Industri Tekstil RI Tahan Guncangan Global, Kemenperin Siapkan Strategi Jaga Pasokan dan Tekan Biaya

0
56
Tekstil
Ilustrasi industri tekstil. FOTO: KEMENPERIN

(Vibizmedia-Nasional) Pemerintah melalui Kementerian Perindustrian (Kemenperin) memastikan industri tekstil dan produk tekstil (TPT) nasional tetap beroperasi stabil di tengah tekanan global yang memicu lonjakan harga bahan baku.

Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita, menyatakan bahwa pihaknya terus memantau dinamika global, khususnya kenaikan harga bahan baku berbasis energi yang berdampak langsung pada industri dalam negeri.

“Harga bahan baku global memang mengalami fluktuasi, namun kami memperkuat koordinasi untuk menjaga ketersediaan pasokan dan kelancaran rantai produksi,” ujarnya di Jakarta, Selasa (21/4).

Dalam rapat koordinasi bersama pelaku industri, terungkap bahwa harga paraxylene (PX) domestik melonjak hingga 40 persen mengikuti tren internasional. Sementara itu, pasokan bahan kimia seperti monoethylene glycol (MEG) masih terjaga hingga April, meski perlu diwaspadai untuk periode berikutnya.

Kenaikan harga tersebut berdampak pada struktur biaya produksi dari hulu hingga hilir. Imbasnya, harga kain, produk setengah jadi, hingga komponen pendukung seperti kemasan plastik ikut mengalami penyesuaian. Bahkan, beberapa eksportir menghadapi tantangan berupa retur barang akibat perubahan kondisi pasar global.

Meski demikian, industri TPT nasional dinilai mampu beradaptasi. Pelaku usaha melakukan berbagai strategi, mulai dari pengelolaan stok, penyesuaian pengadaan bahan baku, hingga memperkuat kerja sama dengan pemasok.

Direktur Industri Tekstil, Kulit, dan Alas Kaki, Rizky Aditya Wijaya, menegaskan bahwa pemanfaatan serat rayon dalam negeri menjadi salah satu solusi untuk mengurangi ketergantungan pada bahan baku impor berbasis petrokimia.

“Rayon sebagai produk berbasis sumber daya alam domestik memberikan alternatif yang kompetitif, sekaligus memperkuat kemandirian industri,” jelasnya.

Menurutnya, kombinasi penggunaan serat alam dan sintetis menjadi strategi penting untuk menjaga keberlanjutan produksi, terutama di tengah tekanan harga polyester global.

Namun, sejumlah subsektor masih membutuhkan perhatian khusus, terutama industri yang bergantung pada bahan baku spesifik tanpa substitusi. Industri produk hygiene seperti popok (diapers), misalnya, sangat bergantung pada ketersediaan komponen tertentu.

Untuk mengantisipasi risiko ke depan, pemerintah tengah memetakan bahan baku kritikal dan mengembangkan sistem monitoring terpadu berbasis data real-time. Selain itu, berbagai opsi kebijakan juga sedang dikaji, seperti insentif fiskal, efisiensi energi, hingga penyesuaian kebijakan perdagangan.

Kemenperin menekankan pentingnya sinkronisasi kebijakan lintas sektor, mulai dari tarif, energi, hingga fasilitas fiskal, guna menjaga keseimbangan rantai industri dari hulu hingga hilir.

Dengan fondasi industri yang dinilai kuat dan pengalaman menghadapi berbagai siklus global, pemerintah optimistis sektor TPT nasional tetap tumbuh dan semakin tangguh menghadapi tantangan global.