Kemenperin Dorong Inklusi Disabilitas di Sektor Manufaktur

0
185
Penyandang Disabilitas
Penyandang Disabilitas. FOTO: KEMENKO PMK

(Vibizmedia-Nasional) Pemerintah terus mendorong pertumbuhan dan perkembangan industri manufaktur sebagai penggerak utama perekonomian nasional, salah satunya melalui penyediaan lapangan kerja yang berkelanjutan. Tidak hanya berorientasi pada kuantitas, pembangunan sektor industri juga diarahkan agar bersifat inklusif dengan membuka kesempatan kerja yang setara bagi seluruh lapisan masyarakat, termasuk penyandang disabilitas.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan bahwa penguatan sektor industri manufaktur harus berjalan seiring dengan prinsip keadilan sosial. Hal ini mengingat peran strategis industri manufaktur dalam menyerap tenaga kerja nasional.

“Pengembangan industri harus memberi ruang partisipasi yang setara bagi penyandang disabilitas, sehingga mereka dapat berkontribusi secara produktif dan mandiri dalam ekosistem industri nasional,” ujar Menperin dalam keterangannya, Senin (2/2).

Sebagai wujud komitmen tersebut, Direktorat Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) Kementerian Perindustrian berkolaborasi dengan startup Top Loker (TopLoker.com) menyelenggarakan kegiatan Pengembangan Inklusi Sektor Manufaktur untuk Disabilitas di Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri Semarang pada 28 Januari 2026.

Direktur Jenderal IKMA Reni Yanita menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk kolaborasi nyata antara pemerintah dan dunia usaha dalam memperluas akses kerja inklusif bagi penyandang disabilitas di sektor industri strategis.

“Kami menginisiasi kegiatan ini sebagai wadah untuk membuka kesempatan dan peluang bagi teman-teman disabilitas agar dapat berkarya dan berpartisipasi aktif di sektor industri,” kata Reni.

Berdasarkan data Kemenperin hingga Agustus 2025, jumlah tenaga kerja di sektor manufaktur mencapai 20,26 juta orang atau sekitar 13,83 persen dari total tenaga kerja nasional. Dengan penerapan prinsip inklusivitas, sektor ini diharapkan dapat melibatkan peran yang lebih besar dari tenaga kerja penyandang disabilitas.

Meski demikian, Reni mengakui masih terdapat berbagai tantangan dalam mengakses lapangan kerja manufaktur bagi penyandang disabilitas, antara lain keterbatasan informasi lowongan kerja, kesenjangan kompetensi dengan kebutuhan industri, minimnya jejaring kemitraan formal, serta lingkungan kerja yang belum sepenuhnya inklusif.

“Kegiatan ini bertujuan meningkatkan serapan tenaga kerja penyandang disabilitas sekaligus membuka akses kerja sama antara Sekolah Luar Biasa dengan industri manufaktur,” jelasnya. Melalui program ini, peserta didik disabilitas tingkat SMA atau sederajat diharapkan mampu memahami kebutuhan kompetensi industri dan menyesuaikan diri dengan standar dunia kerja.

Sebanyak 45 siswa disabilitas kelas XII SLB dari delapan kabupaten dan kota di Jawa Tengah mengikuti kegiatan ini dan berkesempatan bertemu langsung dengan 24 perusahaan manufaktur dari sektor industri agro, elektronik, tekstil dan produk tekstil, serta industri aneka.

“Perusahaan manufaktur akan berdiskusi langsung dan menjalin komunikasi berkelanjutan dengan kelompok disabilitas yang didampingi oleh SLB Negeri Semarang dan Top Loker,” tambah Reni.

Reni juga menegaskan bahwa sektor manufaktur membutuhkan sikap kerja yang tekun, teliti, konsisten, dan loyal, yang kerap menjadi keunggulan penyandang disabilitas. Menurutnya, inklusivitas bukan sekadar pemenuhan regulasi, tetapi merupakan investasi sumber daya manusia yang bernilai bagi produktivitas dan keberlanjutan industri.

Sementara itu, CEO Top Loker Josep Teguh Santoso mengatakan bahwa sebagai Juara 1 Program Startup for Industry Kemenperin 2022, pihaknya berkomitmen menjembatani penyandang disabilitas dengan peluang kerja di sektor manufaktur melalui platform digital khusus.

“Kami ingin semakin banyak pelaku industri yang peduli dan membuka kesempatan bagi penyandang disabilitas untuk bekerja dan berkembang,” ujar Josep yang juga menjabat sebagai Rektor Universitas Stekom Semarang.

Program ini turut didukung oleh SLB Negeri Semarang, Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Tengah, serta Universitas Stekom, guna memastikan keberlanjutan kolaborasi antara dunia pendidikan dan industri manufaktur.