Kriya Indonesia Naik Kelas, Teknologi Jadi Kunci Tembus Pasar Global

0
61
Ilustrasi Kerajinan UMKM di Inacraft 2026 (Sumber: Katadata)

(Vibizmedia – Economy & Business) Produk kriya Indonesia memiliki peluang semakin besar di pasar global jika kekuatan budaya dan kearifan lokal dipadukan dengan teknologi.

Menteri Perdagangan Budi Santoso menilai transformasi tersebut menjadi langkah penting untuk meningkatkan daya saing industri kriya di tengah perubahan tren perdagangan dunia.

Menurut Budi, konsumen global kini tidak hanya mempertimbangkan keindahan produk, tetapi juga aspek keberlanjutan, ketelusuran bahan baku, serta praktik bisnis yang etis. Karena itu, pelaku usaha kriya perlu memperkuat inovasi, digitalisasi manajemen rantai pasok, serta kemampuan memenuhi standar internasional.

“Konsumen global kini tidak hanya membeli keindahan visual, tetapi juga menuntut keberlanjutan, ketelusuran bahan baku, dan praktik bisnis yang etis,” ujar Budi saat membuka The Jakarta International Handicraft Trade Fair (Inacraft) Vol. 5 October 2026 Youthpreneurs di Jakarta, Rabu (7/10).

Kekuatan kriya Indonesia terletak pada kemampuan mengawinkan akar budaya Nusantara dengan perkembangan teknologi. Produk seperti anyaman rotan dan ornamen kayu, misalnya, memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi produk bernilai tambah dan berorientasi ekspor.

Potensi tersebut tercermin dari kinerja ekspor kriya dan dekorasi rumah Indonesia yang konsisten berada di atas USD 1 miliar sejak 2022. Pada 2025, ekspornya mencapai USD 1,26 miliar. Sementara hingga awal 2026, nilainya telah mencapai USD 821 juta atau tumbuh 6,8 persen. Selain Amerika Serikat dan Eropa, pasar Asia juga menunjukkan pertumbuhan, termasuk Thailand yang naik 81,8 persen dan Jepang 28,5 persen.

Budi mengatakan penguatan ekosistem kriya sejalan dengan tiga program prioritas Kemendag 2026, yakni Pengamanan Pasar Dalam Negeri, Perluasan Pasar Ekspor, dan Dari Lokal untuk Global.

Inacraft menjadi salah satu wadah untuk mempertemukan perajin, UMKM, eksportir, dan wirausaha muda dengan pasar internasional. Para peserta juga didorong melanjutkan promosi melalui Trade Expo Indonesia (TEI) ke-41 pada 14–18 Oktober 2026 di ICE BSD City.

Peluang ekspor mulai terlihat sejak hari pertama pameran. Rukaiah, pemilik Svarga Mutiara Lombok, mengaku telah berkomunikasi dengan calon pembeli dari Arab Saudi dan Malaysia.