S&P Pertahankan Rating Indonesia di Level BBB, Outlook Stabil

0
76
Foto: Kemenko Perekonomian

(Vibizmedia – Jakarta) Lembaga pemeringkat internasional S&P Global Ratings kembali menegaskan Sovereign Credit Rating Indonesia pada level BBB untuk jangka panjang dan A-2 untuk jangka pendek, dengan outlook Stabil. Keputusan tersebut disampaikan dalam laporan bertajuk “Indonesia Ratings Affirmed At ‘BBB/A-2’; Outlook Stable” yang dirilis pada Senin (13/7/2026).

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan afirmasi ini mencerminkan kepercayaan internasional terhadap konsistensi dan kredibilitas kebijakan ekonomi pemerintah. Di tengah ketidakpastian global, Indonesia dinilai mampu menjaga pertumbuhan ekonomi di kisaran 5 persen, mempertahankan disiplin fiskal dengan defisit di bawah 3 persen PDB, serta memperkuat tata kelola sektor sumber daya alam.

Afirmasi tersebut menegaskan posisi Indonesia dalam kategori investment grade sekaligus menunjukkan ketahanan fundamental ekonomi nasional di tengah tekanan geopolitik, fluktuasi harga komoditas, dan pengetatan keuangan global.

Dalam laporannya, S&P menilai peringkat Indonesia didukung oleh prospek pertumbuhan yang solid, kebijakan makroekonomi yang hati-hati, serta tingkat utang pemerintah dan utang eksternal neto yang relatif rendah dibandingkan negara sekelas.

S&P memproyeksikan ekonomi Indonesia tumbuh sekitar 5 persen per tahun dalam dua hingga tiga tahun ke depan, dengan estimasi pertumbuhan 5,1 persen pada 2026 dan rata-rata 4,9 persen hingga 2029. Pertumbuhan sebesar 5,6 persen (year-on-year) pada triwulan I-2026 juga menjadi katalis positif, didorong oleh belanja pemerintah dan percepatan realisasi anggaran. Produk domestik bruto (PDB) per kapita diperkirakan mencapai sekitar USD5.200 pada 2026.

Dari sisi fiskal, komitmen menjaga defisit anggaran di bawah 3 persen PDB menjadi salah satu faktor utama penopang outlook stabil. Kinerja penerimaan negara juga menunjukkan tren positif dengan pertumbuhan 19 persen pada lima bulan pertama 2026, didorong oleh perbaikan administrasi perpajakan, peningkatan penerimaan PPN, serta kenaikan royalti dan dividen dari sektor sumber daya alam.

S&P turut mengapresiasi langkah pemerintah dalam memperkuat tata kelola sektor sumber daya alam, termasuk melalui pembentukan PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) dan penguatan kebijakan Devisa Hasil Ekspor (DHE SDA). Upaya ini dinilai berpotensi meningkatkan penerimaan negara sekaligus memperkuat posisi eksternal Indonesia.

Di sisi moneter, Bank Indonesia dinilai mampu menjaga stabilitas inflasi dengan dukungan independensi kebijakan serta fleksibilitas nilai tukar. Risiko terhadap sistem keuangan juga dinilai relatif terkendali, dengan ukuran sektor perbankan yang masih di bawah 60 persen terhadap PDB.

Ke depan, S&P membuka peluang peningkatan peringkat apabila terjadi penguatan indikator fiskal dan eksternal, seperti penurunan defisit menuju 2 persen PDB, peningkatan penerimaan negara yang berkelanjutan, biaya pembiayaan yang lebih rendah, serta stabilitas nilai tukar.

Pemerintah menegaskan komitmennya untuk menjaga stabilitas makroekonomi sekaligus melanjutkan transformasi struktural melalui hilirisasi, penguatan tata kelola devisa ekspor, dan peningkatan produktivitas. Konsistensi dan kepastian kebijakan dinilai menjadi kunci untuk mendorong peringkat Indonesia ke level yang lebih tinggi.