(Vibizmedia-Kolom) Di kawasan pinggiran Guadalajara yang hijau, tenang, dan dikenal sebagai area kelas atas, tempat rumah-rumah mewah berdiri berdampingan dengan pusat perbelanjaan modern, ditemukan 89 kantong berisi sisa-sisa jasad manusia sepanjang satu tahun terakhir. Sebagian ditemukan di jurang-jurang terpencil, sementara sebagian lainnya digali dari kuburan tanpa penanda.
Hanya beberapa kilometer dari lokasi penemuan tersebut, ribuan penggemar sepak bola akan memadati Stadion Akron yang berbentuk menyerupai gunung berapi di pinggiran Guadalajara untuk menyaksikan pertandingan pertama dari empat laga Piala Dunia yang akan digelar di stadion itu mulai Kamis.
Empat bulan setelah gelombang kekerasan kartel melumpuhkan Guadalajara dan wilayah sekitarnya di Negara Bagian Jalisco, pemerintah Meksiko kini menggelar operasi pengamanan bernilai jutaan dolar untuk meyakinkan dunia bahwa turnamen dapat berlangsung dengan aman. Guadalajara memiliki posisi yang sangat sensitif karena berada di negara bagian yang menjadi basis Kartel Generasi Baru Jalisco (CJNG), salah satu organisasi kriminal terbesar dan paling kejam di Meksiko.
Di sekitar Stadion Akron, area pengamanan luas telah dipagari secara ketat. Di udara, helikopter Black Hawk yang membawa penembak jitu akan berpatroli, sementara di darat armada Tesla Cybertruck akan membantu mengoperasikan sistem perlindungan elektronik anti-drone yang dipasang di sekitar stadion.
Sekitar 100.000 personel keamanan dikerahkan di berbagai kota tuan rumah, termasuk Mexico City dan Monterrey.
Bagi pemerintah Meksiko maupun jaringan ekonomi bawah tanah yang hidup berdampingan dengannya, penyelenggaraan Piala Dunia menjadi pertaruhan besar. Para analis keamanan menilai organisasi-organisasi kriminal Meksiko, terutama Kartel Jalisco yang memiliki pengaruh kuat di Guadalajara, kemungkinan besar akan menerapkan gencatan senjata taktis selama turnamen berlangsung. Alih-alih menciptakan kekacauan, mereka diperkirakan akan memanfaatkan kedatangan puluhan ribu wisatawan untuk memperoleh keuntungan dari penjualan narkoba dan berbagai layanan ilegal lainnya.
Di sisi lain, kelompok-kelompok aktivis berupaya memastikan para wisatawan tidak menutup mata terhadap kekerasan yang membentuk kehidupan sehari-hari di Guadalajara dan banyak wilayah lain di Meksiko.
Lebih dari 130.000 orang dilaporkan hilang di seluruh Meksiko. Sebagian besar diyakini menjadi korban penculikan atau pembunuhan yang dilakukan kartel, dan dalam beberapa kasus melibatkan kerja sama dengan aparat penegak hukum. Keluarga korban memasang poster berisi foto-foto anggota keluarga yang hilang di sekitar lokasi penyelenggaraan Piala Dunia dan berencana mengikuti demonstrasi yang dapat mengganggu akses menuju Stadion Azteca di Mexico City pada pertandingan pembukaan.
Héctor Flores, salah satu pendiri kelompok Light of Hope, mengatakan bahwa organisasinya ingin masyarakat internasional mengetahui kenyataan yang terjadi di Meksiko. Flores, yang relawannya menemukan tengkorak manusia di sebuah jurang di Zapopan pekan sebelumnya, menegaskan bahwa setiap hari ada warga yang menghilang di negara tersebut, namun perhatian terhadap tragedi itu hampir sepenuhnya hanya datang dari keluarga korban.
Berbagai kelompok lain juga ikut bergabung dalam aksi protes. Dalam dua pekan terakhir, faksi militan dari serikat guru nasional memblokade jalur transportasi utama, merobohkan patung-patung pemain Piala Dunia, dan mencoret berbagai materi promosi dengan grafiti anti-pemerintah. Sejumlah organisasi politik kiri radikal lainnya juga bersiap mengikuti aksi demonstrasi yang dijadwalkan berlangsung pada hari pembukaan.
Presiden Meksiko, Claudia Sheinbaum, berupaya menampilkan citra stabilitas dengan menegaskan bahwa pemerintah tidak akan menindak demonstrasi secara represif. Untuk mengurangi potensi kekacauan di Mexico City, pemerintah menutup sekolah-sekolah dan menginstruksikan pegawai federal untuk bekerja dari rumah pada hari pembukaan. Sheinbaum juga menyatakan bahwa pemerintah akan memastikan perayaan pembukaan Piala Dunia berlangsung dengan damai, tertib, dan aman.
Kekhawatiran terhadap keamanan turnamen sempat memuncak pada Februari lalu ketika pasukan keamanan Meksiko menewaskan pemimpin Kartel Jalisco, Nemesio “El Mencho” Oseguera, dalam baku tembak berdarah. Sebagai balasan, kartel melakukan serangkaian aksi kekerasan dengan membajak dan membakar bus untuk memblokade jalan-jalan utama, membakar toko-toko serba ada, serta menewaskan lebih dari dua lusin anggota Garda Nasional.
Gabriela Cuevas, perwakilan Meksiko untuk Piala Dunia FIFA, menepis kekhawatiran bahwa kekerasan serupa akan terjadi selama turnamen berlangsung. Menurutnya, situasi di Jalisco telah kembali normal sepenuhnya dalam waktu 72 jam setelah bentrokan Februari tersebut. Ia juga mengingatkan bahwa Meksiko memiliki pengalaman panjang sebagai tuan rumah berbagai acara internasional besar, termasuk penyelenggaraan acara resmi FIFA di Guadalajara hanya beberapa hari setelah kerusuhan terjadi. Selain itu, daya tarik budaya Jalisco seperti tequila dan musik mariachi terus menjadikan Meksiko sebagai salah satu destinasi wisata paling populer di dunia.
Departemen Luar Negeri Amerika Serikat baru-baru ini memperingatkan para penggemar yang akan menghadiri pertandingan di Meksiko agar waspada terhadap pencopetan dan penipuan serta menghindari penggunaan taksi yang dihentikan di pinggir jalan. Meski demikian, minat wisatawan tetap tinggi. Guadalajara bersama Vancouver tercatat memiliki tingkat okupansi hotel tertinggi di antara seluruh kota penyelenggara turnamen.
Sejumlah mantan pejabat keamanan Meksiko dan Amerika Serikat menilai bahwa bentrokan pada Februari lalu memang memperlihatkan terbatasnya kendali pemerintah atas sebagian wilayah Jalisco. Namun mereka juga meyakini bahwa kartel memahami besarnya nilai ekonomi yang dipertaruhkan. Serangan terhadap wisatawan asing atau gangguan terhadap turnamen bernilai miliaran dolar berpotensi memicu operasi penindakan besar-besaran dari pemerintah federal, bahkan mungkin melibatkan dukungan intelijen dan penegakan hukum dari Amerika Serikat. Skenario semacam itu diyakini ingin dihindari oleh kartel.
Sebaliknya, dunia kriminal melihat Piala Dunia sebagai peluang ekonomi yang sangat menguntungkan. Sebuah studi bersama yang dipimpin Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) dan FIFA memperkirakan bahwa setiap pengunjung akan membelanjakan lebih dari 400 dolar AS per hari, menciptakan sumber pendapatan sementara yang sangat besar.
Analis keamanan yang berbasis di Mexico City, Eduardo Guerrero, memperkirakan kelompok kejahatan terorganisasi akan memanfaatkan momentum tersebut untuk menawarkan berbagai layanan ilegal. Menurutnya, perdagangan narkoba, prostitusi, dan transportasi tanpa izin akan berkembang pesat seiring melonjaknya permintaan selama turnamen berlangsung.
Menghadapi tantangan berupa pengelolaan demonstrasi dan pengawasan jaringan kartel secara bersamaan, pemerintah daerah memilih strategi pencegahan dibandingkan konfrontasi langsung. Kepala Keamanan Negara Bagian Jalisco, Juan Pablo Hernández, mengonfirmasi bahwa pemerintah akan menghindari operasi besar-besaran terhadap kartel selama periode Piala Dunia. Ia menjelaskan bahwa operasi semacam itu berpotensi memicu bentrokan yang dapat membahayakan masyarakat maupun wisatawan. Karena itu, pemerintah memilih menampilkan kekuatan keamanan secara masif dan terbuka sebagai upaya menjaga ketertiban.
Pekan lalu, Hernández memamerkan berbagai aset yang akan digunakan selama turnamen. Di luar akademi kepolisian dipajang deretan sepeda motor, anjing robot penjinak bom, Cybertruck, drone pengintai, perangkat pengacak drone, kendaraan lapis baja, senapan mesin, serta tim spesialis bahan peledak.
Secara keseluruhan, Pemerintah Negara Bagian Jalisco telah menghabiskan sekitar 11 juta dolar AS untuk pengadaan peralatan berteknologi tinggi tersebut.
Bagi keluarga para korban yang hilang, pengeluaran jutaan dolar untuk sistem perlindungan stadion dianggap sebagai ironi yang menyakitkan. Menurut lembaga kajian México Evalúa, jumlah kasus orang hilang di Meksiko telah meningkat lebih dari dua kali lipat dalam satu dekade terakhir. Jalisco menempati posisi tertinggi secara nasional dengan lebih dari 16.000 kasus yang belum terselesaikan.
Para aktivis menilai lembaga pemerintah yang bertugas mencari orang hilang mengalami kekurangan staf dan sumber daya sehingga proses pencarian sering tertunda hingga berbulan-bulan.
Untuk memaksa para pengunjung internasional menghadapi kenyataan tersebut, berbagai kelompok aktivis menjadikan simbol-simbol Piala Dunia sebagai media kampanye. Di luar zona resmi penggemar FIFA di Guadalajara, kelompok Light of Hope memasang foto-foto anggota keluarga yang hilang di berbagai dinding kota. Foto-foto itu dimodifikasi secara digital agar menyerupai kartu koleksi pemain resmi Piala Dunia FIFA.
Jaime Aguilar, relawan Search Warriors of Jalisco yang aktif mencari kuburan rahasia di berbagai wilayah negara bagian tersebut, menilai persoalan utama bukan hanya kurangnya sumber daya, tetapi juga kurangnya kemauan politik. Menurutnya, sumber daya sebenarnya tersedia, namun selama penyelenggaraan Piala Dunia justru terlihat begitu banyak pengeluaran yang dianggap berlebihan demi memenuhi standar yang ditetapkan FIFA, sementara upaya pencarian orang hilang masih kekurangan dukungan yang memadai.









