Nvidia Akuisisi Hugging Face Senilai Rp228 Triliun, Perkuat Dominasi AI Open-Source

0
173
Nvidia
DOK: NVIDIA

(Vibizmedia-Nasional) Nvidia sepakat mengakuisisi Hugging Face, platform sekaligus komunitas kecerdasan buatan (AI) open-source yang dikenal sebagai “GitHub-nya AI”. Nilai akuisisi tersebut mencapai US$12,93 miliar atau sekitar Rp228 triliun.

CEO Nvidia Jensen Huang mengumumkan kesepakatan tersebut melalui blog perusahaan pada Kamis (3/9). Akuisisi ini menjadi langkah strategis Nvidia untuk memperluas ekosistem AI sekaligus memperkuat infrastruktur bagi para pengembang dan peneliti di seluruh dunia.

“Bersama-sama, kami akan mengembangkan platform Hugging Face, menguatkan infrastrukturnya, dan memperluas akses ke AI untuk para pengembang dan institusi di seluruh dunia,” ujar Huang.

Hugging Face merupakan perusahaan teknologi yang menyediakan platform bagi peneliti dan pengembang untuk menyimpan, membagikan, serta mengembangkan model dan dataset AI.

Platform tersebut telah menjadi salah satu pusat penting dalam ekosistem AI open-source karena memungkinkan pengembang mengakses dan menggunakan berbagai model tanpa harus membangun semuanya dari awal.

Hugging Face Tetap Terbuka

Meski berada di bawah Nvidia, Huang memastikan Hugging Face akan tetap menjadi platform AI terbuka.

Para pengembang tetap diberi kebebasan memilih model, kerangka kerja, penyedia layanan cloud maupun infrastruktur inferensi AI sesuai kebutuhan mereka.

Hugging Face juga akan terus mendukung pengembangan dan penerapan sistem multi-cloud dan multi-akselerator. Dengan demikian, pembuat model tetap dapat memilih perangkat keras dan infrastruktur yang paling sesuai dengan pekerjaan mereka.

“Komputasi NVIDIA tidak akan diwajibkan untuk membangun atau menerapkan melalui Hugging Face,” tegas Huang.

Pernyataan tersebut menjadi penting karena Nvidia merupakan salah satu pemain terbesar dalam penyediaan chip dan akselerator komputasi untuk pengembangan AI.

Melalui akuisisi tersebut, Nvidia ingin memperluas akses terhadap teknologi AI tanpa menjadikan ekosistem Hugging Face sepenuhnya bergantung pada perangkat keras Nvidia.

Berawal dari Pertemuan Jensen Huang dan Clem Delangue

Huang mengungkapkan, rencana akuisisi tersebut bermula dari pertemuannya dengan Co-founder sekaligus CEO Hugging Face, Clem Delangue.

Menurut Huang, Delangue saat itu tengah mempertimbangkan babak berikutnya bagi perkembangan Hugging Face dan melihat Nvidia sebagai rumah yang tepat untuk membawa perusahaan serta komunitas AI-nya ke tahap yang lebih besar.

Kedua pihak kemudian menemukan kesamaan visi mengenai masa depan AI terbuka.

Nvidia juga menyebut dirinya sebagai salah satu kontributor terbesar model dan data terbuka di Hugging Face. Hingga kini, Nvidia telah merilis lebih dari 500 model dan lebih dari 250 dataset terbuka di platform tersebut.

“Kami berbagi visi ini dan tim Hugging Face sekarang akan membawa semangat dan keahlian mereka ke kanvas yang jauh lebih besar,” kata Huang.

AI Open-Source Jadi Mesin Inovasi

Menurut Nvidia, keberadaan model AI terbuka memberikan kesempatan lebih luas bagi perusahaan rintisan, perusahaan besar, universitas, hingga lembaga publik untuk mengembangkan teknologi AI tanpa harus melatih model dari awal.

Model-model terbuka juga dinilai dapat mempercepat inovasi karena pengembang dapat membangun, mengadaptasi dan mengembangkan teknologi yang sudah tersedia.

Huang mengatakan, pendekatan tersebut dapat membantu memperluas pemanfaatan AI ke berbagai sektor, mulai dari keamanan siber, industri dan manufaktur hingga rumah sakit, pertanian, pendidikan dan usaha kecil.

“Dengan cara inilah AI dapat berkembang dengan aman, memperkuat keamanan siber dan kedaulatan, mempercepat inovasi, menjangkau pabrik, rumah sakit, pertanian, ruang kelas, dan bisnis kecil di seluruh dunia,” tulis Huang.

Akuisisi Hugging Face sekaligus menunjukkan semakin besarnya nilai strategis ekosistem AI open-source. Bagi Nvidia, penguasaan terhadap infrastruktur komputasi tidak lagi menjadi satu-satunya fokus. Platform pengembangan, komunitas pengembang, model dan dataset juga menjadi bagian penting dalam persaingan membangun ekosistem AI global.