KKP dan UNDP Perkuat Budi Daya Rumput Laut Gracilaria di Sidoarjo

0
65
Foto: KKP

(Vibizmedia – Jakarta) Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menggandeng UNDP Indonesia untuk mendorong peningkatan produktivitas budi daya rumput laut jenis Gracilaria di Sidoarjo, Jawa Timur. Kolaborasi tersebut dilakukan melalui berbagai langkah, mulai dari rehabilitasi tambak, penyediaan bibit berkualitas, penguatan fasilitas produksi dan pascapanen, hingga membuka peluang investasi untuk pengembangan industri pengolahan rumput laut.

Direktur Jenderal Perikanan Budi Daya KKP, Tb Haeru Rahayu atau Tebe, mengatakan Gracilaria memiliki peluang pengembangan yang cukup besar seiring meningkatnya kebutuhan rumput laut di pasar internasional. Permintaan rumput laut global pada 2029 diperkirakan berada pada kisaran 40–43 juta ton.

Indonesia saat ini menempati posisi sebagai produsen rumput laut terbesar kedua di dunia. Pada 2024, produksi rumput laut nasional mencapai 9,8 juta ton. Dari total tersebut, Gracilaria berkontribusi sekitar 16,5 persen dari produksi yang berasal dari 15 provinsi sentra utama.

Di Jawa Timur sendiri, produksi Gracilaria mencapai 31.947 ton. Komoditas tersebut umumnya dibudidayakan melalui pola polikultur dengan ikan bandeng.

Menurut Tebe, pengembangan Gracilaria tidak cukup hanya berfokus pada peningkatan produksi. Penguatan sektor hulu perlu berjalan beriringan dengan pengembangan industri hilir agar tercipta peluang investasi dan produk olahan yang memberikan nilai ekonomi lebih tinggi.

“Potensinya tidak berhenti pada produksi. Hulu harus diperkuat, kemudian hilirisasinya juga perlu terus didorong agar muncul investasi dan industri pengolahan yang bisa memberikan nilai tambah lebih besar,” ujar Tebe dalam siaran pers yang diterima di Jakarta, Sabtu (26/9/2026).

Sebagai bagian dari upaya tersebut, KKP telah menyalurkan sejumlah dukungan kepada pembudidaya. Bantuan yang diberikan antara lain dua unit ekskavator untuk membantu rehabilitasi tambak, bibit unggul Gracilaria, benih ikan bandeng, serta dukungan pembiayaan.

Penguatan selanjutnya diarahkan pada terciptanya keterhubungan yang lebih baik antara pembudidaya dengan sektor industri. Dengan demikian, hasil produksi tidak hanya berhenti sebagai komoditas mentah, tetapi dapat masuk ke rantai pengolahan dan menghasilkan nilai tambah di dalam negeri.

KKP juga menyiapkan pengembangan teknologi pembibitan Gracilaria berbasis spora di dua unit pelaksana teknis (UPT) Direktorat Jenderal Perikanan Budi Daya di Pulau Jawa, yakni BPBAP Situbondo dan BBPBAP Jepara. Pengembangan tersebut diharapkan dapat mendekatkan sumber bibit berkualitas dengan wilayah-wilayah yang menjadi sentra produksi rumput laut.

Teknologi pembibitan berbasis spora sebelumnya telah diterapkan di Balai Perikanan Budi Daya Air Payau Takalar, Sulawesi Selatan, yang juga berada di bawah KKP.

Kepala Balai Perikanan Budi Daya Air Payau Takalar, Boyun Handoyo, mengatakan sekitar dua ton bibit Gracilaria yang dihasilkan melalui teknologi spora telah dikirim ke Sidoarjo pada tahun ini.

“Tahun ini telah dikirimkan sekitar 2 ton bibit Gracilaria hasil teknologi spora ke Sidoarjo. Harapannya bibit ini dapat terus dikembangkan dan diperbanyak sehingga pembudidaya memiliki sumber bibit berkualitas,” kata Boyun.

Sementara itu, Resident Representative UNDP Indonesia, Sara Ferrer Olivella, menekankan bahwa peningkatan nilai ekonomi rumput laut membutuhkan pembenahan di sepanjang rantai produksi. Pengelolaan bibit, teknik panen, hingga proses pengolahan dinilai menjadi aspek penting dalam meningkatkan manfaat ekonomi yang diterima para pembudidaya.

Menurut Sara, keterlibatan dunia usaha juga diperlukan untuk memperkuat ekosistem rumput laut, termasuk melalui investasi dan pengembangan industri. Sektor swasta dan investor dapat membantu koperasi melakukan diversifikasi produk, meningkatkan kapasitas pengolahan, serta membuka akses yang lebih luas bagi produk rumput laut Indonesia di pasar internasional.

“Indonesia merupakan produsen rumput laut terbesar kedua di dunia, dan Sidoarjo relevan dalam potensi besar tersebut. Selanjutnya, hilirisasi perlu diperkuat agar rumput laut dapat menghasilkan lebih banyak produk dan nilai tambah di dalam negeri,” ujar Sara.