Dekarbonisasi Buka Peluang Ekonomi Baru bagi Industri Pelayaran

0
698
Foto: Kemenkeu

(Vibizmedia – Jakarta) Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Suahasil Nazara menilai agenda dekarbonisasi tidak semestinya dipandang hanya sebagai kewajiban dan tantangan bagi dunia industri. Transisi menuju ekonomi rendah karbon justru dapat menciptakan ruang pertumbuhan ekonomi baru, mulai dari efisiensi operasional, investasi teknologi, pembiayaan hijau, hingga peningkatan daya saing perusahaan.

Pandangan tersebut disampaikan Suahasil dalam Leaders Talk Pertamina International Shipping (PIS) bertajuk “The Fiscal Economics of Decarbonization: What It Means for Indonesia’s Shipping Industry”. Forum ini menjadi ruang diskusi mengenai dampak kebijakan fiskal dan ekonomi dekarbonisasi terhadap masa depan industri pelayaran Indonesia.

Menurut Suahasil, perubahan menuju ekonomi rendah karbon merupakan bagian dari pergeseran lanskap ekonomi dunia yang perlu diantisipasi sejak dini oleh pelaku usaha. Dekarbonisasi, kata dia, bukan berarti menghambat pertumbuhan ekonomi, melainkan dapat menjadi sumber aktivitas ekonomi baru.

“Dekarbonisasi yang kita canangkan dan kita pahami, kita yakini harus kita lakukan karena kita ingin mewariskan dunia yang lebih baik itu bukan penghambat pertumbuhan, bukan penghambat kegiatan ekonomi, tetapi sebenarnya dia adalah potensi dari kegiatan ekonomi baru,” jelas Wamenkeu.

Pemerintah Bangun Ekosistem Ekonomi Hijau

Untuk mendukung proses transisi tersebut, pemerintah terus mengembangkan berbagai instrumen fiskal dan pembiayaan. Kebijakan tersebut antara lain mencakup carbon pricing, insentif perpajakan untuk pengembangan teknologi rendah emisi, skema de-risking, serta instrumen pembiayaan berkelanjutan seperti Green Sukuk, Blue Bonds, dan SDG Bonds.

Menurut Suahasil, kombinasi berbagai instrumen tersebut diperlukan untuk menciptakan ekosistem yang memungkinkan dunia usaha melakukan investasi pada teknologi dan kegiatan ekonomi yang lebih ramah lingkungan.

Di saat yang sama, pemerintah masih perlu memperkuat pasar karbon domestik agar dapat berfungsi secara lebih efektif. Indonesia sendiri telah memiliki Bursa Karbon sejak 2023, tetapi pengembangannya masih perlu diarahkan untuk meningkatkan likuiditas, integritas transaksi, serta mekanisme pembentukan harga (price discovery).

“Karbon yang diproduksi di Indonesia idealnya juga dijual di Indonesia dan demand di Indonesia itu enggak kurang-kurang,” ungkap Suahasil.

Industri Pelayaran Perlu Tangkap Peluang

Bagi industri pelayaran, termasuk perusahaan yang bergerak dalam jasa transportasi dan logistik maritim, agenda dekarbonisasi dinilai perlu diterjemahkan menjadi strategi bisnis yang konkret.

Investasi pada kapal dan teknologi rendah emisi, peningkatan efisiensi penggunaan bahan bakar, optimalisasi operasional, hingga pemanfaatan skema pembiayaan hijau dapat menjadi bagian dari strategi perusahaan menghadapi perubahan tersebut.

Selain faktor regulasi, perubahan preferensi konsumen dan mitra bisnis global juga membuat kebutuhan terhadap layanan transportasi dengan jejak karbon lebih rendah semakin meningkat. Kondisi ini berpotensi menjadi sumber keunggulan kompetitif bagi perusahaan yang mampu beradaptasi lebih cepat.

“Agenda untuk di level perusahaan adalah bagaimana menerjemahkan signal kebijakan menjadi keunggulan daya saing,” ujar Wamenkeu.

Leaders Talk PIS Bahas Masa Depan Industri Maritim

Leaders Talk Pertamina International Shipping merupakan forum yang mempertemukan pemimpin pemerintahan, dunia usaha, dan pemangku kepentingan untuk membahas isu strategis yang berkaitan dengan industri pelayaran dan ekonomi maritim.

Dalam konteks dekarbonisasi, forum tersebut menjadi relevan bagi industri pelayaran karena sektor transportasi laut menghadapi tuntutan untuk meningkatkan efisiensi sekaligus menekan emisi. Transisi tersebut membutuhkan investasi besar, tetapi pada saat yang sama dapat membuka peluang baru di bidang teknologi, energi, pembiayaan, dan jasa maritim.

Suahasil menekankan bahwa perusahaan tidak perlu menunggu seluruh perubahan regulasi dan pasar menjadi matang untuk mulai beradaptasi. Langkah lebih awal justru dapat memberikan keuntungan dalam menghadapi perubahan struktur ekonomi global.

Ia meyakini perusahaan yang lebih cepat melakukan transformasi akan memiliki ruang lebih luas untuk memperoleh manfaat dari efisiensi, mengakses sumber pembiayaan baru, sekaligus menangkap permintaan pasar terhadap produk dan layanan rendah karbon.

“Saya yakin kalau bergerak lebih awal akan memberi perusahaan ruang yang lebih besar menangkap peluang efisiensi, peluang pembiayaan, dan peluang pasar dari transisi rendah karbon ini. Jadi, act now untuk masa depan yang lebih baik,” pungkas Suahasil.