Saronic, Andalan Baru Maritim Amerika

0
96
Saronic Crosair
Sources : Saronic

(Vibizmedia-Kolom) Itu menjadi sebuah perjalanan laut yang layak dicatat dalam sejarah, tanpa seorang pelaut pun terlihat di atas kapal.

Hari Selasa 9 Juni 2026, Angkatan Laut Amerika Serikat menggunakan kapal drone yang dikendalikan dari jarak jauh milik perusahaan pertahanan Saronic untuk menyelamatkan awak helikopter Apache yang mengalami insiden di dekat Selat Hormuz.

Selama bertahun-tahun, Angkatan Laut AS telah mengembangkan armada tanpa awak seiring pesatnya kemunculan teknologi drone sebagai salah satu inovasi militer paling penting. Saronic bergabung dengan Task Force 59, unit operasional pertama Angkatan Laut yang berfokus pada kecerdasan buatan dan sistem drone, pada Maret lalu. Operasi penyelamatan pada Selasa tersebut menjadi salah satu ujian awal kemampuan penyelamatan unit itu dalam situasi tempur nyata.

Berikut lima hal yang perlu diketahui tentang Saronic:

Mantan Navy SEAL Mendirikan Saronic karena Kekhawatiran terhadap Persaingan dengan China

Pada 2023, Amerika Serikat hanya menyumbang kurang dari 1% produksi kapal dunia, sementara China menguasai lebih dari 50%, menurut data Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Pada 2022, Dino Mavrookas, yang menghabiskan lebih dari satu dekade di pasukan elite Navy SEAL, mendirikan Saronic bersama Rob Lehman, Vibhav Altekar, dan Doug Lambert. Mereka berupaya mengembangkan kapal otonom dengan tujuan meningkatkan kapasitas industri galangan kapal Amerika Serikat sekaligus mendefinisikan ulang supremasi maritim melalui teknologi otonom, Mavrookas mengatakannya dalam sebuah wawancara podcast tahun lalu.

Pada Desember lalu, Saronic memperoleh kontrak senilai US$392 juta dari Angkatan Laut AS. Pada Mei tahun ini, perusahaan tersebut bersama enam perusahaan lainnya dipilih untuk melanjutkan ke tahap pengujian laut dalam program Medium Unmanned Surface Vessel.

Memiliki Tiga Kapal Unggulan yang Dapat Beroperasi Secara Otonom

Kapal drone yang digunakan dalam operasi penyelamatan pada Selasa adalah Corsair, kapal sepanjang 24 kaki yang mampu melaju lebih dari 35 knot dengan jangkauan lebih dari 1.000 mil laut.

Selain Corsair, Saronic memiliki dua kapal utama lainnya, yaitu Mirage sepanjang 52 kaki dan Marauder sepanjang 180 kaki. Ketiganya menggunakan mesin diesel sebagai sumber tenaga.

Perusahaan juga mengembangkan kapal-kapal berukuran lebih kecil, sebagian di antaranya menggunakan tenaga listrik. Semua kapal dirancang secara modular, sehingga dapat dipasangi berbagai jenis muatan sesuai kebutuhan misi. Selain itu, kapal-kapal tersebut mampu memproses data secara mandiri. Menurut Mavrookas, satu operator bahkan dapat mengendalikan hingga 100 kapal sekaligus.

Menghimpun Pendanaan Miliaran Dolar dari Investor Pertahanan Terkemuka

Saat ini, valuasi Saronic mencapai US$9,25 miliar.

Sejumlah investor besar berada di belakang perusahaan ini, termasuk firma investasi 8VC milik Joe Lonsdale, Caffeinated Capital, dan Andreessen Horowitz. Dalam putaran pendanaan Seri D terbaru, Saronic berhasil mengumpulkan dana sebesar US$1,75 miliar.

Pendanaan modal ventura untuk sektor teknologi pertahanan melonjak tajam pada 2025. Menurut data S&P Global Market Intelligence, nilai investasi di sektor tersebut meningkat tiga kali lipat dibandingkan 2020 hingga mencapai US$29 miliar. Jumlah transaksi juga naik dari 414 pada 2020 menjadi 629 pada 2024.

Menggunakan Dana Tersebut untuk Memperbesar Kapasitas Produksi Kapal

Menurut Mavrookas, prototipe pertama Saronic dibuat dalam waktu kurang dari enam bulan dengan memodifikasi rakit seharga US$800 yang dibeli dari Amazon dan menambahkan kamera, sensor, serta baterai senilai sekitar US$30.000.

Kini perusahaan mempekerjakan sekitar 1.600 orang di kantor pusatnya di Austin, Texas, serta berbagai fasilitas operasional di Amerika Serikat, Inggris, dan Australia.

Fasilitas produksi Saronic di Texas yang memiliki luas sekitar 500.000 kaki persegi mampu memproduksi ribuan kapal Corsair dan Mirage setiap tahun. Perusahaan juga berhasil merancang serta meluncurkan kapal Marauder pertamanya dalam waktu kurang dari satu tahun.

Produksi Marauder akan dilakukan di galangan kapal di Louisiana, lokasi yang telah menerima investasi sebesar US$300 juta dari Saronic untuk memperluas kapasitas produksi.

Langkah berikutnya, perusahaan sedang mencari lokasi untuk membangun galangan kapal generasi baru yang diberi nama “Port Alpha”. Fasilitas tersebut dirancang untuk memproduksi kapal yang lebih besar sekaligus meningkatkan skala produksi secara signifikan.

CEO Saronic Meyakini Drone Akan Menggantikan Manusia dalam Banyak Situasi Berbahaya

Saronic menjadi sorotan minggu ini karena berhasil menyelamatkan pilot yang mengalami kecelakaan. Namun, tujuan yang lebih besar dari perusahaan ini adalah mengurangi kebutuhan menempatkan personel militer dalam situasi berbahaya sejak awal.

Mavrookas mengatakan seharusnya kita tidak lagi mengirim manusia jika ada kesempatan untuk mengirim robot dalam wawancara podcast tersebut. Karena kita memiliki tanggung jawab untuk menjaga keselamatan manusia. Filosofi inilah yang menjadi landasan pengembangan kapal-kapal otonom Saronic, memanfaatkan teknologi tanpa awak untuk menjalankan misi berisiko tinggi, mulai dari pengintaian, logistik, hingga operasi penyelamatan, sehingga personel militer dapat terhindar dari ancaman langsung di medan operasi.

Apakah Berguna Bagi Indonersia?

Bagi Indonesia, teknologi kapal tanpa awak seperti yang dikembangkan Saronic berpotensi sangat berguna mengingat Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia dengan lebih dari 17.000 pulau dan wilayah laut yang sangat luas. Kapal otonom dapat digunakan untuk patroli perbatasan, pengawasan aktivitas penangkapan ikan ilegal, pemantauan jalur pelayaran, hingga mendukung operasi pencarian dan penyelamatan di wilayah yang sulit dijangkau. Dengan kemampuan beroperasi tanpa awak, biaya operasional dan risiko terhadap personel juga dapat ditekan.

Selain fungsi keamanan, teknologi ini memiliki manfaat ekonomi. Indonesia menghadapi tantangan dalam menjaga keamanan jalur perdagangan laut yang menjadi tulang punggung ekspor dan impor nasional. Kapal drone dapat membantu memantau pelabuhan, infrastruktur energi lepas pantai, serta kabel dan pipa bawah laut yang semakin penting bagi perekonomian digital dan energi. Di masa depan, teknologi serupa juga berpotensi digunakan untuk mendukung logistik antarpulau, terutama untuk wilayah terpencil yang belum memiliki akses transportasi yang memadai.

Namun, penerapan teknologi tersebut di Indonesia tidak lepas dari tantangan. Harga pengembangan dan pengadaan sistem otonom masih relatif mahal, sementara kemampuan industri dalam negeri perlu terus diperkuat agar tidak bergantung sepenuhnya pada teknologi asing. Karena itu, manfaat terbesar bagi Indonesia mungkin bukan sekadar membeli kapal drone dari luar negeri, melainkan memanfaatkan perkembangan teknologi ini untuk mendorong kolaborasi antara pemerintah, TNI AL, perguruan tinggi, dan industri nasional guna membangun kemampuan kapal tanpa awak yang sesuai dengan kebutuhan maritim Indonesia sendiri.