BYD Resmi Produksi Mobil Listrik di Subang, Indonesia Bidik Penguatan Industri dari Hulu ke Hilir

0
46
BYD Motor Indonesia
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita meresmikan fasilitas produksi BYD Motor Indonesia di Subang, Kamis, 3 September 2026. FOTO: KEMENPERIN

(Vibizmedia-Nasional) Indonesia memasuki babak baru dalam pengembangan industri kendaraan listrik setelah fasilitas produksi PT BYD Motor Indonesia di Subang, Jawa Barat, resmi beroperasi. Kehadiran pabrik tersebut dinilai menjadi momentum penting untuk menggeser perkembangan kendaraan listrik nasional dari sekadar pertumbuhan pasar menuju penguatan basis manufaktur dan rantai pasok dalam negeri.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan, beroperasinya fasilitas produksi BYD menunjukkan semakin kuatnya kepercayaan investor terhadap prospek industri kendaraan listrik Indonesia.

“Atas nama Pemerintah Republik Indonesia, kami menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada BYD atas kepercayaan dan komitmennya untuk berinvestasi serta mengembangkan kegiatan manufaktur kendaraan listrik di Indonesia,” kata Agus dalam peresmian fasilitas produksi BYD Motor Indonesia di Subang, Kamis (3/9).

Menurut Agus, investasi tersebut tidak hanya penting dari sisi produksi kendaraan, tetapi juga diharapkan menjadi penggerak terbentuknya ekosistem industri kendaraan listrik yang terintegrasi dari hulu hingga hilir.

Agus juga memberikan apresiasi kepada Luhut Binsar Pandjaitan yang dinilai berperan dalam mengawal masuknya investasi BYD ke Indonesia ketika menjabat Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi.

Menurutnya, proses realisasi investasi BYD merupakan hasil dari rangkaian diplomasi dan pengawalan investasi strategis pemerintah, termasuk komunikasi langsung dengan kantor pusat BYD di Shenzhen, China.

“Saya menyaksikan langsung proses tersebut dan bagaimana Pak Luhut begitu gigih memperjuangkan agar investasi masuk ke Indonesia, termasuk investasi BYD. Proses yang panjang itu akhirnya dapat kita lihat hasilnya dengan berdirinya fasilitas produksi BYD di Indonesia,” ujarnya.

Manufaktur Indonesia Makin Kompetitif

Agus mengatakan, pengoperasian pabrik BYD berlangsung ketika industri manufaktur nasional menunjukkan kinerja yang relatif kuat.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), industri pengolahan nonmigas pada triwulan II 2026 tumbuh 5,32 persen secara tahunan (year-on-year/yoy). Pertumbuhan tersebut sedikit lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional yang mencapai 5,29 persen.

“Pertumbuhan industri manufaktur sebesar 5,32 persen sudah berada di atas pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,29 persen. Terakhir kali pertumbuhan manufaktur berada di atas pertumbuhan ekonomi nasional terjadi sekitar 14 tahun lalu,” kata Agus.

Selain pertumbuhan ekonomi, peningkatan kemampuan industri dalam menciptakan nilai tambah juga menjadi indikator penguatan manufaktur nasional.

Data Bank Dunia menunjukkan Manufacturing Value Added (MVA) Indonesia pada 2025 mencapai USD275,61 miliar, naik dari USD265,07 miliar pada 2024.

Capaian tersebut membawa Indonesia naik dari peringkat ke-13 dunia pada 2024 menjadi peringkat ke-12 pada 2025 dalam penciptaan nilai tambah manufaktur.

Di kawasan ASEAN, Indonesia tercatat sebagai negara dengan nilai MVA tertinggi. Sementara di Asia, Indonesia berada di posisi kelima setelah China, Jepang, India dan Korea Selatan.

“Kalau kita disiplin menjalankan program dan kebijakan industrialisasi yang telah ditetapkan, saya yakin dalam waktu ke depan kita dapat semakin mendekati capaian MVA negara-negara industri utama di Asia tersebut,” ujarnya.

Pasar Mobil Listrik Terus Tumbuh

Penguatan manufaktur kendaraan listrik juga ditopang oleh pertumbuhan pasar domestik.

Hingga April 2026, populasi kendaraan listrik di Indonesia mencapai sekitar 486 ribu unit. Jumlah tersebut terdiri atas sekitar 242 ribu kendaraan roda dua dan 223 ribu kendaraan roda empat, sementara sisanya berasal dari jenis kendaraan listrik lainnya.

Pada semester I 2026, penjualan kendaraan listrik berbasis baterai (Battery Electric Vehicle/BEV) mencapai sekitar 70 ribu unit dengan pangsa pasar sekitar 16 persen.

Sementara itu, penjualan kendaraan hibrida (Hybrid Electric Vehicle/HEV) mencapai sekitar 40.400 unit dengan pangsa pasar mendekati 10 persen.

Menurut Agus, pertumbuhan tersebut menunjukkan semakin kuatnya penerimaan masyarakat terhadap kendaraan rendah emisi.

“Besarnya pangsa kendaraan elektrifikasi menunjukkan penerimaan konsumen Indonesia terhadap teknologi kendaraan rendah emisi semakin kuat,” katanya.

Namun, pemerintah tidak ingin pertumbuhan pasar kendaraan listrik hanya menjadikan Indonesia sebagai pasar konsumsi. Investasi harus diarahkan untuk meningkatkan kapasitas produksi, penggunaan komponen lokal, penguasaan teknologi dan penciptaan nilai tambah di dalam negeri.

TKDN Ditargetkan Naik hingga 80 Persen

Salah satu fokus utama pemerintah adalah meningkatkan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) kendaraan listrik.

Dalam peta jalan pengembangan kendaraan bermotor listrik berbasis baterai (KBLBB), nilai minimum TKDN ditargetkan mencapai 40 persen hingga 2026, meningkat menjadi 60 persen pada periode 2027–2029, dan mencapai minimal 80 persen mulai 2030.

Agus menegaskan, peningkatan TKDN diperlukan agar investasi kendaraan listrik tidak berhenti pada aktivitas perakitan kendaraan.

Semakin tinggi kandungan lokal, semakin besar pula peluang industri komponen, material, pemasok dan pelaku industri nasional untuk masuk ke dalam rantai pasok kendaraan listrik.

Pemerintah bahkan tengah mengkaji skema insentif yang dikaitkan dengan capaian TKDN.

“Ada arahan dari Pak Luhut, agar kita coba pelajari untuk memberikan program insentif yang berbasis penguatan nilai TKDN. Jadi semakin tinggi nilai TKDN, itu semakin perlu mendapat perhatian dari pemerintah termasuk persiapan-persiapan dalam pemberian insentif,” ujar Agus.

Kemenperin selanjutnya akan mengoordinasikan gagasan tersebut dengan kementerian dan lembaga terkait.

Tak Berhenti di Pabrik Mobil

Pemerintah berharap kehadiran BYD dapat menjadi katalis bagi pembangunan ekosistem kendaraan listrik secara menyeluruh.

Ekosistem tersebut mencakup industri pengolahan bahan baku, produksi sel baterai dan battery pack, industri komponen, manufaktur kendaraan listrik, pengembangan pasar hingga industri daur ulang baterai.

Pengembangan industri daur ulang baterai dinilai semakin penting seiring dengan bertambahnya populasi kendaraan listrik di Indonesia.

Menurut Agus, terbentuknya rantai industri dari hulu hingga hilir akan memberikan efek berganda yang lebih besar bagi perekonomian nasional.

Dampaknya antara lain berupa peningkatan nilai tambah, penciptaan lapangan kerja, penguasaan teknologi, pengembangan sumber daya manusia industri hingga peningkatan peluang ekspor.

“Kami berharap kehadiran BYD dapat semakin memperkuat keterkaitan antarmata rantai industri tersebut, termasuk dengan semakin banyak melibatkan industri komponen dan pemasok dalam negeri,” tuturnya.

Dengan beroperasinya fasilitas produksi BYD di Subang, pemerintah optimistis Indonesia tidak hanya menjadi salah satu pasar kendaraan listrik terbesar, tetapi juga berkembang sebagai basis manufaktur dan bagian penting dari rantai pasok kendaraan listrik global.

“Peresmian fasilitas produksi BYD Indonesia bukan sekadar beroperasinya sebuah pabrik baru. Ini merupakan momentum untuk memperkuat basis manufaktur, memperdalam struktur industri, serta membangun ekosistem kendaraan listrik nasional yang semakin terintegrasi,” tegas Agus.