(Vibizmedia – Jakarta) Pemerintah menyiapkan sejumlah strategi untuk memperkuat momentum pertumbuhan ekonomi Indonesia menuju 2027. Di tengah ketidakpastian global yang masih membayangi, penguatan tata kelola, kepastian berusaha, investasi, hilirisasi, serta pengembangan sumber pertumbuhan baru menjadi bagian penting untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi sebesar 6% tahun depan.
Wakil Menteri Koordinator Bidang Perekonomian RI Drajad Hari Wibowo mengatakan, tantangan perekonomian ke depan tidak hanya berkaitan dengan kondisi eksternal, tetapi juga kemampuan Indonesia memperkuat fundamental dan tata kelola di dalam negeri.
Saat menyampaikan opening keynote pada Investor Daily Summit 2026 di Jakarta, Kamis (8/10), Drajad menegaskan pentingnya penerapan compliance dan good governance dalam menciptakan lingkungan usaha yang sehat.
“Bapak Presiden berusaha untuk menegakkan masalah compliance sama good governance. Karena memang untuk membawa Indonesia maju, tata kelola dan compliance menjadi salah satu yang krusial bagi dunia usaha,” ujarnya.
Kepastian Berusaha Terus Diperkuat
Pemerintah menempatkan kepastian berusaha sebagai salah satu fondasi untuk mendorong investasi dan aktivitas ekonomi. Upaya tersebut antara lain diwujudkan melalui Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2025 yang memperkuat service level agreement (SLA) dalam proses perizinan serta menerapkan mekanisme fiktif positif.
Selain itu, penguatan Satgas P3MPPE juga terus dilakukan dengan menyediakan kanal layanan yang dapat diakses selama 24 jam dalam tujuh hari.
Langkah tersebut diharapkan dapat mengurangi hambatan yang dihadapi dunia usaha sekaligus meningkatkan kepercayaan investor. Pemerintah juga terus mendorong kolaborasi dengan sektor swasta untuk memperkuat pertumbuhan, pemerataan, dan stabilitas ekonomi nasional.
Investasi Tembus Rp1.010,6 Triliun
Ketahanan fundamental ekonomi Indonesia tercermin dari sejumlah indikator yang masih menunjukkan kinerja positif. Ekonomi nasional tumbuh 5,45% pada semester I 2026, sementara realisasi investasi telah mencapai Rp1.010,6 triliun.
Pada kuartal II 2026, investasi tumbuh 7,1% secara tahunan (year on year/yoy). Sebaran investasi juga semakin merata, dengan 50,1% realisasi investasi berada di luar Pulau Jawa.
Sementara itu, investasi pada sektor hilirisasi mencapai Rp152,7 triliun atau tumbuh 5,7% secara tahunan.
Pemerintah akan terus mengarahkan investasi ke sektor-sektor yang mampu menghasilkan nilai tambah lebih tinggi. Agenda tersebut mencakup percepatan hilirisasi, pengembangan industri padat karya, hingga pembangunan dan penguatan kawasan industri.
Hingga 30 Juni 2026, sebanyak 25 kawasan industri telah mencatat investasi kumulatif Rp368 triliun dan menyerap lebih dari 283 ribu tenaga kerja. Dari jumlah tersebut, 18 kawasan industri berada di luar Jawa.
Industri Padat Karya Tetap Jadi Prioritas
Pemerintah juga melihat sektor tekstil dan produk tekstil (TPT) masih memiliki prospek sebagai salah satu penopang industri padat karya. Industri ini menyerap sekitar 4 juta tenaga kerja dengan nilai ekspor mencapai sekitar USD12 miliar.
Karena itu, penguatan industri TPT akan berjalan bersamaan dengan peningkatan kualitas dan kesiapan tenaga kerja. Program magang nasional serta pengembangan pendidikan vokasi terus didorong untuk memastikan kebutuhan industri dapat diimbangi dengan ketersediaan sumber daya manusia yang kompeten.
Menurut pemerintah, investasi tidak cukup hanya diukur dari besarnya modal yang masuk. Investasi juga harus mampu menciptakan lapangan kerja, meningkatkan kualitas tenaga kerja, serta memperkuat kapasitas industri nasional.
Perluas Akses Pasar dan Teknologi
Di tengah dinamika ekonomi global, Indonesia juga memperkuat keterhubungan dengan pasar internasional melalui berbagai forum dan kerja sama ekonomi. Sejumlah agenda tersebut mencakup G20, ASEAN, RCEP, proses aksesi OECD, CPTPP, IEU-CEPA, serta CEPA Indonesia-Kanada.
Integrasi tersebut diarahkan untuk membuka akses pasar yang lebih luas sekaligus menarik investasi dan mempercepat transfer teknologi.
Pemerintah juga mulai menempatkan teknologi sebagai sumber pertumbuhan baru, khususnya melalui pengembangan artificial intelligence (AI), data center, semikonduktor, dan ekonomi digital.
Pengembangan sektor-sektor tersebut dinilai penting untuk meningkatkan produktivitas sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam rantai nilai ekonomi global.
Menuju Pertumbuhan 6% dan 8%
Memasuki 2027, pemerintah menetapkan target pertumbuhan ekonomi sebesar 6% sebagai tahapan menuju sasaran pertumbuhan 8% dalam jangka menengah.
Untuk mencapai target tersebut, laju investasi perlu tumbuh lebih cepat dibandingkan pertumbuhan ekonomi. Strategi tersebut harus diikuti dengan peningkatan produktivitas dan ekspor produk bernilai tambah.
Namun, percepatan ekonomi tidak boleh berjalan sendiri. Pertumbuhan juga harus menghasilkan peningkatan kesejahteraan masyarakat serta memperkuat ekonomi rakyat.
Karena itu, pemerintah mendorong kolaborasi yang lebih erat antara pemerintah, dunia usaha, investor, perbankan dan sektor keuangan, akademisi, media, serta seluruh pemangku kepentingan.
“Pemerintahan ingin memastikan bahwa investasi yang masuk ke Indonesia tidak hanya menghasilkan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga membuka lapangan kerja, meningkatkan kualitas SDM, dan memperkuat industri nasional,” kata Drajad.
Ia menegaskan pemerintah tidak dapat bekerja sendiri dalam mencapai sasaran tersebut. Seluruh pemangku kepentingan perlu bersama-sama menjaga optimisme dan membangun kepercayaan terhadap prospek ekonomi Indonesia.
“Karena itu, kami mengajak seluruh pelaku usaha, investor, perbankan dan keuangan, akademisi, media, semua pemangku kepentingan untuk terus membangun optimisme dan kepercayaan terhadap ekonomi Indonesia,” pungkasnya.
Semangat “Tumbuh lebih tinggi, sejahtera lebih cepat, menuju 8%” pun menjadi arah bersama untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi Indonesia sekaligus memastikan manfaat pembangunan semakin luas dirasakan masyarakat.
Turut hadir dalam acara tersebut Deputi Bidang Koordinasi Pengelolaan Pengembangan Usaha BUMN Kemenko Perekonomian Ferry Irawan, Executive Chairman B Universe Enggartiasto Lukita, Direktur Utama B Universe Rio Abdurachman, serta sejumlah pelaku usaha.









