Tol Serpong–Bogor via Parung Dikebut, Waktu Tempuh Ditargetkan Hanya 45 Menit

0
66
Menteri Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo (Foto: Kemen PU)

(Vibizmedia – Jakarta) Kementerian Pekerjaan Umum (Kemen PU) terus mempercepat persiapan pembangunan Jalan Tol Serpong–Bogor melalui Parung sepanjang 32 kilometer. Proyek strategis nasional ini diharapkan menjadi jalur utama baru yang mampu memangkas waktu tempuh Bogor–Tangerang menjadi sekitar 45 menit, sekaligus menurunkan biaya logistik di kawasan Jabodetabek.

Hingga pertengahan 2026, penyusunan perencanaan teknis proyek telah mencapai kemajuan signifikan dan ditargetkan rampung pada akhir tahun. Menteri PU Dody Hanggodo menyebut progres perencanaan saat ini sudah mendekati 80 persen dan terus didorong agar seluruh tahapan dapat diselesaikan tepat waktu, sehingga proyek segera masuk ke fase berikutnya.

Proyek dengan nilai investasi sekitar Rp12,35 triliun ini akan dikerjakan melalui skema Kerja Sama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU) murni tanpa menggunakan APBN. Pelaksanaan konstruksi sekaligus pengelolaan operasional selama masa konsesi 40 tahun akan ditangani PT Bogor Serpong Infra Selaras, konsorsium yang terdiri dari PT Jasa Marga, PT Adhi Karya, PT Hutama Karya Infrastruktur, dan PT Persada Utama Infra.

Secara teknis, ruas tol ini terbagi dalam empat seksi, yakni Salabenda–Pondok Udik, Pondok Udik–Putat Nutug, Putat Nutug–Rumpin, serta Rumpin–Serpong.

Untuk mendukung konektivitas dengan jaringan tol eksisting, proyek ini akan dilengkapi dua junction utama di Salabenda dan Serpong, serta tiga simpang susun di Pondok Udik, Putat Nutug, dan Rumpin.

Kementerian PU menegaskan pembangunan nantinya harus memenuhi standar teknis dan regulasi ketat, mencakup aspek geometrik jalan, keselamatan konstruksi, hingga Standar Pelayanan Minimal (SPM) jalan tol.

Keberadaan tol ini diharapkan tidak hanya mengurangi kemacetan di jalur arteri, tetapi juga mendorong tumbuhnya pusat-pusat ekonomi baru di koridor Parung. Selain itu, efisiensi distribusi barang dan jasa diharapkan dapat menekan biaya logistik serta berkontribusi pada penurunan Incremental Capital Output Ratio (ICOR) nasional.