
(Vibizmedia – Jakarta) Indonesia termasuk dalam 35 negara dengan potensi risiko bencana tertinggi di dunia. Hal ini disampaikan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Letjen TNI Suharyanto, saat memberikan arahan kepada para Kepala Pelaksana BPBD se-Indonesia dalam kegiatan Senior Disaster Management Training (SDMT) di Graha BNPB, Jakarta, Senin (11/5/2026).
Mengutip data Bank Dunia (World Bank), Suharyanto menjelaskan bahwa Indonesia menempati peringkat ketiga sebagai negara dengan risiko bencana tertinggi di dunia, serta peringkat keempat dalam hal tingkat paparan bencana.
Ia menekankan bahwa kondisi geografis Indonesia yang kaya dan indah juga menyimpan potensi ancaman bencana yang besar, mulai dari gempa bumi, tsunami, erupsi gunung api, hingga banjir dan tanah longsor. Bahkan, Indonesia kerap disebut sebagai “laboratorium bencana”.
Menurutnya, julukan tersebut seharusnya menjadi pengingat bagi seluruh pihak untuk terus meningkatkan kesiapsiagaan dan kapasitas penanggulangan bencana, terutama di tingkat daerah. Pasalnya, hampir tidak ada wilayah di Indonesia yang benar-benar bebas dari risiko bencana.
Sebanyak 67 peserta SDMT BNPB Batch III dari berbagai daerah mengikuti pelatihan ini untuk dipersiapkan sebagai komandan penanggulangan bencana di wilayah masing-masing.
Suharyanto juga menekankan pentingnya mitigasi dan kesiapsiagaan sebagai langkah utama dalam menekan risiko bencana, sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto. Ia menilai edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat merupakan bagian penting dari sistem peringatan dini.
Selain itu, ia mengingatkan pentingnya kepatuhan terhadap zona bahaya, mencontohkan insiden erupsi Gunung Dukono yang masih memakan korban akibat pelanggaran radius aman.
Dalam penanganan darurat, Suharyanto menegaskan bahwa penetapan status tanggap darurat merupakan mekanisme administratif agar bantuan dari pemerintah pusat dapat segera disalurkan.
Pada tahap rehabilitasi dan rekonstruksi, BNPB mendorong percepatan pemulihan melalui konsep build back better, termasuk penyediaan hunian sementara bagi warga terdampak. Ia mengingatkan agar pemerintah daerah tidak lambat dalam menyampaikan data korban agar bantuan bisa segera diberikan.
Menutup arahannya, Suharyanto menegaskan pentingnya kepemimpinan, keberanian, dan kepercayaan diri bagi para Kepala Pelaksana BPBD dalam menghadapi bencana.
Ia menegaskan bahwa kepala BPBD harus siap memegang komando penanggulangan bencana di daerahnya masing-masing dan tidak ragu dalam mengambil langkah demi keselamatan masyarakat.








