SMK Go Global Dibuka, Lulusan SMK Disiapkan Tembus Pasar Kerja Internasional

0
53
SMK Go Global
SMK Go Global, FOTO: KEMENTERIAN P2MI

(Vibizmedia-Nasional) Kementerian Perindustrian (Kemenperin) memperkuat pengembangan sumber daya manusia (SDM) industri melalui program SMK Go Global. Program yang mendukung arahan Presiden Prabowo Subianto tersebut dirancang untuk meningkatkan kompetensi lulusan SMK sekaligus membuka akses mereka ke pasar kerja internasional.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan, pendidikan vokasi menjadi salah satu kunci untuk menciptakan SDM unggul yang mampu menjawab kebutuhan industri yang terus berkembang.

“Pendidikan vokasi adalah investasi untuk masa depan. Dengan SDM yang kompeten dan unggul, industri kita akan tumbuh lebih produktif, tangguh, dan berdaya saing global,” ujar Agus dalam keterangannya di Jakarta, Jumat (4/9).

Menurutnya, kebutuhan tenaga kerja saat ini berubah semakin cepat seiring perkembangan teknologi dan transformasi industri. Karena itu, pendidikan vokasi harus mampu menghasilkan tenaga kerja dengan kompetensi teknis yang sesuai dengan kebutuhan dunia industri.

Untuk mendukung program SMK Go Global, Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Industri (BPSDMI) Kemenperin menggandeng Kementerian Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (KP2MI).

Kolaborasi tersebut menggabungkan dua kebutuhan utama, yakni penguatan kompetensi teknis calon tenaga kerja serta pembukaan akses terhadap pasar kerja internasional dengan tetap mengedepankan aspek keamanan dan pelindungan.

Plt. Kepala BPSDMI Kemenperin Emmy Suryandari mengatakan, kerja sama tersebut menjadi langkah strategis karena kedua kementerian memiliki peran yang saling melengkapi.

“Kementerian Perindustrian dapat berperan dalam menyiapkan keterampilan dan kompetensi teknis atau hard skills SDM industri, sedangkan KP2MI berperan membuka akses pasar kerja, menempatkan lulusan, serta memberikan payung pelindungan bagi para pahlawan devisa,” ujar Emmy dalam Kick Off SMK Go Global di Jakarta.

Dari Pelatihan hingga Penempatan

Program SMK Go Global tidak hanya berorientasi pada pelatihan. Program tersebut dirancang sebagai sebuah ekosistem yang mencakup pemetaan kebutuhan tenaga kerja, pelatihan, sertifikasi kompetensi, job matching, hingga penempatan peserta di negara tujuan.

Sejumlah negara yang telah dipetakan sebagai pasar kerja potensial antara lain Jepang, Korea Selatan, Jerman, Australia, Malaysia, Singapura, Turki, Taiwan, Maladewa serta sejumlah negara di kawasan Eropa.

Pemetaan kebutuhan tersebut dilakukan agar kompetensi yang diberikan kepada peserta benar-benar sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan industri di masing-masing negara tujuan.

Menteri Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI) Mukhtarudin mengatakan, SMK Go Global sekaligus menjadi bagian dari strategi pelindungan pekerja migran sejak dari tahap awal.

“SMK Go Global merupakan bentuk pelindungan dari hulu. Peserta dibekali kompetensi, bahasa, serta sertifikasi yang sesuai dengan kebutuhan pasar kerja internasional agar siap bekerja melalui jalur yang legal, aman, dan terlindungi,” kata Mukhtarudin.

Menurutnya, program tersebut memiliki peluang besar karena Indonesia memiliki jumlah penduduk usia produktif yang besar. Di sisi lain, sejumlah negara di Asia dan Eropa mulai menghadapi kekurangan tenaga kerja produktif akibat perubahan struktur demografi dan populasi yang menua.

Meski demikian, pemerintah tetap memprioritaskan penciptaan lapangan kerja di dalam negeri. Bagi masyarakat yang memilih bekerja di luar negeri, pemerintah menyiapkan mekanisme agar keberangkatan dan penempatan dilakukan secara resmi serta mendapatkan pelindungan.

“Pemerintah tetap memprioritaskan penyediaan lapangan kerja di dalam negeri. Tetapi bagi masyarakat yang ingin bekerja ke luar negeri, kita siapkan fasilitas dan aturan agar mereka dapat bekerja secara resmi, aman, dan terlindungi,” ujarnya.

Dorong Pendidikan Vokasi Berbasis Industri

Kemenperin selama ini terus mengembangkan pendidikan vokasi industri dengan pendekatan link and match. Sistem tersebut menghubungkan proses pendidikan dan pelatihan dengan kebutuhan nyata dunia industri.

Pendekatan yang diadopsi dari sistem pendidikan vokasi Swiss tersebut ditujukan agar peserta didik tidak hanya memiliki kemampuan akademis, tetapi juga menguasai keterampilan praktis yang dibutuhkan perusahaan.

Dengan kompetensi yang relevan, lulusan diharapkan lebih siap memasuki dunia kerja dan memiliki kemampuan bersaing di tingkat nasional maupun internasional.

Saat ini, sistem pendidikan vokasi industri Kemenperin telah diterapkan pada 22 unit pendidikan yang terdiri atas 11 politeknik, dua akademi komunitas dan sembilan SMK.

Melalui SMK Go Global, pemerintah berharap lulusan pendidikan vokasi tidak hanya menjadi tenaga kerja yang siap bekerja di dalam negeri, tetapi juga mampu memenuhi kebutuhan industri global.

Program tersebut sekaligus diharapkan meningkatkan kualitas pekerja migran Indonesia dari tenaga kerja berkeahlian rendah menjadi tenaga kerja terampil yang memiliki kompetensi, sertifikasi dan kemampuan bahasa sesuai kebutuhan negara tujuan.