“I’ll Put the Kettle On”: Menyelami Jiwa dan Budaya Minum Teh Masyarakat Britania

0
54
Foto: Barret Baker

(Vibizmedia –  Gaya Hidup) Di tengah keramaian kota London atau ketenangan desa-desa  di Cotswolds yang terletak di sebelah barat laut London, maka ada satu ritual harian yang menjadi bagian keseharian masyarakat Britania, yaitu menyeduh teh. Bagi masyarakat Britania, teh bukan sekadar minuman penghangat tubuh di kala cuaca mendung dan dingin, melainkan sudah menjadi keseharian, cermin kebudayaan, sekaligus penawar paling ampuh untuk hampir segala jenis situasi. Dari kabar bahagia hingga kabar duka, jawaban pertama orang Inggris hampir selalu sama: “I’ll put the kettle on”, mari saya nyalakan tekonya.

Tradisi ini memiliki akar sejarah yang unik. Meskipun kini sangat melekat dengan identitas Inggris, tanaman teh sendiri tidak pernah tumbuh secara alami di pulau tersebut. Teh pertama kali tiba di Inggris pada pertengahan abad ke-17, dibawa dari Asia sebagai barang mewah yang sangat mahal. Pada masa itu, teh hanya bisa dinikmati oleh kalangan bangsawan di dalam ruang-ruang tamu yang megah. Puteri Catherine dari Braganza, seorang bangsawan Portugis yang menikah dengan Raja Charles II pada tahun 1662, menjadi sosok penting yang mempopulerkan kebiasaan minum teh di lingkungan istana. Kehadirannya mengubah teh dari sekadar obat herbal eksotis menjadi simbol keanggunan dan status sosial tinggi.

Seiring berjalannya waktu dan berkembangnya jalur perdagangan, teh mulai terjangkau oleh kelas pekerja pada era Revolusi Industri. Di pabrik-pabrik yang bising dan dingin, secangkir teh hangat yang manis menjadi sumber energi murah dan penghibur bagi para buruh. Dari sinilah lahir pembagian tradisi teh yang kita kenal hari ini. 

Foto: Sebastian Coman

Ada istilah Afternoon Tea, sebuah tradisi elegan yang diciptakan oleh Anna, Duchess of Bedford, pada tahun 1840. Sang Duchess sering merasa lapar di sore hari menjelang makan malam yang baru disajikan jam delapan malam. Ia pun meminta disajikan secangkir teh lengkap dengan roti lapis tipis dan kue-kue kecil di kamar pribadinya. Kebiasaan ini segera menular ke kalangan elit dan menjadi ajang bersosialisasi yang santai namun tetap bergaya. Di sisi lain, masyarakat kelas pekerja memiliki tradisi High Tea, yaitu makan malam sederhana namun mengenyangkan setelah seharian bekerja keras, diisi dengan hidangan daging, roti, dan tentu saja, seduhan teh pekat.

Namun, daya tarik sejati dari budaya teh Inggris justru terletak pada kesederhanaannya di kehidupan sehari-hari. Sebagian besar warga Inggris saat ini tidak lagi minum teh menggunakan cangkir porselen berukir rumit setiap hari. Mereka mengandalkan kantong teh praktis, mug favorit yang sudah agak retak di bagian pinggirnya, serta guyuran susu segar.

Kebiasaan minum teh sekarang bagi warga Inggris, menggunakan mug dan ditambahkan susu (Foto: Calum Lewis)

Membicarakan teh dengan orang Inggris juga bisa memicu perdebatan sengit yang jenaka, terutama mengenai urutan penyajian: apakah susu harus dituang terlebih dahulu ke dalam cangkir (MIF – Milk In First), ataukah tehnya dulu baru disusul susu? Dahulu, menuangkan susu terlebih dahulu dilakukan agar porselen murah tidak retak terkena air panas. Kini, perdebatan itu menjadi seni kecil dalam menikmati teh yang diperbincangkan dengan penuh canda di meja dapur.

Pada akhirnya, budaya minum teh orang Inggris adalah tentang hubungan antar manusia. Cangkir teh adalah bahasa kehangatan yang tak terucapkan. Saat seorang teman mengetuk pintu rumah, saat rekan kerja tampak lelah di kantor, atau saat keluarga berkumpul di hari Minggu, teko akan selalu dinyalakan. Di dalam kebersamaan menikmati teh, orang Inggris tidak hanya menyeduh minuman, tetapi juga menemukan kenyamanan dan ketenangan bersama sahabat dan keluarga.