Kontribusi Pariwisata Terhadap Perekonomian Indonesia

0
103
destinasi liburan Pariwisata
Hamparan perahu nan cantik di Puncak Waringin, Labuan Bajo, Manggarai, NTT (Foto: Ferry Liu/ Vibizmedia)

(Vibizmedia-Kolom) Gaya hidup Pariwisata kita, saat memesan tiket pesawat ke Bali, menginap di homestay Yogyakarta, atau sekadar jajan nasi goreng di pinggir Danau Toba, sebenarnya kita sedang ikut “menyumbang” ke perekonomian negara—meski mungkin tidak pernah kita sadari. Pariwisata sering dibicarakan sebagai gaya hidup, hobi, atau cara healing dari rutinitas kerja. Tapi di balik foto-foto liburan yang seliweran di media sosial, ada angka-angka besar yang menunjukkan bahwa sektor ini adalah salah satu tulang punggung ekonomi Indonesia.

Untuk mengukur seberapa besar sebenarnya “kekuatan” pariwisata ini, Badan Pusat Statistik (BPS) rutin menyusun laporan bernama Tourism Satellite Account (TSA). Laporan ini semacam “kacamata khusus” yang memisahkan aktivitas ekonomi yang berhubungan dengan pariwisata dari lautan data ekonomi nasional yang sangat luas. Berdasarkan publikasi terbaru BPS, Tourism Satellite Account Indonesia 2023–2025 (Volume 7, 2026), tulisan ini akan mengulas tiga hal utama, seberapa besar pariwisata menyumbang ke PDB, berapa banyak orang yang hidup dari sektor ini, dan seberapa besar devisa yang dibawa pulang wisatawan asing ke kantong negara.

Angka yang Terus Naik, Meski Belum “Ngebut”

Mari mulai dari pertanyaan paling mendasar, seberapa besar sih pariwisata menyumbang ke Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia?

BPS punya indikator bernama Tourism Direct Gross Domestic Product (TDGDP), yaitu nilai yang mengukur kontribusi langsung sektor pariwisata terhadap ekonomi—jadi bukan cuma hotel dan maskapai, tapi semua aktivitas yang murni lahir karena ada wisatawan yang berkunjung dan berbelanja. Angkanya cukup menjanjikan, dari Rp975 triliun pada 2023, naik jadi Rp1.057 triliun pada 2024, dan terus merangkak ke Rp1.139 triliun pada 2025. Kalau dilihat dari porsinya terhadap total ekonomi nasional, kontribusinya juga naik dari 4,67 persen (2023) menjadi 4,78 persen (2025).

Ada juga indikator saudaranya, Tourism Direct Gross Value Added (TDGVA), yang mengukur nilai tambah langsung dari industri pariwisata. Trennya serupa, dari Rp940 triliun (2023), naik ke Rp1.033 triliun (2024), lalu Rp1.115 triliun (2025). Menariknya, kenaikan pangsa TDGVA (dari 4,70 persen ke 4,89 persen) sedikit lebih tinggi dibanding TDGDP. Ini semacam sinyal positif: bukan cuma jumlah wisatawan yang bertambah, tapi pelaku usaha pariwisata juga makin efisien dan produktif dalam menghasilkan nilai tambah—misalnya lewat diversifikasi produk wisata, peningkatan kualitas layanan, sampai pemanfaatan teknologi digital untuk promosi.

Baca juga : Apakah Ini Ekonomi Terbaik di Dunia?

Ada satu lagi indikator yang cakupannya lebih luas, namanya Gross Value Added of Tourism Industries (GVATI). Bedanya dengan TDGDP/TDGVA, GVATI menghitung nilai tambah dari semua industri yang berkaitan dengan pariwisata, baik langsung maupun tidak langsung. Nilainya melesat dari Rp1.301 triliun (2023) menjadi Rp1.449,5 triliun (2024), lalu Rp1.558,6 triliun pada 2025—bertambah sekitar Rp109,1 triliun hanya dalam setahun. Tapi ada catatan menarik, meski nilainya terus naik, kontribusinya terhadap ekonomi nasional justru sedikit turun jadi 6,83 persen pada 2025. Artinya, pariwisata memang tumbuh, tapi sektor-sektor lain di luar pariwisata tumbuh lebih cepat lagi, sehingga porsi relatif pariwisata sedikit “tergerus”.

Lalu, industri apa saja yang jadi “mesin utama” di balik angka GVATI ini? Jawabannya cukup relate dengan kebiasaan kita saat liburan, jasa makanan dan minuman jadi penyumbang terbesar dengan porsi 36,20 persen dari total GVATI. Jadi, urusan perut ternyata jadi motor ekonomi pariwisata paling besar—wajar saja, siapa yang liburan tanpa wisata kuliner? Setelah itu menyusul jasa akomodasi (hotel, homestay, villa) dan jasa angkutan udara penumpang.

Pariwisata sebagai “Pabrik” Lapangan Kerja

Salah satu alasan pariwisata sering disebut sektor strategis adalah karena sifatnya yang padat karya—artinya, sektor ini butuh banyak tenaga manusia untuk berjalan, mulai dari resepsionis hotel, sopir angkutan wisata, pemandu wisata, sampai pedagang kaki lima di sekitar objek wisata.

Data BPS menunjukkan tren yang cukup menggembirakan. Jumlah tenaga kerja di sektor pariwisata terus bertambah selama periode 2023–2025: dari 24.409 ribu orang (2023), menjadi 25.011 ribu orang (2024), dan mencapai 25.910 ribu orang pada 2025. Artinya, dalam tiga tahun, ada tambahan sekitar 1,5 juta orang yang menggantungkan hidupnya pada sektor ini.

Kalau dilihat lebih detail, penyerapan tenaga kerja pariwisata ternyata tidak merata di semua subsektor, melainkan terkonsentrasi di tiga bidang utama. Juara pertama adalah penyediaan makan dan minum, yang porsinya naik dari 39,85 persen (2023) menjadi 40,44 persen (2025) dari total tenaga kerja pariwisata—sekali lagi menegaskan betapa pentingnya sektor kuliner. Di posisi kedua ada perdagangan barang-barang pariwisata (suvenir, kerajinan, oleh-oleh), yang porsinya sedikit menurun dari 39,63 persen ke 39,13 persen. Sementara itu, angkutan darat untuk penumpang menyumbang sekitar 9,18–9,69 persen.

Kalau digabung, tiga subsektor ini menyerap lebih dari tiga perempat total tenaga kerja pariwisata. Ini menunjukkan sesuatu yang penting, sebagian besar lapangan kerja di sektor pariwisata bukan berasal dari perusahaan besar, melainkan dari usaha-usaha kecil dan menengah yang bersentuhan langsung dengan wisatawan—warung makan, toko oleh-oleh, sampai ojek wisata. Jadi, saat pariwisata tumbuh, yang paling merasakan dampaknya bukan cuma korporasi besar, tapi juga pelaku usaha rakyat di lapangan.

Uang Wisatawan Asing yang Mengalir ke Indonesia

Bagian ini mungkin yang paling sering jadi bahan obrolan, berapa sih devisa yang didapat Indonesia dari turis asing?

Tahun 2025 jadi tahun yang cukup membanggakan untuk pariwisata Indonesia. Kedatangan wisatawan mancanegara mencapai 15,39 juta kunjungan, naik 10,79 persen dibanding 13,09 juta kunjungan pada 2024. Bukan cuma jumlahnya yang naik, kualitas kunjungannya pun membaik—rata-rata lama tinggal wisatawan asing memanjang jadi 9,92 malam di 2025. Ini kabar bagus, karena semakin lama seorang turis menginap, semakin besar pula uang yang mereka belanjakan selama di Indonesia.

Dan benar saja, pengeluaran wisatawan mancanegara (atau biasa disebut inbound tourism expenditure, yang pada dasarnya mencerminkan aliran devisa masuk ke Indonesia) mencapai Rp318,66 triliun pada 2025. Angka ini naik Rp26,98 triliun atau setara 9,25 persen dibanding tahun sebelumnya. Kalau dirupiahkan ke kehidupan sehari-hari, ini artinya makin banyak uang asing yang berputar di hotel, restoran, dan destinasi wisata Indonesia.

Baca juga: Manokwari Kota Injil di Antara Gunung dan Laut

Ke mana saja uang para turis ini mengalir? Porsi terbesar, 33,59 persen, dihabiskan untuk akomodasi—wajar, karena tempat menginap adalah kebutuhan dasar siapa pun yang bepergian. Setelah itu, 17,20 persen untuk makanan dan minuman, 10,32 persen untuk belanja barang-barang khas pariwisata seperti suvenir dan kerajinan, serta 9,77 persen untuk jasa angkutan udara penumpang. Pola belanja ini menunjukkan bahwa turis asing memang lebih banyak menghabiskan uang untuk kebutuhan dasar selama liburan—menginap dan makan—ketimbang belanja barang mewah.

Kalau digabungkan dengan pengeluaran wisatawan domestik, total pengeluaran pariwisata internal (istilah untuk semua belanja wisatawan, baik lokal maupun asing, yang terjadi di dalam negeri) mencapai Rp2.408,97 triliun pada 2025. Namun ada satu catatan yang menarik untuk direnungkan: porsi pengeluaran pariwisata ini terhadap total ekspor dan konsumsi rumah tangga nasional justru sedikit menurun, dari 13,20 persen (2024) menjadi 13,18 persen (2025). Artinya, meski secara nominal uangnya makin besar, pertumbuhan pariwisata belum sepenuhnya mengejar laju pertumbuhan ekonomi nasional secara keseluruhan.

Bukan Cuma soal Angka, Tapi Juga Cerita di Baliknya

Menariknya, lonjakan angka-angka di atas bukan terjadi begitu saja. Membaiknya kinerja pariwisata Indonesia pada 2025 tidak lepas dari berbagai kebijakan pemerintah untuk memperkuat daya saing destinasi. Salah satu yang paling sering disebut adalah percepatan pengembangan lima Destinasi Pariwisata Super Prioritas (DPSP), Danau Toba, Lombok–Mandalika, Borobudur–Yogyakarta–Prambanan, Manado–Likupang, dan Labuan Bajo. Pemerintah juga terus mendorong penambahan rute penerbangan internasional langsung dari berbagai negara, serta membangun infrastruktur dan fasilitas pendukung di kawasan-kawasan wisata strategis.

Selain itu, sepanjang 2025 Indonesia juga kebanjiran agenda internasional yang turut mendongkrak kunjungan wisatawan asing—mulai dari konser musik internasional di Jakarta sampai ajang balap perahu motor F1 Powerboat di Danau Toba. Event-event semacam ini bukan cuma jadi hiburan, tapi juga “magnet” yang menarik wisatawan dari berbagai negara untuk datang, menginap, dan berbelanja di Indonesia. Semua faktor ini saling terkait: konektivitas yang membaik, event internasional yang makin ramai, dan minat masyarakat terhadap wisata yang terus meningkat, pada akhirnya bermuara pada angka-angka pertumbuhan yang kita bahas di atas.

PR Besar di Balik Angka yang Menjanjikan

Kalau ditarik benang merahnya, data TSA Indonesia 2023–2025 ini sebenarnya menyampaikan pesan yang cukup jelas, ini bukan cuma soal gaya hidup atau hiburan semata, tapi benar-benar jadi salah satu motor penggerak ekonomi Indonesia yang nyata. Kontribusinya terhadap PDB terus menguat tahun demi tahun, jutaan orang menggantungkan hidup dari sektor ini—kebanyakan lewat usaha kecil dan menengah—dan devisa dari wisatawan asing pun terus mengalir deras seiring pulihnya sektor ini pasca pandemi.

Tapi di balik semua kabar baik ini, ada juga “PR” yang belum selesai. Fakta bahwa porsi GVATI dan pengeluaran pariwisata internal terhadap ekonomi nasional justru sedikit menurun menunjukkan bahwa pertumbuhan pariwisata masih kalah cepat dibanding sektor-sektor lain. Supaya pariwisata benar-benar bisa jadi andalan utama ekonomi Indonesia ke depan, dibutuhkan langkah-langkah konkret: memperkuat daya saing destinasi wisata, meningkatkan kualitas sumber daya manusia di sektor ini, memperluas konektivitas transportasi, dan terus mempromosikan pariwisata yang berkelanjutan.

Jadi, lain kali kamu merencanakan liburan ke Labuan Bajo, Danau Toba, atau sekadar staycation di kota sendiri, ingatlah bahwa uang yang kamu belanjakan bukan cuma untuk kesenanganmu—tapi juga ikut menggerakkan roda ekonomi, membuka lapangan kerja, dan membawa devisa bagi negara.