Kolaborasi dan Teknologi Digital Jadi Kunci Akselerasi Ekonomi Kreatif Indonesia

0
42
Foto: Kemenekraf

(Vibizmedia – Jakarta) Wakil Menteri Ekonomi Kreatif/Wakil Kepala Badan Ekonomi Kreatif Irene Umar menyoroti pentingnya kolaborasi yang berfokus pada inovasi serta aksi nyata dalam mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif Indonesia. Ia juga menyinggung berbagai tantangan yang dihadapi para pelaku industri kreatif, sekaligus pentingnya dukungan bagi kreator konten, musisi, dan talenta dari berbagai subsektor ekonomi kreatif. Menurut Irene, setiap pejuang kreatif memiliki peluang untuk berkembang melalui media sosial yang mampu menjangkau audiens internasional.

“Pertanyaannya bukan lagi soal modal atau koneksi, melainkan seberapa besar kemauan kita untuk memulai dan berjuang sebagai pelaku ekonomi kreatif. Jika benar ingin berkarya, selalu ada jalan untuk berkembang, terlebih di era digital saat ini yang semakin meminimalkan keterbatasan akses terhadap pendanaan maupun jaringan,” ujar Wamen Ekraf Irene saat menjadi pembicara dalam Talkshow ASTAKARYA di Nusantara Ballroom, NT Tower, Jakarta Timur, Jumat (6/3/2026).

Talkshow tersebut merupakan bagian dari rangkaian Rapat Kerja Nasional Gerakan Ekonomi Kreatif Nasional (Rakernas GEKRAFS) 2026 yang mengusung tema “Astakarya: Akselerasi Karya, Transformasi Ekonomi Indonesia.” Dalam diskusi tersebut, para narasumber menegaskan bahwa kreativitas tidak cukup berhenti pada ide, tetapi perlu dikembangkan menjadi nilai ekonomi yang berkelanjutan melalui kolaborasi dan pemanfaatan teknologi digital.

Irene menjelaskan, salah satu peran Kementerian Ekonomi Kreatif adalah menyediakan ruang bagi para pelaku ekonomi kreatif untuk menampilkan karya mereka. Salah satu upaya yang telah dilakukan adalah peluncuran Ekraf Hunt, sebuah platform yang memungkinkan pelaku ekraf mengunggah portofolio dan mengelola profil mereka secara mandiri dalam sebuah basis data terpusat.

“Melalui platform dan jaringan yang kami bangun, talenta kreatif Indonesia akan lebih mudah ditemukan serta berkolaborasi dengan berbagai pihak,” jelas Irene yang juga menjabat sebagai Wakil Dewan Pakar GEKRAFS.

Ia juga menantang para anggota GEKRAFS untuk terus menghadirkan terobosan baru dalam dunia kreatif. Irene mengajak para pelaku ekraf untuk menciptakan karya yang tidak biasa atau out of the box setidaknya sekali dalam sebulan guna memicu kolaborasi yang lebih luas antara kreator lokal maupun nasional.

“Saya ingin menantang teman-teman GEKRAFS untuk menghadirkan sesuatu yang anti-mainstream setiap bulan. Dengan begitu akan lahir lebih banyak kolaborasi yang mendorong kreativitas baru sekaligus memperkuat pergerakan ekonomi kreatif Indonesia,” tambahnya.

Senada dengan Irene, Utusan Khusus Presiden Bidang Ekonomi Kreatif sekaligus Ketua Dewan Pakar GEKRAFS Yovie Widianto menilai bahwa kreativitas sering kali lahir dari keterbatasan maupun tekanan situasi. Ia pun berbagi pengalaman perjalanan kariernya yang telah berkarya di industri musik Indonesia selama lebih dari empat dekade.

“Saya mulai berkarya sejak 1983 dan sudah lebih dari 40 tahun bersama Kahitna. Saya percaya kreativitas sering muncul justru dalam kondisi terbatas atau terdesak, seperti ketika seorang penulis dikejar tenggat waktu. Selain itu, saya juga terus beradaptasi dengan kemajuan teknologi yang membuat dunia musik terus berkembang,” ujar Yovie.

Sementara itu, Utusan Khusus Presiden Bidang Pembinaan Generasi Muda dan Pekerja Seni sekaligus Wakil Ketua Umum DPP GEKRAFS Raffi Ahmad menekankan bahwa kreativitas perlu diarahkan menjadi kekuatan bisnis agar para pelaku ekonomi kreatif mampu bersaing di tingkat global. Menurutnya, karya kreatif juga harus dilindungi melalui penguatan hak kekayaan intelektual dan pengelolaan yang profesional.

“Kreativitas memang merupakan nilai yang tidak berwujud. Namun, jika tidak mampu bersaing di dunia bisnis, kita akan tertinggal. Karena itu, penting untuk melindungi intellectual property seperti hak cipta dan royalti agar karya yang dihasilkan juga mampu menggerakkan roda ekonomi,” kata Raffi.

Ia juga menegaskan pentingnya kolaborasi lintas generasi dan lintas sektor dalam membangun ekosistem ekonomi kreatif yang kuat. Menurut Raffi, kesuksesan di industri kreatif tidak lahir dari satu individu, melainkan dari kerja sama tim yang solid.

“Di dunia kreatif tidak ada yang hebat karena satu orang. Tidak ada superman, yang ada adalah super team. Kolaborasi itulah yang membuat kreativitas terus berkembang dan bertahan. Kreativitas bukan hanya soal karya, tetapi juga tentang masa depan bangsa,” ujarnya.

Dipandu oleh moderator Temmy Sumarlin, talkshow berlangsung interaktif melalui sesi tanya jawab dengan perwakilan DPD, DPW, dan DPC GEKRAFS. Diskusi tersebut membahas berbagai topik, mulai dari cara mengubah hobi menjadi profesi hingga dukungan bagi talenta dan musisi lokal. Dalam forum tersebut ditegaskan bahwa kolaborasi menjadi kunci penting untuk memicu kreativitas, baik melalui media sosial maupun aktivitas di dunia nyata, sehingga mampu menghasilkan karya dan konten kreatif yang memberikan dampak nyata.