Ulang Tahun ke-500 Jakarta dan Tantangan Menjadi Kota Dunia

0
49
Jakarta
Kawasan Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta. (Foto: Pemprov DKI)

(Vibizmedia-Kolom) Menjelang ulang tahunnya yang ke-500 pada 2027, Jakarta berada pada sebuah persimpangan sejarah yang penting. Selama berpuluh-puluh tahun kota ini dikenal sebagai pusat pemerintahan Indonesia, tempat berbagai keputusan nasional dilahirkan, sekaligus menjadi magnet ekonomi yang menarik jutaan orang dari seluruh penjuru negeri. Kini, ketika ibu kota negara dipersiapkan berpindah ke Nusantara, muncul pertanyaan besar mengenai masa depan Jakarta. Apakah kota ini akan kehilangan perannya? Ataukah justru menemukan identitas baru yang lebih kuat?

Perdebatan itu menjadi semakin menarik karena Jakarta sesungguhnya tidak sedang kehilangan peran. Sebaliknya, kota ini tengah memasuki babak transformasi baru. Status ibu kota negara memang pada akhirnya akan berpindah, tetapi Jakarta tetap menyandang posisi yang sangat penting dalam struktur ekonomi Indonesia. Bahkan melalui Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2024, Jakarta mendapatkan mandat baru sebagai kota global dan pusat perekonomian nasional.

Mandat tersebut bukan sekadar perubahan istilah administratif. Di dalamnya terkandung visi besar mengenai arah pembangunan Jakarta dalam beberapa dekade mendatang. Jika selama ini Jakarta dikenal sebagai pusat pemerintahan, maka ke depan kota ini diharapkan berkembang menjadi pusat jasa, pusat pengetahuan, pusat kreativitas, dan pusat interaksi global yang mampu bersaing dengan kota-kota besar dunia.

Dalam banyak kasus di dunia, perpindahan ibu kota tidak pernah otomatis menghilangkan peran ekonomi sebuah kota. Australia memiliki Canberra sebagai ibu kota, tetapi Sydney tetap menjadi salah satu mesin ekonomi terpenting negara itu. Amerika Serikat memiliki Washington D.C., tetapi New York tetap menjadi pusat keuangan dunia. Kazakhstan juga menunjukkan pola yang sama ketika ibu kota berpindah dari Almaty ke Astana, sementara Almaty tetap menjadi pusat aktivitas ekonomi.

Jakarta diyakini akan mengikuti jejak tersebut. Kota ini telah membangun fondasi ekonomi yang terlalu besar untuk tiba-tiba kehilangan pengaruhnya. Jaringan bisnis, lembaga keuangan, perusahaan nasional maupun internasional, pusat perdagangan, industri kreatif, hingga konsentrasi talenta terbaik Indonesia telah lama menjadikan Jakarta sebagai penghela utama ekonomi nasional.

Karena itu, tantangan Jakarta saat ini bukanlah mempertahankan statusnya sebagai pusat ekonomi. Tantangan yang jauh lebih besar adalah bagaimana menjadikan kota ini mampu memenuhi standar kota global.

Saat ini Jakarta berada di posisi 71 dari 156 kota global dunia. Target yang dipasang cukup ambisius, yakni masuk ke dalam 50 besar kota global dalam lima tahun ke depan. Untuk mencapai tujuan tersebut, Jakarta tidak bisa hanya mengandalkan pembangunan fisik atau slogan pembangunan. Kota global bukanlah status yang dapat dideklarasikan sendiri. Pengakuan itu harus datang dari dunia internasional berdasarkan kualitas layanan, kualitas hidup, dan kualitas tata kelola yang dimiliki sebuah kota.

Berbagai lembaga internasional memiliki ukuran tersendiri mengenai kota global. Namun secara umum ada sejumlah indikator yang selalu menjadi perhatian, mulai dari aktivitas bisnis, kualitas sumber daya manusia, keterbukaan terhadap investasi, kekuatan budaya, hingga tingkat partisipasi masyarakat dalam kehidupan kota.

Karena itulah Jakarta harus melakukan dua pekerjaan besar sekaligus. Pertama, menyelesaikan berbagai pekerjaan rumah yang selama ini menjadi persoalan klasik. Kedua, melompat menuju standar pelayanan yang dituntut oleh kota-kota global.

Daftar pekerjaan rumah Jakarta masih panjang. Banjir masih menjadi ancaman yang terus muncul setiap tahun. Kemacetan masih menguras waktu dan produktivitas warga. Polusi udara masih menjadi persoalan serius. Di sisi lain, isu keamanan perkotaan juga menjadi perhatian yang semakin besar.

Pekerjaan rumah tersebut tidak bisa diabaikan. Sebab kota global bukan hanya soal gedung pencakar langit atau investasi besar. Kota global juga harus menghadirkan rasa aman, kenyamanan hidup, dan kualitas lingkungan yang baik bagi warganya.

Namun pembangunan Jakarta tidak boleh hanya berkutat pada penyelesaian masalah lama. Kota ini juga harus mulai membangun masa depan. Dalam konteks itulah muncul gagasan menjadikan Jakarta sebagai knowledge city atau kota berbasis pengetahuan.

Konsep ini berangkat dari kenyataan bahwa ekonomi modern semakin bergantung pada kemampuan manusia menciptakan inovasi. Nilai ekonomi tidak lagi hanya dihasilkan oleh pabrik atau sumber daya alam, tetapi oleh kreativitas, teknologi, pengetahuan, dan kemampuan menghasilkan ide baru.

Jakarta memiliki modal yang cukup besar untuk berkembang ke arah tersebut. Kota ini merupakan tempat berkumpulnya jutaan talenta dari seluruh Indonesia. Kampus-kampus terbaik, pusat penelitian, perusahaan teknologi, industri kreatif, dan komunitas inovasi tumbuh di wilayah Jakarta dan kawasan megapolitannya.

Dalam perspektif Perserikatan Bangsa-Bangsa, Jakarta bahkan tidak lagi dilihat sebagai kota administratif semata. Jakarta merupakan bagian dari wilayah megapolitan yang dihuni lebih dari 40 juta orang. Interaksi ekonomi, sosial, dan budaya yang terjadi di kawasan ini menjadikannya salah satu konsentrasi manusia terbesar di dunia.

Di tengah perkembangan tersebut, muncul kesadaran bahwa pembangunan kota berbasis pengetahuan membutuhkan lebih dari sekadar gedung perkantoran atau infrastruktur digital. Yang dibutuhkan adalah ekosistem.

Ekosistem itu dibangun melalui inovasi, talenta, dan teknologi. Ketiga unsur tersebut harus tumbuh secara bersamaan. Inovasi membutuhkan ruang untuk berkembang. Talenta membutuhkan kesempatan untuk berkarya. Teknologi membutuhkan dukungan kebijakan yang konsisten.

Karena itu, salah satu kata kunci yang terus muncul dalam pembahasan mengenai masa depan Jakarta adalah kontinuitas. Pembangunan kota tidak boleh berhenti setiap kali terjadi pergantian pemimpin. Kebijakan tidak boleh meloncat-loncat. Program-program yang baik harus diteruskan dan disempurnakan.

Pembangunan kota adalah pekerjaan lintas generasi. Infrastruktur yang dibangun hari ini mungkin baru dirasakan manfaatnya puluhan tahun kemudian. Karena itu konsistensi menjadi sangat penting.

Selain kontinuitas, pembangunan kota masa depan juga membutuhkan partisipasi yang luas. Di sinilah muncul konsep yang disebut partisipolis, yaitu kota yang dibangun melalui partisipasi aktif warganya.

Dalam konsep tersebut, pemerintah bukan satu-satunya aktor pembangunan. Masyarakat, komunitas, dunia usaha, akademisi, seniman, hingga kelompok anak muda menjadi bagian penting dalam menentukan arah perkembangan kota.

Gagasan inilah yang kemudian melahirkan Jakarta Future Festival. Festival ini bukan sekadar acara seremonial atau hiburan tahunan. Jakarta Future Festival dirancang sebagai ruang pertemuan gagasan yang melibatkan berbagai lapisan masyarakat.

Melalui festival tersebut, pemerintah berupaya menangkap berbagai ide, aspirasi, dan kreativitas yang tumbuh di tengah masyarakat. Hasil diskusi dan pertukaran gagasan itu tidak berhenti sebagai percakapan. Semuanya didokumentasikan dan diolah menjadi bahan pembelajaran serta masukan kebijakan pembangunan kota.

Dalam banyak hal, Jakarta Future Festival dapat dilihat sebagai bentuk musyawarah pembangunan dalam versi yang lebih terbuka dan lebih dekat dengan masyarakat. Jika selama ini perencanaan pembangunan identik dengan ruang rapat birokrasi, maka festival ini mencoba menghadirkan proses tersebut dalam suasana yang lebih inklusif.

Menariknya, peserta festival tidak hanya berasal dari kalangan akademisi atau birokrat. Komunitas seni, kelompok literasi, pegiat lingkungan, penggemar astronomi, komunitas tari, hingga kelompok anak muda turut dilibatkan.

Pendekatan ini mencerminkan perubahan cara pandang terhadap kota. Pengetahuan tidak hanya lahir dari ruang kuliah atau lembaga penelitian. Pengetahuan juga lahir dari pengalaman warga, komunitas, dan berbagai bentuk interaksi sosial yang berlangsung sehari-hari.

Jakarta memiliki sejarah panjang dalam melahirkan ruang-ruang kreativitas seperti itu. Pada masa lalu, gelanggang remaja di Bulungan, Senen, maupun kawasan Taman Ismail Marzuki menjadi tempat bertemunya para seniman, penulis, budayawan, dan aktivis muda.

Dari tempat-tempat tersebut lahir banyak tokoh yang kemudian memainkan peran penting dalam kehidupan nasional. Mereka bukan hanya menghasilkan karya seni, tetapi juga melahirkan gagasan dan pemikiran yang memengaruhi perkembangan bangsa.

Kini bentuk komunitas memang berubah. Media sosial dan teknologi digital telah menciptakan pola interaksi baru. Anak muda tidak lagi terikat pada satu lokasi fisik tertentu. Mereka berkumpul berdasarkan minat, hobi, dan kesamaan visi.

Namun kebutuhan akan ruang pertemuan tetap ada. Bahkan di tengah era digital, banyak kota di dunia justru kembali menekankan pentingnya ruang publik sebagai tempat interaksi manusia.

Fenomena seperti Citayam Fashion Week pernah menunjukkan bagaimana ruang publik dapat berubah menjadi arena ekspresi kreatif masyarakat. Peristiwa itu memperlihatkan bahwa anak-anak muda sebenarnya memiliki energi besar untuk menciptakan budaya baru apabila diberi ruang yang cukup.

Karena itu, kota masa depan harus mampu menyediakan ruang yang inklusif bagi berbagai bentuk kreativitas warga. Kota yang baik bukan hanya kota yang tertib, tetapi juga kota yang memberi kesempatan bagi warganya untuk berekspresi.

Dalam konteks ini, Jakarta juga mulai melihat potensi besar ekonomi kreatif. Bonus demografi yang dimiliki Indonesia menjadikan Jakarta sebagai rumah bagi jutaan anak muda yang penuh ide dan kreativitas. Tugas pemerintah adalah menyediakan wadah agar energi tersebut dapat berkembang menjadi aktivitas ekonomi yang produktif.

Selain ekonomi kreatif, Jakarta juga mulai melirik potensi ekonomi malam atau yang disebut sebagai owl economy. Banyak kota global tumbuh dengan aktivitas yang berlangsung hampir sepanjang hari. Ketika sebagian warga beristirahat, sebagian lainnya tetap bekerja, belajar, berkarya, atau berinteraksi.

Perubahan pola kerja pascapandemi mempercepat fenomena ini. Banyak orang kini bekerja dari mana saja dan kapan saja. Aktivitas ekonomi tidak lagi terikat pada jam kantor tradisional.

Karena itu, ekonomi malam dipandang sebagai peluang besar bagi Jakarta. Mulai dari kuliner, hiburan, pendidikan, hingga industri kreatif memiliki potensi berkembang pada malam hari.Di sisi lain, Jakarta juga mulai mengidentifikasi berbagai potensi yang selama ini kurang mendapatkan perhatian. Salah satunya adalah kawasan utara Jakarta.

Selama bertahun-tahun, Jakarta Utara sering lebih dikenal karena persoalan banjir rob dan penurunan muka tanah. Namun berbagai rencana pembangunan terbaru menunjukkan bahwa kawasan ini dapat menjadi salah satu pusat pertumbuhan baru.

Revitalisasi kawasan pesisir, pengembangan destinasi wisata, peningkatan konektivitas transportasi, hingga pengembangan Kepulauan Seribu membuka peluang besar bagi transformasi wilayah tersebut.

Pembangunan MRT yang terus diperluas juga menjadi bagian penting dari strategi tersebut. Mobilitas yang semakin baik akan membuka akses yang lebih luas bagi pertumbuhan ekonomi dan aktivitas sosial masyarakat.Pada akhirnya, seluruh upaya tersebut bermuara pada satu tujuan besar: menjadikan Jakarta sebagai kota yang hijau, cerdas, inklusif, dan tangguh.

Kota yang hijau berarti mampu menjaga kualitas lingkungan hidupnya. Kota yang cerdas berarti mampu memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan kualitas pelayanan. Kota yang inklusif berarti menjadi milik semua orang tanpa kecuali. Sementara kota yang tangguh berarti mampu menghadapi berbagai guncangan ekonomi, sosial, maupun lingkungan.

Lebih dari itu, Jakarta juga harus menjadi kota yang tidak hanya layak dihuni, tetapi juga dicintai. Kota yang mampu membuat warganya merasa memiliki dan bangga menjadi bagian darinya.

Menjelang ulang tahunnya yang ke-500, Jakarta sesungguhnya sedang melakukan refleksi besar atas identitasnya. Kota ini tidak lagi semata-mata mendefinisikan dirinya sebagai pusat pemerintahan. Jakarta sedang membangun narasi baru sebagai kota pengetahuan, kota kreativitas, kota keberagaman, dan kota global yang tetap berpijak pada karakter lokalnya.

Lima abad perjalanan Jakarta telah membuktikan bahwa kota ini selalu mampu beradaptasi terhadap perubahan zaman. Dari pelabuhan kecil di masa lalu, menjadi pusat perdagangan kolonial, kemudian berkembang sebagai ibu kota negara dan pusat ekonomi nasional.

Kini Jakarta kembali menghadapi sebuah transformasi besar. Tantangannya memang tidak ringan. Namun jika mampu menjaga kontinuitas pembangunan, membuka ruang partisipasi warga, mengelola pengetahuan secara kolektif, serta memanfaatkan seluruh potensi yang dimilikinya, Jakarta berpeluang memasuki usia 500 tahun bukan sebagai kota yang kehilangan peran, melainkan sebagai kota yang menemukan masa depannya.