Daya Beli Terjaga, APBN April 2026 Tetap Solid

0
38

(VIibizmedia – Jakarta)d Daya beli masyarakat hingga akhir April 2026 dinilai masih terjaga. Hal ini antara lain tercermin dari peningkatan penerimaan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) yang tumbuh 40,2 persen atau mencapai sekitar Rp221,2 triliun.

Hal tersebut disampaikan Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa dalam konferensi pers APBN KiTA edisi April 2026 di Gedung Kementerian Keuangan, Jakarta, Selasa (19/5/2026).

Menurutnya, kenaikan PPN dan PPnBM mencerminkan aktivitas konsumsi masyarakat yang tetap kuat. “Peningkatan ini menunjukkan daya beli masyarakat masih terjaga dan aktivitas ekonomi tetap tinggi, sehingga anggapan bahwa ekonomi melambat tidak terbukti,” ujarnya.

Menkeu juga mengungkapkan bahwa penjualan kendaraan bermotor meningkat seiring normalisasi aktivitas pasca libur Lebaran. Penjualan sepeda motor pada April 2026 tercatat tumbuh 28,1 persen (year on year), berbalik dari kontraksi 17,1 persen pada Maret. Sementara itu, penjualan mobil melonjak 55 persen (year on year) setelah sebelumnya mengalami kontraksi 13,8 persen.

Di sisi lain, kinerja APBN hingga April 2026 tetap solid. Penerimaan pajak menunjukkan pertumbuhan kuat sebesar 16,1 persen, sementara belanja negara meningkat lebih cepat dengan pertumbuhan 34,3 persen. Meski demikian, defisit anggaran tetap terkendali.

Purbaya merinci, pendapatan negara hingga April mencapai Rp918,4 triliun, sedangkan belanja negara sebesar Rp1.082,8 triliun, sehingga defisit APBN tercatat Rp164,4 triliun atau setara 0,64 persen terhadap PDB. Angka ini menurun dibandingkan Maret 2026 yang sebesar 0,93 persen.

Ia menambahkan, pertumbuhan penerimaan pajak didorong oleh meningkatnya aktivitas ekonomi serta perbaikan implementasi sistem coretax. Mayoritas jenis pajak utama juga menunjukkan kinerja positif, mencerminkan kondisi penghasilan dan konsumsi masyarakat yang tetap stabil.

Selain itu, penerimaan cukai tumbuh seiring meningkatnya produksi rokok pada triwulan I 2026 yang mencapai Rp74,8 triliun, naik 2,2 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Untuk bea masuk, pertumbuhan tetap terjaga didorong oleh peningkatan impor komoditas seperti LPG dan kebutuhan proyek. Sementara itu, bea keluar yang sempat terkontraksi mulai menunjukkan perbaikan seiring kenaikan harga minyak sawit mentah (CPO) pada Maret dan April 2026.