Kepala BKKBN: Resiliensi Mental Kunci Remaja Hadapi Disrupsi AI dan Perubahan Cepat

0
83
Foto: Dixmedia Hu

(Vibizmedia – Jakarta) Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN, Wihaji, menekankan bahwa kematangan mental atau resiliensi kini menjadi bekal penting yang wajib dimiliki remaja Indonesia. Hal ini dinilai krusial agar generasi muda mampu beradaptasi dengan cepat terhadap perubahan zaman dalam era peradaban baru (New Civilization) yang dipicu oleh derasnya arus informasi serta perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).

Penegasan tersebut disampaikan Wihaji saat menghadiri Adiwarna Nusantara ADUJAKNAS sekaligus Puncak Perayaan Hari Lahir GenRe Indonesia ke-16 di Jakarta, Senin (15/6/2026). Kegiatan ini diikuti oleh ribuan peserta, baik secara langsung maupun daring, dari berbagai daerah di Indonesia.

Wihaji menjelaskan bahwa kemajuan teknologi AI telah memengaruhi cara remaja berpikir, mengambil keputusan, hingga membentuk perspektif mereka terhadap berbagai isu. Dalam kondisi ini, batas antara informasi yang benar dan salah, serta antara edukasi dan hiburan, menjadi semakin kabur. “Hari ini kita menghadapi peradaban baru. AI sangat memengaruhi algoritma kita, semua bisa ditanya di situ, tapi siapa yang bisa mengonfirmasi kebenarannya?” ujarnya.

Ia juga mengingatkan bahwa perubahan yang berlangsung sangat cepat ini dapat menimbulkan fenomena future shock apabila tidak diimbangi dengan kesiapan mental yang memadai. Apalagi, berdasarkan data yang ada, sekitar 34 persen remaja di Indonesia saat ini menghadapi permasalahan terkait kesehatan mental.

Situasi tersebut menjadi semakin penting diperhatikan mengingat Indonesia tengah menikmati bonus demografi besar, dengan sekitar 46 juta keluarga yang memiliki anggota usia 10–24 tahun, yang terdiri dari Generasi Z dan Generasi Alpha. Kelompok ini diproyeksikan akan menjadi pengisi utama posisi strategis kepemimpinan pada periode 2043–2046, bertepatan dengan visi Indonesia Emas 2045.

Dalam kesempatan itu, Wihaji juga mengapresiasi peran Forum GenRe Indonesia sebagai wadah pendampingan remaja. Ia menegaskan bahwa pembinaan generasi muda tidak cukup hanya dengan kreativitas dan inovasi, tetapi juga harus disertai penguatan daya tahan mental agar mereka mampu bangkit dari tekanan dan tantangan kehidupan. “Anak-anak usia 10 sampai 24 tahun ini tidak hanya butuh pegangan, tapi juga butuh dituntun dan diberi jalan keluar,” tegasnya.

Di akhir pernyataannya, Wihaji mengajak seluruh pihak, mulai dari keluarga, sekolah, masyarakat, hingga pemerintah, untuk bersama-sama menjadikan penguatan resiliensi mental sebagai gerakan kolektif. Ia menegaskan bahwa penguasaan teknologi perlu diimbangi dengan kemampuan mengelola emosi dan berpikir kritis, agar generasi muda Indonesia tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga aktor utama dalam membawa bangsa menuju masa depan yang lebih baik.