
(Vibizmedia-Nasional) Badan Nasional Penanggulangan Bencana mencatat serangkaian kejadian bencana dalam periode pemantauan 13 April 2026 pukul 07.00 WIB hingga 14 April 2026 pukul 07.00 WIB. Bencana yang terjadi didominasi oleh hidrometeorologi basah seperti banjir dan angin kencang, serta hidrometeorologi kering berupa kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Banjir menjadi salah satu bencana yang paling banyak terjadi. Di Kabupaten Grobogan, banjir dipicu oleh luapan Sungai Lusi akibat hujan dengan intensitas tinggi di wilayah hulu. Peristiwa yang terjadi pada Minggu (12/4) ini berdampak pada 475 kepala keluarga dengan jumlah rumah terdampak mencapai 475 unit. Sejumlah wilayah seperti Desa Karanganyar, Kelurahan Purwodadi, Desa Jono, Desa Boloh, Desa Monggot, dan Desa Mojorebo sempat terendam, namun kondisi dilaporkan mulai berangsur surut.
Bencana serupa juga terjadi di Kabupaten Tapin pada Senin (13/4). Sebanyak 230 kepala keluarga atau 832 jiwa terdampak, dengan 230 unit rumah terendam banjir di Desa Sawang, Desa Rumintin, dan Kelurahan Tambaranang. Hingga kini, genangan air dilaporkan mulai menurun.
Selain banjir, angin kencang turut melanda beberapa wilayah. Di Kabupaten Lampung Timur, sebanyak 16 kepala keluarga terdampak dengan kerusakan pada 16 unit rumah di Desa Sukadana Ilir. Sementara di Kabupaten Banjar, angin kencang berdampak pada 40 jiwa dari 15 kepala keluarga, serta merusak 15 unit rumah di Desa Sungai Batang dan Desa Tangkas.
Di wilayah Banjar, angin kencang juga menyebabkan pohon tumbang di beberapa titik hingga menghambat akses jalan. Namun, berkat gerak cepat tim BPBD bersama instansi terkait, akses jalan berhasil dibuka kembali dan situasi kini telah terkendali.
Di sisi lain, perkembangan kebakaran hutan dan lahan di Provinsi Riau menunjukkan peningkatan. Hingga 13 April 2026, luas lahan terbakar tercatat mencapai sekitar 3.456,23 hektare, bertambah sekitar 4 hektare dari data sebelumnya. Status siaga darurat karhutla masih diberlakukan, dengan berbagai upaya penanganan terus dilakukan, termasuk operasi modifikasi cuaca (OMC) yang didampingi BNPB.
Sementara itu, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika memprakirakan dalam dua hari ke depan, sebagian wilayah Indonesia masih berpotensi mengalami hujan ringan hingga sedang yang dapat disertai petir dan angin kencang, khususnya di wilayah Sumatra, Jawa, Kalimantan, dan Sulawesi. Kondisi ini berpotensi memicu banjir, tanah longsor, dan angin kencang, terutama di daerah dengan tanah labil dan sistem drainase yang kurang baik.
Sebaliknya, wilayah rawan karhutla seperti Riau dan sebagian Kalimantan diperkirakan mengalami cuaca panas dengan curah hujan rendah, sehingga meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan.
Menyikapi kondisi tersebut, BNPB mengimbau masyarakat dan pemerintah daerah untuk meningkatkan kesiapsiagaan. Warga diminta rutin membersihkan saluran air, tidak membuang sampah sembarangan, serta waspada saat hujan lebat. Untuk daerah rawan longsor, masyarakat diimbau segera mengungsi jika muncul tanda-tanda pergerakan tanah.
Dalam menghadapi angin kencang, warga disarankan memangkas ranting pohon yang berpotensi tumbang dan memperkuat struktur bangunan. Sementara untuk mencegah karhutla, masyarakat diminta tidak membuka lahan dengan cara membakar serta aktif melaporkan jika ditemukan titik api.
BNPB juga menekankan pentingnya koordinasi antara pemerintah daerah dan seluruh pemangku kepentingan guna meminimalkan dampak bencana serta melindungi masyarakat di wilayah terdampak.








