Indonesia di Persimpangan Kebangkitan Ekonomi

0
78
Kakao Indonesia
Kakao Indonesia. FOTO: KEMENTAN

(Vibizmedia-Kolom) Jakarta menjulang sebagai simbol perubahan Indonesia. Ibu kota yang luas dan padat ini telah berkembang menjadi salah satu pusat teknologi paling sukses di Asia Tenggara. Di tengah tantangan geografis berupa ribuan pulau yang tersebar di seluruh nusantara, digitalisasi menghadirkan harapan baru untuk menghubungkan wilayah-wilayah yang selama ini terpisah oleh lautan.

Saat ini Jakarta menjadi salah satu kawasan urban terbesar dan paling padat di dunia. Jalan-jalannya dipenuhi sepeda motor. Pusat-pusat perbelanjaan selalu ramai oleh pengunjung. Gedung-gedung pencakar langit terus bermunculan dengan kecepatan yang sulit ditemukan di banyak negara berkembang lainnya. Di balik pemandangan tersebut, tersimpan kisah tentang ekonomi yang sedang tumbuh pesat dan ambisi besar sebuah negara untuk naik ke tingkat yang lebih tinggi.

Perekonomian Indonesia sedang mengalami pertumbuhan yang kuat. Investasi asing terus mengalir masuk. Ekspor nikel dalam jumlah besar telah mengubah posisi Indonesia menjadi pusat penting dalam rantai pasok baterai kendaraan listrik dunia. Perusahaan-perusahaan asal China menginvestasikan miliaran dolar untuk membangun kawasan industri dan pabrik di berbagai wilayah Indonesia.

Presiden Prabowo Subianto meyakini bahwa pertumbuhan ini dapat membawa Indonesia menjadi negara maju dalam dua dekade mendatang. Dari sisi angka, optimisme tersebut memang memiliki dasar yang kuat. Indonesia kini termasuk salah satu ekonomi besar dengan pertumbuhan tercepat di dunia. Pada tahun lalu, ekonomi Indonesia tumbuh lebih dari lima persen, melampaui banyak negara di Eropa, Asia Timur, maupun Amerika Latin.

Namun di balik angka pertumbuhan yang mengesankan tersebut, terdapat kenyataan yang lebih kompleks. Meskipun ekonomi berkembang dengan cepat, tidak semua masyarakat merasakan peningkatan kesejahteraan yang sama. Sebagian warga justru merasa bahwa kehidupan mereka tidak banyak berubah menjadi lebih baik.

Kelas menengah Indonesia mulai menyusut. Pertumbuhan upah riil berjalan sangat lambat. Gelombang pemutusan hubungan kerja meningkat di berbagai sektor manufaktur. Pada saat yang sama, pemerintah mengambil berbagai langkah besar untuk mempertahankan laju pertumbuhan ekonomi.

Di sisi lain, kebangkitan industri Indonesia kini sangat bergantung pada modal, teknologi, dan permintaan dari China. Ketergantungan ini semakin menjadi perhatian ketika ketegangan geopolitik antara Beijing dan Washington meningkat. Para investor mulai menunjukkan kehati-hatian. Pasar saham Jakarta menjadi salah satu yang berkinerja paling lemah di Asia pada tahun ini. Nilai tukar rupiah mengalami tekanan. Muncul pula kekhawatiran bahwa Indonesia dapat mengikuti pola ekonomi populis yang pernah menimbulkan ketidakstabilan di sejumlah negara kaya sumber daya alam.

Masalah Indonesia bukanlah karena pertumbuhan ekonominya semu. Pertumbuhan tersebut nyata dan terlihat jelas. Tantangannya adalah bahwa faktor-faktor yang mendorong kebangkitan ekonomi saat ini berpotensi menciptakan kerentanan di masa depan.Pertanyaan besar pun muncul. Apakah Indonesia sedang menuju posisi sebagai kekuatan ekonomi besar Asia berikutnya? Ataukah pertumbuhan yang terjadi saat ini dibangun di atas fondasi yang masih rapuh?

Sepanjang sebagian besar abad ke-20, Indonesia dikenal sebagai negara yang kaya sumber daya alam tetapi belum mampu mengoptimalkan potensinya. Dengan lebih dari 17.000 pulau serta cadangan minyak, gas alam, dan nikel yang melimpah, Indonesia sering menghadapi persoalan korupsi, keterbatasan infrastruktur, dan ketidakstabilan ekonomi.Bagi banyak orang Indonesia, sorotan dunia terhadap negara ini bukanlah hal yang sering terjadi. Momen ketika ekonomi dan politik Indonesia benar-benar menjadi perhatian global terjadi pada akhir 1990-an saat Krisis Keuangan Asia melanda kawasan.

Sistem ekonomi yang saat itu ditopang oleh jaringan kroni runtuh dalam waktu singkat. Nilai tukar rupiah anjlok. Kerusuhan terjadi di Jakarta. Krisis tersebut pada akhirnya mengakhiri pemerintahan Presiden Soeharto yang telah berkuasa selama 32 tahun.Namun dalam dua dekade terakhir, Indonesia mengalami transformasi yang cukup mengesankan. Sebelum krisis, khususnya antara tahun 1980-an hingga pertengahan 1990-an, Indonesia pernah menikmati pertumbuhan ekonomi yang cepat berkat pendapatan minyak, ekspansi manufaktur, dan berbagai reformasi pasar.

Perubahan besar berikutnya terjadi pada era Presiden Joko Widodo. Pemerintah menempatkan pembangunan infrastruktur sebagai prioritas utama. Investasi asing didorong masuk. Selain itu diterapkan kebijakan hilirisasi, yaitu strategi untuk menghentikan ekspor bahan mentah dan mendorong pengolahan sumber daya alam di dalam negeri.

Hasilnya adalah pola pertumbuhan yang relatif stabil. Selama bertahun-tahun, ekonomi Indonesia mampu tumbuh sekitar lima persen setiap tahun, sesuatu yang cukup langka bagi negara berkembang berukuran besar.Saat ini Indonesia merupakan negara demokrasi terbesar ketiga, dan negara dengan jumlah penduduk terbesar keempat di dunia. Lebih dari 276 juta jiwa tinggal di ribuan pulau yang membentang dari barat hingga timur.

Berbeda dengan negara-negara yang sangat bergantung pada ekspor seperti Korea Selatan atau Taiwan, mesin utama ekonomi Indonesia adalah konsumsi domestik. Pasar konsumennya sangat besar. Angkatan kerjanya relatif muda. Ekonomi digital berkembang pesat dan membantu menghubungkan berbagai wilayah menjadi satu pasar yang semakin terintegrasi.

Lebih dari 100 juta orang menggunakan layanan digital untuk pembayaran elektronik, transportasi daring, perdagangan elektronik, hingga jasa logistik. Aktivitas ekonomi digital tersebut menghasilkan transaksi bernilai puluhan miliar dolar setiap tahun.Selain ukuran pasar yang besar, Indonesia juga menjadi sangat penting karena kekayaan sumber daya alamnya. Negara ini memiliki lebih dari seperlima cadangan nikel dunia. Logam tersebut menjadi komponen penting dalam produksi baterai kendaraan listrik.

Pemerintah Indonesia memilih strategi yang berbeda dibanding banyak negara berkembang lainnya. Alih-alih hanya mengekspor bahan mentah, Indonesia berupaya memastikan bahwa lebih banyak proses produksi dilakukan di dalam negeri.Pada tahun 2020, pemerintah melarang ekspor bijih nikel mentah. Perusahaan yang ingin memanfaatkan nikel Indonesia diwajibkan melakukan pemrosesan dan pemurnian di dalam negeri. Strategi ini tergolong berani dan agresif.

Namun hasilnya sangat signifikan. Investasi asing mengalir deras ke Indonesia. Kawasan industri besar bermunculan di berbagai daerah yang sebelumnya relatif terpencil. Saat ini Indonesia menghasilkan nikel dalam jumlah yang bahkan melampaui total produksi gabungan negara-negara lain.Perusahaan-perusahaan China memainkan peran besar dalam perkembangan ini. Mereka membangun rantai pasok yang terintegrasi, mulai dari penambangan, pemurnian, hingga produksi bahan baku baterai kendaraan listrik.

Untuk beberapa waktu, strategi tersebut terlihat sebagai keberhasilan besar. Pertumbuhan ekonomi tetap kuat. Infrastruktur berkembang pesat. Investasi asing meningkat tajam. Indonesia tampak memiliki peluang untuk keluar dari jebakan pendapatan menengah yang selama ini menghambat banyak negara berkembang.

Salah satu daya tarik Indonesia adalah kemampuannya menggabungkan sistem demokrasi dengan reformasi ekonomi jangka panjang. Setelah pengalaman pahit pada akhir 1990-an, sistem politik yang lebih pluralistik berkembang dengan penekanan pada kompromi dan stabilitas sosial.Meski korupsi masih menjadi masalah serius, perekonomian secara bertahap menjadi lebih terbuka. Akan tetapi, keberhasilan tersebut juga menyembunyikan sejumlah kelemahan yang semakin terlihat.

Dalam lima tahun terakhir, jutaan orang Indonesia keluar dari kelompok kelas menengah. Jumlah penduduk yang dikategorikan sebagai kelas menengah turun dari lebih dari 57 juta menjadi kurang dari 48 juta orang.Masalahnya bukan karena masyarakat berhenti bekerja. Indonesia tetap menciptakan jutaan lapangan pekerjaan setiap tahun. Persoalannya terletak pada jenis pekerjaan yang tersedia.

Semakin banyak pekerja yang berada dalam sektor dengan produktivitas rendah dan pendapatan terbatas. Pedagang kaki lima, pengemudi layanan antar, pekerja kontrak sementara, serta berbagai pekerjaan ekonomi digital tanpa kepastian jangka panjang menjadi semakin dominan.Sementara itu, sektor-sektor yang selama ini menjadi sumber pekerjaan kelas menengah menghadapi tekanan besar. Banyak pabrik melakukan pengurangan tenaga kerja akibat persaingan yang semakin ketat, otomatisasi, serta melemahnya permintaan global.

Sebagian perusahaan bahkan memindahkan fasilitas produksinya ke negara lain di Asia Tenggara. Bagi pekerja yang masih bertahan, kenaikan upah sering kali tidak mampu mengimbangi kenaikan harga barang dan jasa.Akibatnya, meskipun pendapatan nominal meningkat, daya beli masyarakat tidak bertambah secara signifikan. Penjualan sepeda motor dan mobil masih berada di bawah tren sebelum pandemi. Masalah utang rumah tangga mulai meningkat. Banyak keluarga menjadi semakin bergantung pada subsidi dan bantuan sosial untuk mempertahankan standar hidup mereka.

Situasi ini menciptakan tantangan besar dalam jangka panjang. Sebuah negara tidak menjadi makmur hanya dengan mengekstraksi sumber daya alam atau membangun fasilitas pengolahan. Kemakmuran berkelanjutan membutuhkan kelas menengah yang besar, produktif, dan berpenghasilan tinggi.

Kelompok inilah yang biasanya menjadi penggerak konsumsi, investasi, inovasi, serta penerimaan pajak negara. Namun model pertumbuhan Indonesia saat ini menghasilkan manfaat yang tidak merata. Sektor-sektor yang terkait dengan komoditas dan hilirisasi berkembang pesat, sementara sebagian besar masyarakat belum merasakan manfaat yang sama besar.Kisah ekonomi Indonesia menjadi semakin rumit karena kebangkitan industrinya tidak hanya bergantung pada nikel, tetapi juga pada China.

Selama satu dekade terakhir, perusahaan-perusahaan China yang didukung bank negara, kebijakan industri, dan modal besar memperluas investasi mereka ke berbagai negara berkembang. Tujuannya adalah mengamankan pasokan bahan baku penting bagi transisi energi hijau.Lithium dicari di Amerika Selatan. Kobalt diperoleh dari Afrika Tengah. Tembaga menjadi fokus di Peru. Sementara Indonesia menjadi pusat perhatian karena cadangan nikelnya yang sangat besar.

Perusahaan-perusahaan China menginvestasikan miliaran dolar di kawasan industri seperti Morowali dan Weda Bay. Kawasan-kawasan tersebut bukan sekadar kumpulan pabrik biasa. Mereka dirancang sebagai ekosistem industri terintegrasi yang mengendalikan seluruh proses produksi dari tambang hingga pengolahan bahan kimia untuk baterai.Saat ini, sebagian besar kapasitas pemurnian nikel Indonesia berada di bawah kendali perusahaan-perusahaan China. Hubungan ekonomi antara kedua negara pun menjadi sangat erat.

Pada awalnya, hubungan ini terlihat menguntungkan semua pihak. Indonesia memperoleh investasi, infrastruktur, lapangan pekerjaan, dan peningkatan ekspor. China mendapatkan pasokan mineral strategis yang dibutuhkan industri kendaraan listriknya.Namun hubungan tersebut juga menciptakan kerentanan baru. Sebagian besar nilai tambah dari ledakan industri nikel masih dinikmati perusahaan asing. Banyak posisi teknis dan manajerial dengan pendapatan tinggi tetap didominasi oleh jaringan modal dan keahlian dari luar negeri.

Selama bertahun-tahun, strategi ekonomi Indonesia mendapat keuntungan dari lingkungan global yang relatif stabil. Namun di bawah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, pendekatan ekonomi menjadi lebih agresif.Target pertumbuhan ekonomi delapan persen per tahun ditetapkan. Industrialisasi dipercepat. Infrastruktur diperluas. Program kesejahteraan diperbesar. Semua diarahkan untuk membawa Indonesia menjadi negara berpendapatan tinggi pada tahun 2045.

Salah satu program paling ambisius adalah penyediaan makanan gratis bagi puluhan juta siswa dan ibu hamil di seluruh Indonesia. Pendukung program ini percaya bahwa kebijakan tersebut dapat meningkatkan gizi, kualitas pendidikan, dan pembangunan sumber daya manusia dalam jangka panjang.

Namun biaya program tersebut sangat besar dan diperkirakan mencapai puluhan miliar dolar setiap tahun. Tantangan muncul ketika peningkatan belanja pemerintah bertepatan dengan naiknya harga energi dunia.Meskipun kaya sumber daya alam, Indonesia masih bergantung pada impor minyak. Untuk menjaga stabilitas sosial, pemerintah memberikan subsidi bahan bakar sehingga harga bensin tetap terjangkau.

Ketika ketegangan geopolitik meningkat dan pasar energi menjadi lebih bergejolak, Indonesia menghadapi dua prioritas yang sama-sama mahal, mempertahankan subsidi energi dan membiayai program kesejahteraan yang ambisius. Dalam konteks ini, pelemahan rupiah menjadi perhatian serius. Mata uang yang lebih lemah membuat impor lebih mahal. Beban pembayaran utang luar negeri meningkat. Biaya subsidi bahan bakar juga bertambah karena harga minyak ditetapkan dalam dolar Amerika Serikat.

Apakah semua tantangan tersebut berarti Indonesia sedang menuju krisis? Belum tentu.

Dibandingkan banyak negara berkembang lainnya, Indonesia masih memiliki berbagai keunggulan yang signifikan. Namun negara ini kini memasuki tahap pembangunan yang jauh lebih sulit. Pada tahap awal, pertumbuhan dapat didorong melalui ekspor komoditas, pembangunan infrastruktur, dan perpindahan tenaga kerja dari sektor pertanian ke sektor industri.

Tahap berikutnya jauh lebih menantang. Indonesia harus meningkatkan produktivitas, memperkuat inovasi, mengembangkan manufaktur berteknologi tinggi, dan menciptakan tenaga kerja dengan keterampilan yang lebih maju.Di sinilah banyak negara terjebak dalam apa yang dikenal sebagai jebakan pendapatan menengah. Keberhasilan ekonomi pada akhirnya tidak diukur dari jumlah smelter yang dibangun atau seberapa tinggi pasar saham naik selama masa boom.Keberhasilan yang sesungguhnya diukur dari apakah masyarakat biasa benar-benar merasakan peningkatan kualitas hidup mereka dari waktu ke waktu. Pertanyaan itulah yang masih harus dijawab oleh Indonesia.

Apakah Indonesia akan berhasil menjadi kekuatan ekonomi besar Asia berikutnya, atau justru menghadapi ketidakstabilan yang lahir dari faktor-faktor yang selama ini mendorong pertumbuhannya? Jawabannya masih akan ditentukan oleh perjalanan waktu dan kebijakan yang diambil pada tahun-tahun mendatang.