Indonesia–Jepang Perkuat Kolaborasi Otomotif, Teknologi, dan Akses Pasar

0
91
Foto: Kemenko Ekon

(Vibizmedia – Nagoya, Jepang) Rangkaian kunjungan kerja Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian di Nagoya, Jepang, ditutup dengan pertemuan Business Discussion Lunch bersama pelaku industri otomotif nasional dan mitra usaha Jepang, Sabtu (19/9).

Digelar di Izakaya Morinokura, pertemuan tersebut menjadi ruang untuk mempertemukan hasil pembelajaran mengenai teknologi dan perkembangan industri selama kunjungan di Nagoya dengan berbagai kebutuhan serta tantangan yang dihadapi dunia usaha.

Delegasi Kemenko Perekonomian dipimpin Sekretaris Kemenko Perekonomian Susiwijono Moegiarso. Turut hadir Deputi Bidang Koordinasi Perniagaan dan Ekonomi Digital Kemenko Perekonomian Ali Murtopo Simbolon, jajaran pimpinan PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN), serta perwakilan pelaku industri, antara lain Denso Indonesia, Aisin Indonesia, dan Advics Indonesia.

Susiwijono mengatakan rangkaian agenda di Nagoya memperlihatkan adanya keterkaitan erat antara penguasaan teknologi, kualitas sumber daya manusia (SDM), dan kekuatan rantai pasok dalam membangun daya saing industri.

Menurutnya, ketiga aspek tersebut juga menjadi fondasi penting bagi Indonesia dalam memperkuat industri manufaktur, khususnya sektor otomotif yang memiliki keterkaitan luas dengan berbagai industri pendukung.

Perluasan Akses Pasar melalui Perjanjian Dagang

Dalam forum tersebut, pemerintah juga memaparkan langkah Indonesia dalam memperluas akses pasar melalui kerja sama perdagangan internasional. Saat ini Indonesia telah menandatangani 25 perjanjian perdagangan internasional, baik dalam bentuk Free Trade Agreement (FTA) maupun Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA), yang sebagian telah menyelesaikan proses ratifikasi.

Salah satu agenda yang menjadi perhatian adalah Indonesia–European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA). Proses ratifikasi dijadwalkan mulai November 2026 dengan target implementasi pada Januari 2027.

Kebijakan tersebut menjadi bagian dari strategi pemerintah untuk mempertahankan momentum pertumbuhan ekonomi, sejalan dengan membaiknya prospek ekonomi global pada 2027 yang diproyeksikan berada di kisaran 3,2–3,3 persen.

Di dalam negeri, pemerintah juga terus memperkuat fondasi pertumbuhan yang selama ini ditopang konsumsi dan investasi. Berbagai program bantuan sosial, subsidi, serta insentif fiskal diarahkan untuk menjaga daya beli masyarakat sekaligus memperkuat permintaan domestik.

Pada saat bersamaan, pemerintah mulai mendorong sumber-sumber pertumbuhan baru, terutama pada sektor kecerdasan artifisial (AI) dan semikonduktor.

AI dan Semikonduktor Jadi Sektor Pertumbuhan Baru

Indonesia telah menjalin sejumlah kerja sama internasional untuk memperkuat kapasitas di bidang teknologi tersebut. Di antaranya kerja sama dengan ARM yang dimulai pada awal 2026, keanggotaan Indonesia dalam WAICO, serta proses penjajakan dan komunikasi dengan PAX Silica.

Keterlibatan dalam berbagai forum dan kerja sama global tersebut diharapkan dapat mempercepat peningkatan produktivitas ekonomi nasional. Perkembangan ini juga memiliki relevansi langsung dengan industri otomotif yang semakin membutuhkan teknologi cerdas dan komponen berbasis semikonduktor.

Dengan perubahan teknologi menuju kendaraan yang semakin terhubung dan terotomatisasi, penguatan kapasitas semikonduktor dinilai menjadi salah satu bagian penting dalam membangun industri otomotif yang kompetitif.

Pelaku Industri Sampaikan Tantangan di Lapangan

Pertemuan tersebut juga menjadi forum bagi dunia usaha untuk menyampaikan berbagai pandangan mengenai kondisi investasi di Indonesia. Sejumlah isu yang dibahas antara lain tantangan dalam proses perizinan, akses pembiayaan bagi industri kecil dan menengah (IKM) yang menjadi bagian dari rantai pasok otomotif, serta persoalan sertifikasi Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) di tengah proses transisi menuju kendaraan listrik.

Pemerintah menyambut masukan tersebut dan menegaskan komitmennya untuk melakukan penyempurnaan kebijakan melalui langkah-langkah konkret, termasuk menangani berbagai hambatan investasi yang masih ditemukan di lapangan.

Dialog langsung antara pemerintah dan pelaku industri dinilai penting agar kebijakan yang disusun dapat semakin responsif terhadap kebutuhan dunia usaha sekaligus mendukung penguatan ekosistem industri nasional.

Indonesia sebagai Bagian dari Rantai Nilai Global

Pertemuan di Nagoya sekaligus menegaskan posisi Indonesia sebagai salah satu mitra penting Jepang dalam pengembangan industri otomotif dan komponen pendukungnya.

Indonesia tidak hanya memiliki peran sebagai pasar, tetapi juga telah menjadi bagian dari rantai nilai industri otomotif global. Kapasitas produksi di Indonesia bahkan telah menopang kegiatan ekspor ke lebih dari 100 negara.

Pemerintah melihat keterhubungan antara industri nasional dan mitra Jepang sebagai modal penting untuk terus memperkuat investasi, teknologi, SDM, rantai pasok, serta akses pasar.

Melalui dialog yang terbuka dan berkelanjutan, kemitraan Indonesia–Jepang diharapkan semakin berkembang dan mampu memberikan manfaat yang lebih luas bagi penguatan industri serta perekonomian kedua negara.