(Vibizmedia -Kolom) Para pengusaha truk yang mampu bertahan melewati hampir empat tahun tekanan tarif angkutan akhirnya mulai melihat tanda-tanda perbaikan.
Webb Estes, Presiden dan Chief Operating Officer Estes Express Lines yang berbasis di Richmond, Virginia, mengatakan bahwa kondisi saat ini memberikan semacam kelegaan bagi industri yang selama beberapa tahun terakhir berada di bawah tekanan berat dan mulai kehilangan optimisme.
Para eksekutif industri truk menilai salah satu periode pelemahan angkutan terpanjang dalam ingatan pelaku usaha akhirnya mendekati akhir. Mereka menyebut tarif angkutan telah meningkat ke tingkat yang lebih berkelanjutan setelah bertahun-tahun pendapatan rendah. Selain itu, kebijakan pemerintahan Trump yang memperketat aturan bagi pengemudi imigran turut mengurangi jumlah perusahaan yang beroperasi di pasar.
Logistics Managers’ Index, survei bulanan terhadap para manajer rantai pasok, menunjukkan bahwa harga transportasi pada Mei meningkat dengan laju tercepat dibandingkan metrik lainnya dalam sejarah laporan tersebut yang telah berlangsung selama satu dekade. Laporan itu menggambarkan bahwa pasar transportasi kini berada pada kondisi terkuat dalam lebih dari empat tahun terakhir.
Menurut laporan FTR Transportation Intelligence dan Truckstop.com, tarif spot untuk truk dry-van pada pekan yang berakhir 5 Juni meningkat sekitar 52 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu, di luar biaya tambahan bahan bakar.
Estes menjelaskan bahwa membaiknya pasar angkutan dalam beberapa bulan terakhir mendorong perusahaannya menambah armada yang kini berjumlah lebih dari 10.500 truk sekaligus memperluas jumlah pengemudi yang mencapai sekitar 11.000 orang.
Sidney Brown, salah satu pemilik sekaligus Chief Executive NFI Industries yang mengoperasikan salah satu armada truk terbesar di Amerika Serikat, mengatakan bahwa tarif angkutan terus meningkat meskipun volume pengiriman relatif datar atau hanya sedikit lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya.
Brown menilai pemulihan industri kali ini lebih banyak didorong oleh berkurangnya kapasitas angkutan yang tersedia dibandingkan peningkatan permintaan barang. Dengan kata lain, jumlah truk yang beroperasi berkurang lebih cepat daripada pertumbuhan volume muatan.
Perubahan kondisi tersebut terjadi setelah empat tahun industri tertekan oleh kombinasi kelebihan pasokan truk dan minimnya muatan yang tersedia. Selama pandemi Covid-19, banyak pengemudi masuk ke industri karena lonjakan permintaan konsumen mendorong tarif angkutan ke tingkat rekor.
Namun, pada 2022 tarif angkutan merosot tajam sehingga memaksa ratusan ribu perusahaan angkutan kecil menghentikan operasinya. Banyak operator tetap bertahan meskipun biaya tenaga kerja, peralatan, dan asuransi terus meningkat.
Gelombang keluarnya perusahaan dari industri semakin cepat dalam setahun terakhir setelah pemerintahan Trump menerapkan aturan kemampuan berbahasa Inggris bagi pengemudi serta memperkenalkan regulasi yang membatasi banyak imigran untuk memperoleh atau memperbarui lisensi mengemudi komersial. Hingga akhir tahun lalu, sejumlah perusahaan angkutan berukuran menengah juga terpaksa menutup usaha mereka.
Para analis industri menilai pasar kini telah mencapai keseimbangan baru, di mana jumlah truk yang tersedia cukup rendah untuk kembali mendorong kenaikan tarif angkutan. Kenaikan harga bahan bakar akibat perang di Iran memang meningkatkan biaya operasional perusahaan truk. Namun sebagian besar operator berhasil meneruskan tambahan biaya tersebut kepada pelanggan mereka.
Shelley Simpson, Chief Executive J.B. Hunt Transport Services, dalam konferensi laporan keuangan April menyampaikan bahwa kondisi pasar saat ini terasa jauh berbeda dibandingkan beberapa tahun terakhir. Ia juga menyatakan keyakinannya bahwa industri sedang bergerak menuju jalur pemulihan meskipun titik balik suatu siklus bisnis selalu sulit diprediksi secara tepat.
Old Dominion Freight Line melaporkan bahwa pendapatan per seratus pon muatan, di luar biaya tambahan bahan bakar, meningkat 5,4 persen secara tahunan untuk kuartal kedua hingga Mei. Perusahaan tersebut merupakan salah satu operator terbesar di segmen less-than-truckload yang menggabungkan pengiriman dari berbagai perusahaan dalam satu kendaraan.
Chief Executive Old Dominion, Marty Freeman, mengatakan bahwa permintaan terus menunjukkan peningkatan seiring berjalannya kuartal.Meski demikian, pemulihan belum terjadi secara merata. Permintaan konsumen masih relatif datar, begitu pula pembangunan rumah baru yang selama ini menjadi salah satu pendorong utama aktivitas logistik.
Di sisi lain, aktivitas manufaktur Amerika Serikat pada Mei meningkat untuk bulan kelima berturut-turut menurut Institute for Supply Management. Lonjakan kebutuhan pembangunan pusat data baru juga membantu mendorong tarif spot truk flatbed ke tingkat tertinggi sepanjang sejarah berdasarkan laporan FTR dan Truckstop.com.
Daniel Moore, analis riset senior di perusahaan jasa keuangan Baird, mengatakan bahwa sektor manufaktur Amerika Serikat mulai menunjukkan percepatan yang semakin memberikan dampak positif terhadap volume pengiriman barang.
Sementara itu, Jason Miller, profesor logistik di Michigan State University, menjelaskan bahwa industri kini menunggu arah kebijakan Federal Reserve setelah laporan ketenagakerjaan April menunjukkan pasar tenaga kerja yang tetap kuat. Menurutnya, apabila bank sentral memutuskan menaikkan suku bunga, langkah tersebut berpotensi menekan sisi permintaan dalam industri angkutan truk karena biaya pinjaman yang lebih tinggi dapat memperlambat aktivitas ekonomi dan mengurangi volume pengiriman barang.
Di tengah pemulihan tersebut, industri logistik Amerika Serikat juga mulai menghadapi transformasi teknologi yang berpotensi mengubah cara pengiriman barang dalam jangka panjang. Sejumlah perusahaan besar, termasuk FedEx dan PepsiCo, telah melakukan berbagai uji coba penggunaan truk tanpa pengemudi bersama perusahaan teknologi kendaraan otonom. Setelah bertahun-tahun berada dalam tahap pengembangan, teknologi tersebut mulai dipandang sebagai solusi nyata untuk meningkatkan efisiensi distribusi sekaligus mengatasi tantangan kekurangan pengemudi yang telah lama menghantui industri angkutan.
Kemunculan truk otonom menjadi semakin relevan karena pemulihan pasar saat ini lebih banyak didorong oleh berkurangnya jumlah armada dan pengemudi dibandingkan lonjakan permintaan. Dengan kemampuan beroperasi dalam waktu yang lebih panjang dan memanfaatkan sistem kecerdasan buatan untuk navigasi di jalan raya, kendaraan otonom berpotensi meningkatkan produktivitas armada dan menekan biaya operasional. Bagi perusahaan logistik berskala nasional, teknologi tersebut dapat membantu menjaga kelancaran rantai pasok sekaligus meningkatkan daya saing di tengah tekanan biaya yang terus berubah.
Meskipun demikian, adopsi teknologi ini masih menghadapi berbagai tantangan mulai dari regulasi, aspek keselamatan, hingga penerimaan masyarakat. Banyak pengamat memperkirakan bahwa dalam beberapa tahun ke depan industri akan menerapkan model hibrida, di mana truk otonom menangani perjalanan jarak jauh di jalan tol sementara pengemudi manusia tetap bertugas di area perkotaan dan pusat distribusi. Jika proses transisi berjalan sesuai harapan, maka kebangkitan industri truk saat ini tidak hanya menandai berakhirnya kemerosotan empat tahun terakhir, tetapi juga menjadi awal dari era baru transportasi barang yang semakin mengandalkan otomatisasi dan kecerdasan buatan.









