KAI Hadirkan Kereta Khusus Petani, Distribusi Hasil Panen Kian Mudah

0
74
Gerbong khusus petani KA Rangkasbitung Merak (Foto: KAI)

(Vibizmedia – Jakarta) Aktivitas di sejumlah stasiun lintas Rangkasbitung–Merak kerap dimulai sejak dini hari. Para petani dan pedagang datang membawa hasil panen seperti cabai, bawang, tomat, dan sayuran segar untuk diangkut menggunakan layanan Kereta Petani dan Pedagang milik PT Kereta Api Indonesia (Persero).

Layanan ini menjadi sarana penting dalam mendukung perputaran ekonomi masyarakat kecil. Melalui perjalanan kereta, hasil panen didistribusikan ke pasar dengan harapan cepat terjual dan mampu menopang kebutuhan keluarga.

Vice President Corporate Communication KAI, Anne Purba, mengatakan layanan tersebut dihadirkan sebagai solusi transportasi yang terjangkau dan sesuai dengan kebutuhan petani serta pedagang tradisional.

“Bagi petani dan pedagang kecil, biaya distribusi sangat berpengaruh. Dengan ongkos yang lebih ringan, mereka bisa membawa lebih banyak hasil panen dan menjaga kelangsungan usaha,” ujarnya, Selasa (12/5/2026).

KAI mencatat, sepanjang 1 Januari hingga 11 Mei 2026, layanan ini telah digunakan oleh 17.867 pelanggan di lintas Merak–Rangkasbitung.

Kereta Petani dan Pedagang mulai beroperasi sejak 1 Desember 2025 dengan tarif Rp3.000 per perjalanan melalui skema Public Service Obligation (PSO), sehingga lebih terjangkau bagi masyarakat.

Layanan ini melayani rute Merak–Rangkasbitung pulang pergi setiap hari dengan total 14 perjalanan, masing-masing tujuh perjalanan dari Merak dan Rangkasbitung.

Anne menjelaskan, kehadiran kereta ini turut mempercepat distribusi hasil pertanian sehingga komoditas dapat tiba di pasar dalam kondisi lebih segar dan bernilai jual lebih tinggi.

“Distribusi yang lancar tidak hanya membantu petani dan pedagang, tetapi juga memastikan masyarakat mendapatkan bahan pangan yang lebih segar,” katanya.

Untuk menggunakan layanan ini, pelanggan perlu mendaftar di loket stasiun dengan KTP guna memperoleh kartu khusus. KAI juga menyesuaikan fasilitas kereta, seperti tempat duduk menyamping berkapasitas 73 penumpang, pintu yang lebih lebar, serta ruang penyimpanan barang agar memudahkan proses naik turun.

Anne menambahkan, layanan ini menjadi contoh bagaimana transportasi publik dapat terhubung langsung dengan aktivitas ekonomi masyarakat, khususnya di sektor pertanian dan pasar tradisional.

“Di setiap perjalanan, ada hasil panen yang dibawa dengan harapan dan kerja keras. Dengan distribusi yang lebih mudah, manfaatnya langsung dirasakan oleh masyarakat,” tutupnya.