Gejolak Global Picu Inovasi: Industri Kemasan Ramah Lingkungan RI Kian Ngebut

0
55
Industri Kemasan
Industri Kemasan. DOK: PT ESIP

(Vibizmedia-Nasional) Kementerian Perindustrian menegaskan bahwa industri agro nasional, khususnya sektor makanan dan minuman, tetap mampu menjaga keberlanjutan produksi di tengah tekanan global terhadap pasokan bahan baku plastik. Situasi ini justru dimanfaatkan pemerintah sebagai momentum untuk mempercepat transformasi menuju kemasan yang lebih ramah lingkungan dan berdaya saing tinggi.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyampaikan bahwa dinamika geopolitik global, termasuk ketegangan di kawasan Timur Tengah, berpotensi mengganggu rantai pasok bahan baku kemasan berbasis plastik. Namun, kondisi tersebut sekaligus membuka peluang bagi industri dalam negeri untuk berinovasi dan meningkatkan efisiensi produksi.

“Industri makanan dan minuman sangat bergantung pada kemasan plastik. Kondisi global saat ini menjadi dorongan untuk mempercepat pengembangan kemasan alternatif yang lebih berkelanjutan,” ujarnya di Jakarta, Kamis (23/4).

Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin, Putu Juli Ardika, menambahkan bahwa pelaku industri mulai melakukan diversifikasi material kemasan. Selain plastik, kini semakin banyak digunakan bahan seperti kertas, kaca, logam, hingga plastik daur ulang seperti rPET.

Menurutnya, industri pulp dan kertas nasional memiliki fondasi kuat untuk mendukung transformasi ini. Hingga 2025, sektor tersebut ditopang oleh 113 perusahaan dengan kapasitas produksi pulp mencapai 14,48 juta ton per tahun dan kertas 25,37 juta ton per tahun. Selain itu, nilai ekspornya menembus USD 8,2 miliar dan mampu menyerap sekitar 1,48 juta tenaga kerja.

Kemenperin juga menyoroti potensi besar pengembangan kemasan berbasis kertas untuk kebutuhan ritel, industri makanan dan minuman, e-commerce, hingga logistik. Inovasi seperti aseptic packaging, barrier paper, paper bottle, nano-cellulose coating, hingga active paper packaging terus didorong melalui riset dan investasi.

Tak hanya itu, pemerintah juga mempercepat pengembangan bioplastik berbasis bahan hayati seperti singkong dan rumput laut. Indonesia dinilai memiliki keunggulan komparatif karena merupakan salah satu produsen utama kedua komoditas tersebut di dunia.

Saat ini, kapasitas industri bioplastik berbahan baku ubi kayu tercatat mencapai 8 ribu ton per tahun, sementara berbahan rumput laut sebesar 28 ton per tahun. Sejumlah pelaku industri dalam negeri pun telah mulai memproduksi kemasan ramah lingkungan berbasis bahan tersebut.

Kementerian Perindustrian menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat struktur industri nasional melalui diversifikasi bahan baku dan pengembangan produk inovatif. Upaya ini diharapkan mampu meningkatkan daya saing sekaligus memperkuat ketahanan industri agro Indonesia dalam menghadapi gejolak global.