Industri Perkakas Tangan RI Makin Tangguh, Produk Lokal Kuasai Pasar dan Tembus Ekspor

0
54
Perkakas
Perkakas. DOK: ANEKA TAMA GROUP

(Vibizmedia-Nasional) Kemampuan industri nasional dalam memproduksi perkakas tangan untuk sektor pertanian dan perkebunan kini semakin dapat diandalkan. Produk-produk buatan dalam negeri dinilai mampu memenuhi kebutuhan pasar domestik dengan kualitas yang kompetitif, sekaligus mendukung program hilirisasi baja nasional.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan, industri perkakas tangan memiliki potensi besar meski diproduksi melalui proses manufaktur sederhana. Menurutnya, sektor ini ditopang tenaga kerja terampil di berbagai sentra produksi yang telah mewarisi keahlian secara turun-temurun.

“Pasarnya juga sangat besar karena Indonesia merupakan negara agraris dengan kebutuhan perkakas tangan yang tinggi, terutama untuk sektor pertanian, perkebunan, dan kehutanan,” ujar Agus di Jakarta, Minggu (26/4).

Ia menambahkan, melalui program Peningkatan Penggunaan Produk Dalam Negeri (P3DN), pemerintah mendorong agar produk-produk IKM perkakas tangan semakin terserap di pasar domestik. Kehadiran sertifikasi SNI juga meningkatkan kepercayaan perusahaan terhadap produk lokal.

Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka Kemenperin, Reni Yanita, menyebutkan berdasarkan data SIINas hingga November 2025, terdapat 123 unit usaha IKM perkakas tangan di Indonesia dengan total tenaga kerja 512 orang.

Sentra produksi terbesar berada di Sumatera Utara, antara lain di Pematang Siantar, Kabupaten Tapanuli Selatan, Labuhan Batu, Deli Serdang, dan Langkat. Selain itu, sentra industri juga tersebar di Sumatera Barat, Riau, Jawa Tengah, Jawa Barat, Jawa Timur, Banten, DI Yogyakarta, Bali, NTB, Kalimantan Selatan, hingga Sulawesi Selatan.

Meski potensinya besar, industri ini masih menghadapi tantangan seperti keterbatasan bahan baku baja berkualitas tertentu, persaingan produk impor, dan kebutuhan investasi teknologi.

Untuk mengatasinya, Kemenperin melalui Ditjen IKMA menjalankan berbagai program penguatan, mulai dari fasilitasi kerja sama bisnis, pendampingan teknis, restrukturisasi mesin produksi, hingga kemitraan dengan penyedia teknologi.

Salah satu contoh sukses datang dari PT Sarana Panen Perkasa di Medan yang memproduksi alat panen seperti egrek, dodos, dan berbagai jenis pisau. Perusahaan ini telah mengantongi sertifikasi SNI dan TKDN, serta berhasil menembus pasar ekspor ke Liberia, Papua Nugini, Kosta Rika, Panama, dan Kolombia.

Dalam dua tahun terakhir, perusahaan tersebut juga siap meningkatkan kapasitas produksi dengan dukungan pasokan baja berkualitas dari PT Krakatau Steel dan PT Jatim Taman Steel.

Perkembangan ini menjadi bukti bahwa industri manufaktur sederhana Indonesia mampu naik kelas, memperkuat pasar domestik, sekaligus bersaing di pasar global.