Lima Negara ASEAN Bahas Keselamatan Penerbangan Berbasis Data di Bali

0
143
Foto: Kemenhub

(Vibizmedia – Denpasar, Bali) Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan RI mendorong penguatan kerja sama regional dalam aspek keselamatan penerbangan melalui penyelenggaraan 5th In-Person Meeting on Regional Data Sharing Initiative di Denpasar, Bali.

Pertemuan yang berlangsung di Kantor Otoritas Bandar Udara Wilayah IV tersebut merupakan tindak lanjut dari komitmen bersama dalam Regional Aviation Safety Data and Information Sharing Initiative yang disepakati pada 2024. Kegiatan ini juga bertujuan memperkuat harmonisasi serta standardisasi data keselamatan penerbangan antarnegara di kawasan Asia Pasifik.

Direktur Kelaikudaraan dan Pengoperasian Pesawat Udara, Sokhib Al Rokhman, menegaskan bahwa pemanfaatan data memiliki peran krusial dalam memperkuat sistem pengawasan keselamatan penerbangan modern.

“Seiring perkembangan industri penerbangan, data menjadi instrumen utama dalam mendukung pengawasan yang efektif. Melalui inisiatif ini, kita mengarah pada pendekatan keselamatan yang lebih terintegrasi dan berbasis data,” ujarnya dalam keterangan resmi yang diterima InfoPublik, Selasa (21/4/2026).

Pertemuan ini dihadiri oleh regulator penerbangan dari lima negara ASEAN, yakni Indonesia, Singapura, Thailand, Malaysia, dan Filipina. Selain itu, turut berpartisipasi organisasi internasional seperti International Air Transport Association (IATA) dan European Union Aviation Safety Agency (EASA).

Forum tersebut membahas berbagai isu strategis, di antaranya laporan kejadian wajib (Mandatory Occurrence Report/MOR), analisis insiden Ground Proximity Warning System (GPWS), pertukaran metode pemantauan Safety Performance Indicators (SPI), hingga pengembangan dashboard analisis tren keselamatan penerbangan di tingkat regional dan global.

Menurut Sokhib, kolaborasi lintas negara dalam pengumpulan dan analisis data telah menghasilkan berbagai wawasan penting yang dapat dimanfaatkan untuk memperkuat kebijakan keselamatan penerbangan.

“Melalui upaya bersama ini, kita dapat meningkatkan kapasitas pengawasan dan menghasilkan kebijakan yang lebih adaptif terhadap berbagai risiko,” jelasnya.

Kegiatan yang diselenggarakan secara hybrid ini juga menjadi wadah strategis untuk memperluas partisipasi sekaligus memperkaya perspektif dalam pengelolaan keselamatan penerbangan, serta memperkuat implementasi pengawasan berbasis data di kawasan.

Melalui forum ini, Indonesia kembali menegaskan komitmennya dalam membangun sistem keselamatan penerbangan yang terintegrasi, proaktif, dan berkelanjutan, sejalan dengan standar global serta peningkatan konektivitas regional.