Indonesia–Jepang Kolaborasi Kembangkan Talenta AI untuk Prioritas Nasional

0
45
Foto: Kemkomdigi

(Vibizmedia – Jakarta) Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) bersama Japan International Cooperation Agency (JICA) memperkuat kolaborasi dalam pengembangan talenta kecerdasan artifisial (AI) untuk mendukung berbagai prioritas pembangunan nasional, mulai dari perlindungan anak di ruang digital, penanggulangan disinformasi, hingga peningkatan kualitas layanan publik berbasis data.

Penguatan kerja sama ini ditandai dengan penandatanganan Catatan Diskusi (Record of Discussions) Proyek Kerja Sama Teknis Next Generation AI Talent Factory di Kantor Kemkomdigi, Jakarta Pusat, Senin (22/6/2026).

Wakil Menteri Komunikasi dan Digital, Nezar Patria, menyebut kolaborasi tersebut sebagai langkah strategis dalam memperkuat kapasitas talenta digital nasional sekaligus mempererat kemitraan Indonesia–Jepang dalam menghadapi tantangan transformasi digital.

“Kerja sama ini mencerminkan persahabatan yang kuat dan kemitraan strategis antara Indonesia dan Jepang, khususnya dalam mempersiapkan masyarakat agar mampu berkembang di era digital,” ujar Nezar.

Ia menekankan, pesatnya perkembangan teknologi AI menuntut setiap negara untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia agar mampu bersaing dan memanfaatkan teknologi secara optimal. Karena itu, investasi pada talenta digital menjadi kunci daya saing di masa depan.

“Untuk memanfaatkan peluang ini, kita harus berinvestasi pada hal yang paling penting, yaitu sumber daya manusia,” tegasnya.

Melalui program Next Generation AI Talent Factory, Kemkomdigi dan JICA akan mendorong peningkatan kapasitas talenta AI Indonesia melalui penguatan kompetensi, pertukaran pengetahuan, kolaborasi kelembagaan, serta pengembangan inovasi yang relevan dengan kebutuhan nasional.

Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Kemkomdigi, Bonifasius Wahyu Pudjianto, menjelaskan bahwa pengembangan talenta AI dilakukan melalui pendekatan kolaboratif yang melibatkan pemerintah, perguruan tinggi, industri, pakar teknologi, serta komunitas digital dalam satu ekosistem inovasi.

Menurutnya, penguatan kompetensi AI tidak cukup hanya melalui pembelajaran teoritis, tetapi juga perlu didukung pengalaman praktis yang menghasilkan solusi nyata bagi masyarakat.

“Pengembangan talenta AI tidak cukup hanya di kelas, tetapi harus lebih luas dan aplikatif,” ujarnya.

Sejak diimplementasikan pada 2025, program AI Talent Factory telah melahirkan berbagai solusi berbasis AI untuk mendukung agenda pembangunan nasional. Pada 2026, program ini diperluas melalui kerja sama dengan Universitas Brawijaya, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), dan Universitas Gadjah Mada (UGM), dengan melibatkan 98 peserta.

Berbagai inovasi yang dihasilkan mencakup perlindungan anak di ruang digital, penanganan disinformasi dan ujaran kebencian, penguatan Sekolah Rakyat, pemetaan kemiskinan, penyaluran bantuan sosial, hingga pemantauan isu media dan media sosial untuk mendukung pengambilan kebijakan berbasis data.

Pemanfaatan AI tersebut diharapkan mampu meningkatkan efektivitas layanan publik, memperkuat perlindungan masyarakat di ruang digital, serta mendukung pengambilan keputusan yang lebih cepat dan tepat sasaran.

Bonifasius menegaskan bahwa kerja sama dengan JICA menjadi awal fase baru dalam penguatan ekosistem talenta AI nasional yang berkelanjutan.

“Ini bukan akhir, tetapi awal dari fase baru yang akan diperkuat bersama JICA,” katanya.

Melalui kolaborasi ini, Kemkomdigi dan JICA berharap dapat mempercepat lahirnya talenta AI Indonesia yang berdaya saing global, mampu menghadirkan solusi atas berbagai tantangan pembangunan, serta mendukung terwujudnya kedaulatan AI nasional yang aman, bertanggung jawab, dan berorientasi pada kepentingan masyarakat.