Ekonomi RI Tahan Guncangan Global, Tumbuh 5,45 Persen

0
82
Foto: Tangkapan layar YouTube Kemenko Perekonomian

(Vibizmedia – Nasional) Perekonomian Indonesia tetap menunjukkan ketahanan di tengah meningkatnya ketidakpastian global. Sepanjang semester I 2026, ekonomi nasional tumbuh 5,45 persen (year on year/yoy), melanjutkan tren pertumbuhan di atas lima persen selama tujuh tahun terakhir sekaligus menjadi salah satu yang tertinggi di kawasan Asia Tenggara (ASEAN).

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menyatakan capaian tersebut mencerminkan kuatnya fundamental ekonomi Indonesia meskipun dunia masih menghadapi berbagai tantangan, seperti konflik geopolitik di Timur Tengah dan Eropa Timur, perang dagang, hingga disrupsi teknologi. Ia menuturkan bahwa di tengah proyeksi pertumbuhan ekonomi global yang hanya berada di kisaran sedikit di atas tiga persen, Indonesia tetap mampu mencatatkan pertumbuhan 5,29 persen (yoy) pada kuartal II 2026.

Menurutnya, pertumbuhan tersebut tergolong positif karena terjadi tanpa adanya momentum musiman besar seperti Hari Raya Idulfitri yang biasanya mendorong konsumsi masyarakat. Secara keseluruhan, pertumbuhan semester I yang mencapai 5,45 persen menjaga konsistensi kinerja ekonomi nasional di atas lima persen dalam tujuh tahun terakhir.

Airlangga juga menegaskan bahwa capaian tersebut menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan pertumbuhan terbaik di kawasan ASEAN. Secara regional, pertumbuhan ekonomi berlangsung merata, dengan Bali dan Nusa Tenggara mencatatkan pertumbuhan tertinggi sebesar 6,1 persen, didorong oleh pemulihan sektor pariwisata yang meningkatkan kunjungan wisatawan domestik maupun mancanegara.

Sementara itu, Pulau Jawa tetap menjadi motor utama perekonomian nasional dengan kontribusi terhadap produk domestik bruto (PDB) sebesar 56,4 persen dan pertumbuhan mencapai 5,65 persen. Hal ini menunjukkan peran penting rantai pasok dalam menggerakkan ekonomi nasional.

Dari sisi lapangan usaha, industri pengolahan masih menjadi kontributor terbesar terhadap PDB dengan porsi 18,5 persen dan tumbuh 4,52 persen. Adapun sektor jasa akomodasi dan makan minum mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 10,6 persen, diikuti sektor konstruksi yang tumbuh 6,68 persen, melampaui rata-rata pertumbuhan ekonomi nasional. Pertumbuhan ini antara lain didukung oleh program Makan Bergizi Gratis (MBG) serta meningkatnya aktivitas di sektor perhotelan dan perjalanan.

Kinerja sektor konstruksi juga didorong percepatan pembangunan, termasuk program pembangunan tiga juta rumah melalui dukungan Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) serta pembiayaan kredit perumahan. Selain itu, pemerintah meningkatkan plafon Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari Rp37,5 triliun menjadi Rp50 triliun guna memperkuat pembiayaan usaha dan mendorong pertumbuhan pada semester berikutnya.

Pemerintah juga terus mendorong belanja modal di kawasan industri dan sektor unggulan, serta mengembangkan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) sebagai salah satu penggerak ekonomi daerah.

Ke depan, pemerintah optimistis pertumbuhan ekonomi akan semakin menguat pada semester II 2026. Berbagai kebijakan akan difokuskan pada peningkatan investasi, percepatan belanja pemerintah, menjaga daya beli masyarakat, serta memperkuat kinerja perdagangan luar negeri agar target pertumbuhan ekonomi sebesar 5,4 persen dalam APBN 2026 dapat tercapai.