Tony’s Chocolonely, Cokelat dengan Kemasan Retro dan Rasa yang Memikat

0
49
Coklat Tony’s Chocolonely yang populer di Belanda (Foto: Helena/ Kontributor Vibizmedia)

(Vibizmedia – Denyut Dunia) Siapa yang bisa menolak godaan sebongkah cokelat lezat? Dari tawa riang anak-anak hingga senyum hangat orang dewasa, cokelat selalu berhasil menjadi jawaban paling pas untuk menceriakan hari. Namun, jika Anda melangkah ke minimarket atau toko kelontong di kota Amsterdam, ada satu merek dengan kemasan warna-warni mencolok yang hampir selalu menjadi pilihan utama masyarakat lokal: Tony’s Chocolonely.

Tony’s Chocolonely adalah merek cokelat asal Belanda yang menarik karena sejak awal tidak dibangun semata-mata sebagai bisnis makanan, tetapi sebagai perusahaan yang ingin mengubah cara industri cokelat memperoleh dan memperdagangkan kakao.

Cokelat yang satu ini memang beda dari yang lain. Sejak pertama kali diluncurkan di Belanda, bungkus kertas tebal berdesain retro dengan warna-warna tegas, seperti biru elektrik dan kuning terang, selalu berhasil mencuri perhatian siapa saja yang meliriknya. Namun, di balik tampilannya yang terkesan jenaka dan menggoda selera, ada petualangan berniat mulia yang melatarbelakangi lahirnya cokelat legendaris ini.

Semuanya bermula pada tahun 2005 dari kegelisahan seorang jurnalis televisi asal Belanda bernama Teun van de Keuken.  Berawal dari investigasi jurnalis ini praktik pekerja anak dan eksploitasi dalam rantai pasok kakao. Teun terkejut menemukan kenyataan pahit bahwa industri kakao dunia masih dibayangi oleh praktik eksploitasi dan kerja paksa. Merasa prihatin dan merasa “kesepian” karena tak banyak produsen besar yang peduli, Teun mengambil langkah nekat. Ia memutuskan untuk membuat merek cokelatnya sendiri yang murni, adil, dan transparan.

Ia membuat 5.000 batang cokelat Fairtrade sebagai bentuk kampanye. Produk itu ternyata mendapat sambutan pasar dan kemudian berkembang menjadi Tony’s Chocolonely.  Dari sanalah nama Tony’s Chocolonely lahir, sebuah paduan dari nama panggilannya, Tony (nama “Tony” diambil dari versi bahasa Inggris namanya), dan rasa kesepian (lonely) yang ia rasakan saat memperjuangkan misinya.

Coklat Tony’s Chocolonely yang menjadi kegemaran masyarakat Belanda (Foto: Helena)

Uniknya, semangat perubahan itu tidak cuma disimpan di dalam hati, melainkan dituangkan ke dalam setiap detail produknya. Saat Anda membuka bungkus kertas tebalnya yang megah, Anda tidak akan menemukan cetakan kotak-kotak cokelat yang simetris dan rapi seperti merek pada umumnya. Tony’s sengaja memotong batang cokelatnya menjadi kepingan-kepingan berukuran tidak seragam. Lewat bentuk yang acak ini, mereka ingin menyampaikan pesan mendalam secara halus namun berkesan: bahwa industri cokelat di dunia saat ini memang belum terbagi secara adil. 

Berbelanja coklat Tony’s Chocolonely (Foto: Helena)

Soal rasa, cokelat tebal khas Belanda ini tidak pernah main-main dalam memanjakan lidah berbagai generasi. Bagi para pencinta cokelat sejati atau orang dewasa yang menyukai cita rasa pekat, varian bungkus biru dengan Dark Chocolate 70% menawarkan rasa pahit-manis yang kaya, deep, dan meleleh lembut di mulut. Sementara itu, bagi anak-anak maupun siapapun yang menyukai sensasi manis yang meriah, varian bungkus kuning Milk Honey Almond Nougat menghadirkan keasyikan tersendiri. Gigitan cokelat susunya yang creamy berpadu sempurna dengan renyahnya kacang almond, manisnya madu, serta tekstur gummy dari nougat yang bikin ketagihan.

Kini, Tony’s Chocolonely bukan lagi sekadar camilan lokal kebanggaan masyarakat Belanda, melainkan simbol perubahan manis yang dicintai lintas generasi di berbagai belahan dunia. Menikmati setiap patahan cokelatnya yang tebal bukan hanya memberikan kepuasan bagi indra pengecap, tetapi juga meninggalkan rasa hangat di hati, karena di setiap gigitannya, ada cerita tentang kebaikan yang terus diperjuangkan.

Coklat Tony’s Chocolonely yang sedap (Foto: Helena)