(Vibizmedia – Kolom) Dari perang Rusia di Ukraina hingga Samudra Pasifik, balon kembali digunakan dalam operasi militer, didorong oleh inovasi teknologi pada sensor, sistem otonom, dan material. Sistem mengapung berbiaya rendah tersebut mampu melakukan pengintaian, menghubungkan jaringan komunikasi, serta mengangkut berbagai muatan. Keunggulannya terletak pada jejak radar yang sangat kecil dan kemampuannya terbang tinggi di atas jangkauan transmisi peperangan elektronik yang dapat melumpuhkan perangkat udara lain.
Balon juga digunakan untuk membawa persenjataan, termasuk drone serangan satu arah, menempuh ribuan mil untuk menghantam target jauh dari garis depan, sehingga menimbulkan kerusakan sekaligus menyebarkan ketakutan di wilayah yang sebelumnya relatif aman.
Perkembangan ini menarik perhatian militer besar maupun kecil. Balon ketinggian tinggi dijadwalkan menjadi bagian dari latihan Angkatan Darat Amerika Serikat di Nevada dan berbagai lokasi di Eropa pada April, sementara pengujian kawanan balon di kawasan Pasifik direncanakan berlangsung pada akhir tahun. Sejumlah sekutu Eropa juga tengah menguji balon untuk berbagai peran militer.
Peter Phillips, mantan Perwira Senior Operasi Khusus AS yang pernah bekerja dengan balon, menyampaikan pandangannya bahwa pada dasarnya hampir semua fungsi yang dapat dilakukan dari pesawat juga bisa dilakukan dari balon, sementara banyak negara belum secara aktif mengantisipasi ancaman tersebut.
Di sisi lain, Rusia bersama sekutunya, mulai dari Belarus hingga Korea Utara, disebut telah memanfaatkan balon untuk mengintimidasi dan mengganggu negara-negara tetangga.
Namun, Ukraina dinilai sebagai negara yang paling jauh mengembangkan penggunaan balon. Negara tersebut memanfaatkannya untuk melancarkan serangan jauh ke dalam wilayah Rusia, melakukan pengintaian, mengangkut muatan, serta sebagai umpan. Dengan keterbatasan pendanaan dan akses terhadap senjata canggih dalam jumlah memadai, Kyiv menjadikan balon sebagai alternatif murah yang memberikan keuntungan asimetris melalui pemanfaatan pola angin lokal.
Iurii Vysoven, salah satu pendiri startup balon Aerobavovna yang berbasis di Kyiv, menyatakan bahwa penggunaan balon merupakan kebutuhan strategis karena Ukraina tidak mungkin memiliki cukup drone dan rudal serangan jarak jauh. Ia menekankan bahwa keberhasilan strategi tersebut menjadi sangat penting.
Menurut sejumlah pihak yang mengetahui misi tersebut, Ukraina mulai menggunakan balon segera setelah invasi Rusia untuk menjatuhkan bom atau granat, sekaligus menguras pertahanan Rusia dengan membawa muatan yang dirancang menyerupai pesawat tempur pada radar. Pada 2024, Ukraina mulai memanfaatkan balon—sering kali diperoleh dari pemasok Amerika—sebagai sistem pengiriman senjata kamikaze kecil yang mampu menavigasi dirinya sendiri menuju target presisi.
Sumber yang mengetahui hal itu menyebutkan bahwa kombinasi tersebut membuka peluang menyerang jauh ke dalam wilayah Rusia, termasuk ladang minyak, kilang, terminal pengiriman, dan jaringan kereta api, sehingga berpotensi melemahkan perekonomian negara tersebut.
Michael Kofman dari Carnegie Endowment for International Peace, seorang pakar militer Rusia, menilai bahwa strategi tersebut merupakan bagian penting dari upaya keseluruhan Ukraina untuk menekan Rusia agar bersedia berunding dengan persyaratan yang lebih menguntungkan bagi Kyiv.
Dinas Keamanan Ukraina (SBU) menolak memberikan komentar, sementara Staf Umum Angkatan Bersenjata Ukraina tidak menanggapi permintaan keterangan.
Berdasarkan laporan media Rusia dan sumber yang mengetahui kejadian tersebut, pasukan Ukraina pada tahun lalu menggunakan balon dalam serangan terhadap kilang minyak Rusia, termasuk target di Moskow dan Ryazan, di tenggara ibu kota. Disebutkan pula bahwa pada Desember, balon digunakan untuk mengirimkan drone serangan ke Moskow dalam operasi yang memaksa penutupan sementara sejumlah bandara utama.
Robert Zubrin, insinyur dirgantara berusia 73 tahun dari Brooklyn yang mendirikan Pegasus Aerospace di Colorado, berpendapat bahwa penggunaan balon dapat dilakukan berulang kali hingga sistem pertahanan udara lawan terkuras, mengingat biaya balon relatif sangat murah.
Balon, sebagaimana dipahami secara umum, sangat bergantung pada arah angin. Di Ukraina, angin dominan bertiup ke timur sehingga balon secara alami melayang menuju wilayah Rusia. Kyle Guerre, veteran Angkatan Darat AS yang meneliti teknologi navigasi balon di Massachusetts Institute of Technology, menggambarkan angin sebagai serangkaian “jalan satu arah” yang dapat dimanfaatkan secara strategis.
Para operator menyatakan bahwa kombinasi kecerdasan buatan dengan data prakiraan cuaca yang semakin akurat telah meningkatkan presisi serangan jarak jauh. Balon dapat naik dan turun melalui ventilasi atau baling-baling untuk menemukan arus udara yang paling sesuai.
Andrew Evans, direktur strategi dan transformasi pada unit intelijen Angkatan Darat AS, mengemukakan bahwa biaya untuk menembak jatuh balon dapat mencapai jutaan dolar, sementara harga balon itu sendiri hanya ratusan dolar. Dalam tiga tahun terakhir, Angkatan Darat AS telah menghabiskan lebih dari 10 juta dolar untuk pengembangan balon dan mulai mewajibkan prajurit menggunakannya. Ia menegaskan bahwa pihaknya secara aktif mempelajari pelajaran dari pengalaman Ukraina.
Rancangan undang-undang belanja yang diajukan Presiden Donald Trump tahun lalu mencakup alokasi 50 juta dolar untuk pengembangan dan pengadaan balon militer ketinggian tinggi. Penggunaannya antara lain direncanakan untuk mengangkut senjata dan logistik melintasi Pasifik serta menyediakan kemampuan pengawasan dalam skenario konflik dengan China.
Kepala Teknologi Angkatan Darat AS, Alex Miller, menyatakan bahwa uji kemampuan serangan dari balon akan dilakukan dalam latihan di Pasifik bekerja sama dengan Komando Operasi Khusus. Setelah eksperimen sebelumnya berhasil menerbangkan balon dari daratan menuju Samudra Atlantik guna mendukung intelijen dan komunikasi pasukan maritim, Angkatan Darat kini berupaya membangun kapasitas untuk meluncurkan hingga 100 balon yang dapat berkoordinasi satu sama lain dan dengan sistem persenjataan lain. Ia menekankan bahwa tujuan utamanya adalah memperluas jangkauan operasional.
Secara historis, balon pertama kali digunakan dalam peperangan pada masa Revolusi Prancis untuk mengintai posisi musuh. Perannya berkembang dalam Perang Saudara AS dan Perang Prancis-Prusia. Kapal udara kaku berisi gas, atau Zeppelin, bahkan melakukan misi ofensif awal dengan menjatuhkan bom di Inggris selama Perang Dunia I.
Pada 2023, sebuah balon mata-mata China melintasi Amerika Utara selama sekitar satu minggu sebelum akhirnya ditembak jatuh oleh militer AS di lepas pantai Atlantik. Peristiwa tersebut dipandang luas oleh pejabat keamanan nasional sebagai momen yang memalukan bagi Washington. Penutupan sementara wilayah udara di sekitar bandara El Paso setelah pengerahan laser anti-drone terhadap balon pesta juga menunjukkan bagaimana balon dapat membingungkan sistem pertahanan udara modern.
Balon ketinggian tinggi masa kini menciptakan zona baru supremasi udara, berada di atas drone dan jet tempur namun di bawah satelit. Balon tersebut dapat dilipat hingga seukuran ransel, dilengkapi kamera ringan dan sensor lain, serta ditenagai energi matahari melalui material penyerap sinar atau panel surya kecil. Mereka mampu menyesuaikan arah secara otonom, sementara operator dapat memperbarui perangkat lunak untuk mengubah misi.
Zubrin, yang juga dikenal sebagai pendiri Mars Society dan tokoh dalam eksplorasi Mars, sebelumnya mengembangkan balon yang dirancang untuk mendarat di planet tersebut bagi NASA. Meski proyek itu tidak berlanjut ke luar angkasa, ia kembali mengingat potensi teknologi tersebut ketika perang Ukraina dimulai. Menurutnya, kemunculan UAV kecil membuat balon kembali relevan.
Pada 2024, ia mendirikan Pegasus dengan dana pribadi bersama sejumlah insinyur di Colorado dan Eropa Timur. Balon buatannya dijatuhkan dari pesawat, helikopter, atau drone, lalu mengembang seperti parasut dan menyerap panas matahari untuk tetap melayang. Tanpa tangki gas, balon tersebut lebih mudah diangkut dan cukup murah untuk ditinggalkan setelah digunakan. Ia juga memperingatkan bahwa peluncuran dari lapangan terbuka tetap membawa risiko serangan balasan. Sejak itu, ia telah menghimpun 2,5 juta dolar modal ventura dan memasok Angkatan Darat serta Angkatan Udara AS untuk program pengujian.
Di Kyiv, Vysoven mengalihkan bisnis wisata terjun payungnya menjadi perusahaan teknologi balon setelah invasi Rusia. Aerobavovna kini memasok balon tambat kepada militer Ukraina untuk relai sinyal radio dan deteksi sinyal musuh di garis depan, serta untuk membawa muatan dalam serangan jarak jauh ke wilayah Rusia.
Perusahaan Planetfall yang berbasis di Inggris dan Jerman mengembangkan drone serangan yang dijatuhkan dari ketinggian sekitar 100.000 kaki atau 19 mil. Pada ketinggian tersebut, suhu ekstrem dan udara tipis membuat drone biasa sulit beroperasi. Pendiri perusahaan, Victor Freiherr von Suesskind, menjelaskan bahwa setelah dilepaskan, pesawat tanpa tenaga itu dapat menghantam target hampir secara vertikal, sehingga sulit dicegat, dengan tambahan keuntungan tidak adanya kontak radio maupun jejak panas motor yang dapat terdeteksi. Perusahaan tersebut memiliki kontrak penelitian dan pengembangan dengan militer Inggris, dan sistemnya telah digunakan oleh Ukraina.
Ethan Thornton menyebut bahwa ketertarikannya pada balon bermula pada usia 17 tahun setelah membaca tentang proyek Google yang berhasil mempertahankan balon di atas Puerto Rico selama hampir setahun. Perusahaannya, Mach Industries yang berbasis di California Selatan, kemudian mengembangkan proyek balon dengan metode produksi material baru yang menghilangkan kebutuhan penjahitan tangan dan secara drastis menurunkan biaya.
Andrew Evans dari Angkatan Darat AS menggambarkan perubahan paradigma tersebut sebagai pergeseran dari era ketika perangkat keras militer sangat mahal dan berat, menuju dunia baru yang lebih fleksibel dan terjangkau.









