Musim Kemarau Kian Menggigit, Karhutla dan Krisis Air Bersih Meluas di Jawa Tengah

0
50
Air bersih
Pendistribusian air bersih bagi warga terdampak kekeringan di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. FOTO: BNPB

(Vibizmedia-Nasional) Musim kemarau mulai menunjukkan dampak yang semakin serius di sejumlah wilayah Indonesia. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta krisis air bersih masih mendominasi kejadian bencana pada periode 13–14 Juli 2026, dengan Provinsi Jawa Tengah menjadi wilayah yang paling terdampak.

Berdasarkan laporan Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BPBD yang dihimpun BNPB, kebakaran hutan dan lahan terjadi di Desa Bendo, Kecamatan Sukodono, Kabupaten Sragen, pada Senin (13/7) pukul 09.45 WIB. Kebakaran dipicu oleh aktivitas pembakaran rumput yang dilakukan seorang warga hingga api merambat ke lahan perkebunan tebu.

BPBD Kabupaten Sragen mencatat sekitar 4,5 hektare lahan terbakar. Beruntung tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut. Tim gabungan dari BPBD, Dinas Pemadam Kebakaran, aparat kecamatan, dan pemerintah desa langsung melakukan pemadaman. Hingga Senin sore, proses pendinginan di lokasi masih terus dilakukan untuk mencegah api kembali menyala.

Di sisi lain, ancaman kekeringan semakin meluas dan memicu krisis air bersih di sejumlah daerah di Jawa Tengah.

Di Kabupaten Klaten, sedikitnya 3.148 kepala keluarga atau 10.407 jiwa terdampak kekeringan di empat desa di Kecamatan Kemalang, yakni Kendalsari, Tegalmulyo, Tlogowatu, dan Sidorejo. Untuk memenuhi kebutuhan warga, BPBD Kabupaten Klaten telah mendistribusikan 236 tangki air bersih atau sekitar 1,18 juta liter selama periode 15 Juni hingga 13 Juli 2026.

Kondisi serupa juga terjadi di Kabupaten Banyumas. Kekeringan berdampak pada 1.820 kepala keluarga atau 5.648 jiwa yang tersebar di enam kecamatan, yakni Purwokerto Timur, Karanglewas, Sumpiuh, Jatilawang, Cilongok, dan Kemranjen. BPBD setempat terus menyalurkan bantuan air bersih, termasuk masing-masing 5.000 liter ke dua titik di Desa Kedungpring, Kecamatan Kemranjen, serta memanfaatkan toren berkapasitas 2.000 liter untuk menjangkau warga terdampak.

Sementara itu, Kabupaten Pemalang juga masih menghadapi krisis air bersih yang memengaruhi 2.923 kepala keluarga di Kecamatan Belik, Bawang, dan Pulosari. Pemerintah Kabupaten Pemalang telah menetapkan Status Siaga Darurat Bencana Hidrometeorologi Kekeringan hingga 30 November 2026. Pada Senin (13/7), BPBD menyalurkan 56.000 liter air bersih menggunakan tiga armada mobil tangki. Berdasarkan hasil asesmen, pasokan tersebut diperkirakan mampu memenuhi kebutuhan masyarakat selama tiga hari.

BNPB mengingatkan bahwa berdasarkan prakiraan BMKG, curah hujan pada dasarian II Juli 2026 (11–20 Juli) masih didominasi kategori rendah di sebagian besar wilayah Indonesia. Kondisi ini berpotensi memperparah kekeringan sekaligus meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan.

Menghadapi situasi tersebut, BNPB mengimbau pemerintah daerah untuk terus mengoptimalkan distribusi air bersih dan menyiapkan sarana penampungan air di wilayah rawan kekeringan. Masyarakat juga diminta menggunakan air secara hemat serta tidak membuka lahan dengan cara membakar, mengingat potensi karhutla akan terus meningkat selama musim kemarau berlangsung.

BNPB juga mengajak masyarakat segera melaporkan apabila menemukan titik api agar penanganan dapat dilakukan lebih cepat dan mencegah meluasnya kebakaran.