerja migran dan keluarganya dari berbagai risiko.

Di tingkat bilateral, Indonesia terus mengupayakan perbaikan mekanisme perlindungan melalui perjanjian dengan negara-negara tujuan migran. Sedangkan untuk tingkat regional, Afriansyah menyoroti peran Indonesia dalam ASEAN dalam mengadopsi Konsensus ASEAN tentang Perlindungan dan Promosi Hak-Hak Pekerja Migran pada 2017.

Wamenaker menjelaskan, pihaknya berupaya meningkatkan pelindungan bagi pekerja migran Indonesia melalui kerja sama bilateral yang lebih kuat dengan negara-negara tujuan. Selain itu komitmen Indonesia pada ASEAN ini penting untuk mempromosikan pekerjaan yang layak, manusiawi, dan bermartabat serta mencegah penyelundupan dan perdagangan manusia.

Indonesia juga berkolaborasi dengan IOM untuk memajukan agenda regional yang bertujuan melindungi pekerja migran di sektor darat dan laut. Di tingkat global, Indonesia berkomitmen pada Konvensi Internasional tentang Pelindungan Hak-Hak Semua Pekerja Migran dan Anggota Keluarganya (ICRMW) serta GCM.

Afriansyah menegaskan bahwa Indonesia terus mendorong ratifikasi universal terhadap perjanjian-perjanjian ini untuk meningkatkan komitmen global dalam melindungi pekerja migran dan keluarganya.

Afriansyah juga mengakui tantangan yang akan dihadapi di masa depan termasuk dampak otomatisasi dan teknologi, upaya memastikan upah yang adil dan kondisi kerja yang layak bagi pekerja migran, serta menangani migrasi yang tidak teratur.

Afriansyah menjelaskan, perubahan iklim dan pascapandemi juga akan mempengaruhi pola migrasi di masa depan, namun melalui dialog konstruktif dan kolaborasi antar pemangku kepentingan, kami optimis tantangan ini dapat diatasi.

Sebagai informasi, Konferensi Internasional Kedua tentang Regulasi Rekrutmen Internasional ini menjadi forum penting bagi negara-negara anggota untuk berbagi pengalaman dan merumuskan kebijakan yang lebih efektif dalam menangani isu-isu migrasi global.