Riset dan Teknologi Jadi Fondasi Perluasan Layanan Kesehatan

0
353
Foto: Kemenkes

(Vibizmedia – Jakarta) Memperluas akses layanan kesehatan kepada masyarakat dalam skala besar tidak cukup hanya dengan menambah jumlah fasilitas kesehatan. Diperlukan fondasi yang lebih menyeluruh, mulai dari riset yang kuat, pemanfaatan teknologi, dukungan investasi hingga infrastruktur yang terintegrasi.

Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Stella Christie menilai inovasi di bidang kesehatan perlu diarahkan pada tiga aspek utama, yaitu kemudahan akses, keterjangkauan biaya, dan ketepatan layanan. Menurutnya, ketiga unsur tersebut menjadi syarat agar inovasi kesehatan benar-benar mampu memberikan dampak kepada masyarakat secara luas.

Pandangan tersebut disampaikan Stella dalam Health Tech Festival yang digelar Universitas Bina Nusantara (BINUS), Kamis (27/8/2026).

Stella menjelaskan bahwa pengembangan ekosistem kesehatan dalam skala besar harus berawal dari kemampuan menghasilkan pengetahuan melalui penelitian. Hasil riset selanjutnya membutuhkan dukungan investasi agar dapat dikembangkan menjadi teknologi, kemudian diperluas melalui infrastruktur yang mampu menjangkau masyarakat.

Dengan pola tersebut, penelitian tidak berhenti sebagai karya akademik atau temuan di laboratorium. Pengetahuan yang dihasilkan dapat diterjemahkan menjadi produk maupun layanan yang relevan dengan persoalan kesehatan yang dihadapi masyarakat.

Dari Riset Menjadi Teknologi

Sebagai ilustrasi, Stella mengangkat pengalaman Beijing Genomics Institute (BGI). Menurutnya, perkembangan lembaga tersebut memperlihatkan bagaimana kapasitas riset dan pengetahuan dapat berkembang menjadi kemampuan teknologi sekaligus menarik investasi.

Pengalaman itu menunjukkan bahwa inovasi tidak dapat dibangun secara terpisah. Diperlukan rantai yang menghubungkan riset, pengembangan teknologi, pembiayaan, hingga pemanfaatan hasil inovasi agar dapat memberikan dampak yang lebih luas.

Indonesia sendiri memiliki sejumlah infrastruktur yang dapat menjadi bagian dari rantai tersebut. Salah satunya adalah Rumah Sakit Pusat Otak Nasional (RSPON) yang tidak hanya berfungsi memberikan pelayanan medis, tetapi juga menjalankan peran sebagai rumah sakit pendidikan dan pusat pengembangan penelitian.

RSPON bahkan telah membangun kerja sama penelitian dengan sejumlah institusi di Singapura dan Inggris. Kolaborasi internasional tersebut dinilai dapat memperkuat kapasitas penelitian nasional sekaligus mempercepat pertukaran pengetahuan dan teknologi di bidang kesehatan.

Di tingkat nasional, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) juga telah mengembangkan portal riset nasional yang menghimpun informasi mengenai peneliti dan hasil penelitian, termasuk penelitian di bidang kesehatan.

Portal tersebut diharapkan dapat mempertemukan peneliti dan pakar dari perguruan tinggi dengan pemerintah daerah maupun pelaku industri yang membutuhkan kompetensi tertentu. Dengan terhubungnya kedua sisi tersebut, kebutuhan di lapangan dapat lebih cepat dipertemukan dengan kemampuan riset yang tersedia di lingkungan akademik.

Data Menjadi Infrastruktur Kesehatan

Pengembangan inovasi kesehatan juga membutuhkan dukungan data yang terintegrasi. Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono mengatakan pemerintah terus memperkuat integrasi data kesehatan melalui platform Satu Sehat.

Platform tersebut dikembangkan sebagai ekosistem data kesehatan yang memungkinkan informasi dan rekam kesehatan masyarakat terhubung dalam satu sistem. Ketersediaan data yang berkualitas dinilai menjadi elemen penting dalam pengembangan teknologi kesehatan karena inovasi berbasis data membutuhkan informasi yang akurat, konsisten, dan dapat digunakan secara berkelanjutan.

Pemanfaatan data secara terintegrasi juga membuka peluang bagi pengembangan layanan kesehatan yang lebih tepat sasaran. Dengan informasi yang lebih lengkap, teknologi dapat dikembangkan untuk membantu proses diagnosis, pemantauan kondisi pasien, hingga pengambilan keputusan medis.

Perguruan Tinggi Didorong Jadi Motor Inovasi

Perguruan tinggi juga memiliki posisi strategis dalam membangun rantai inovasi kesehatan. Kampus tidak hanya berperan menghasilkan lulusan, tetapi juga menjadi tempat lahirnya pengetahuan dan teknologi baru.

Rektor BINUS University Nelly mengatakan kampusnya memberikan dukungan melalui pendanaan berbagai inisiatif khusus di luar anggaran rutin. Kebijakan tersebut diarahkan untuk mendorong lahirnya inovasi berbasis pengetahuan di lingkungan akademik.

Dukungan pendanaan tersebut diharapkan memberikan ruang lebih luas bagi peneliti untuk mengembangkan gagasan dan hasil penelitian agar tidak berhenti pada tahap akademik. Dengan dukungan yang tepat, penelitian dapat memasuki tahap pengembangan dan berpeluang diterapkan dalam kehidupan masyarakat.

Semangat tersebut menjadi salah satu latar belakang penyelenggaraan Health Tech Festival BINUS. Kegiatan yang digagas melalui skema project initiative tersebut diarahkan untuk memperkuat kolaborasi penelitian kesehatan berbasis pengetahuan sekaligus mempertemukan pemerintah, perguruan tinggi, akademisi dan berbagai pemangku kepentingan.

Selain Stella Christie dan Dante Saksono Harbuwono, kegiatan tersebut turut dihadiri Rektor BINUS University Nelly serta Guru Besar KU Leuven, Belgia, Bart Van Roepse.

Membangun Rantai Inovasi Kesehatan

Pengembangan teknologi kesehatan pada akhirnya membutuhkan keterhubungan antarsektor. Perguruan tinggi memiliki peran dalam menghasilkan pengetahuan dan riset, pemerintah membangun kebijakan serta menyediakan infrastruktur pendukung, sedangkan industri dan investor dapat membantu membawa hasil penelitian menuju tahap pengembangan dan pemanfaatan.

Kemdiktisaintek mendorong agar hubungan antarelemen tersebut semakin kuat sehingga hasil penelitian kesehatan tidak berhenti di laboratorium atau ruang akademik.

Ketika riset dapat bertemu dengan investasi, industri, teknologi, dan infrastruktur yang tepat, hasil penelitian memiliki peluang lebih besar untuk berkembang menjadi solusi nyata. Rantai inovasi semacam itu diharapkan mampu menghasilkan layanan kesehatan yang lebih mudah dijangkau, biaya yang semakin terjangkau, sekaligus memiliki tingkat akurasi yang lebih baik.

Pada akhirnya, keberhasilan transformasi kesehatan tidak hanya ditentukan oleh seberapa banyak teknologi baru yang dihasilkan, tetapi juga oleh kemampuan Indonesia membangun ekosistem yang membuat teknologi tersebut dapat digunakan secara luas dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.