Pangan Stabil, Inflasi Terkendali; Beras Tak Lagi Jadi Pemicu Utama

0
211
Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman (Foto Humas Kementan)

(Vibizmedia – Nasional) Ketersediaan pangan nasional yang terjaga menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga laju inflasi tetap terkendali. Kementerian Pertanian (Kementan) menyebut stabilnya pasokan beras dan sejumlah komoditas strategis membuat kontribusi sektor pangan terhadap inflasi semakin rendah.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi tahunan (year-on-year) pada Mei 2026 tercatat 3,08 persen, sedangkan inflasi bulanan (month-to-month) sebesar 0,28 persen. Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti mengatakan inflasi pada momentum Iduladha tahun ini relatif lebih rendah dibandingkan saat Idulfitri.

Menurut Amalia, komoditas yang memberikan andil terhadap inflasi Mei antara lain cabai merah, minyak goreng, bawang merah, tomat, dan bensin. Namun, secara keseluruhan kontribusi pangan terhadap inflasi masih terkendali.

Menteri Dalam Negeri Muhammad Tito Karnavian menambahkan, beras yang selama ini kerap menjadi pemicu inflasi kini relatif stabil. Selain beras, komoditas strategis lain seperti daging ayam ras, daging sapi, gula pasir, dan telur ayam ras juga berada dalam kondisi yang baik.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menilai kondisi tersebut mencerminkan semakin kuatnya produksi pangan nasional dalam menjaga stabilitas harga di tengah tingginya kebutuhan masyarakat. Ia bersyukur beras tidak lagi menjadi penyumbang utama inflasi.

Untuk mempertahankan kondisi tersebut, Kementan terus memperkuat distribusi dan stabilisasi harga bersama pemerintah daerah, Bulog, dan ID Food. Amran menilai gejolak harga yang masih terjadi pada bawang merah dan minyak goreng lebih dipengaruhi persoalan distribusi dibandingkan ketersediaan pasokan.

Karena itu, Kementan mendorong pemerintah daerah dan Bulog mengaktifkan pasar murah, khususnya untuk beras, ayam, dan telur. Langkah ini diharapkan dapat menjaga keseimbangan harga sekaligus membantu peternak yang tengah menghadapi tekanan harga jual.

Selain itu, Kementan telah berkoordinasi dengan Badan Gizi Nasional agar konsumsi telur dan daging ayam dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG) ditingkatkan menjadi tiga kali per pekan. Kebijakan ini diharapkan dapat menyerap produksi peternak sekaligus membantu menjaga stabilitas harga.

Amran juga menegaskan ketahanan pangan nasional semakin kuat. Dari 11 komoditas pangan yang dikendalikan pemerintah, delapan di antaranya telah mencapai swasembada. Sementara itu, bawang putih, kedelai, dan daging masih dipenuhi sebagian melalui impor.

Dengan kebutuhan sekitar 68 juta ton dan produksi mencapai 73 juta ton, impor pangan Indonesia hanya sekitar 3,5 juta ton atau 4 persen. Menurut Amran, angka tersebut menunjukkan Indonesia telah memenuhi kriteria swasembada pangan dan memiliki fondasi yang kuat untuk menjaga stabilitas harga serta daya beli masyarakat.