Kemenkes Temukan 1,6 Juta Orang Terindikasi Gangguan Penglihatan Lewat CKG

0
45
Ilustrasi mata (Foto: Cotton bro)

(Vibizmedia – Jakarta) Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI memperkuat upaya deteksi dini gangguan penglihatan setelah menemukan sekitar 1,6 juta orang terindikasi mengalami masalah pada mata dari total 34 juta peserta yang mengikuti pemeriksaan melalui program Cek Kesehatan Gratis (CKG).

Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) Dante Saksono Harbuwono mengungkapkan temuan tersebut saat membuka peringatan Hari Penglihatan Sedunia (World Sight Day) 2026 di Jakarta, Kamis (15/10/2026).

Berdasarkan hasil pemeriksaan CKG, kelainan mata ditemukan pada sekitar 3 persen anak sekolah dan 4 persen populasi umum. Selain itu, gangguan penglihatan yang berkaitan dengan katarak tercatat sekitar 3 persen dari pemeriksaan yang telah dilakukan.

Temuan tersebut menjadi perhatian pemerintah untuk meningkatkan jangkauan layanan kesehatan mata, terutama melalui deteksi dini, pemerataan tenaga medis, dan perluasan akses pengobatan bagi masyarakat yang membutuhkan.

Kemenkes telah menyiapkan empat langkah strategis untuk memperkuat penanganan gangguan penglihatan di Indonesia. Upaya pertama dilakukan dengan meningkatkan skrining mata melalui program CKG yang menyasar lingkungan sekolah, fasilitas pelayanan kesehatan, dan komunitas.

Pemeriksaan sejak dini diharapkan dapat membantu mengidentifikasi gangguan penglihatan sebelum kondisinya memburuk, sehingga masyarakat bisa mendapatkan penanganan yang sesuai dengan kebutuhan medisnya.

Langkah kedua adalah memperluas akses operasi katarak yang ditanggung BPJS Kesehatan. Dalam pelaksanaannya, Kemenkes mendorong peningkatan kapasitas pelayanan operasi sekaligus memperkuat koordinasi untuk mengatasi ketimpangan kuota layanan di berbagai daerah.

Selanjutnya, pemerintah berupaya memperbaiki pemerataan distribusi dokter spesialis mata. Selama ini, keberadaan tenaga medis tersebut masih terkonsentrasi di kota-kota besar, sehingga masyarakat di sejumlah wilayah menghadapi keterbatasan akses untuk memperoleh pemeriksaan dan pengobatan.

Dante menegaskan bahwa distribusi tenaga medis yang lebih merata diperlukan agar pelayanan kesehatan mata dapat dijangkau masyarakat di berbagai daerah, termasuk wilayah yang masih kekurangan dokter spesialis.

Strategi keempat berfokus pada peningkatan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya menjaga kesehatan mata, terutama di lingkungan sekolah dan tempat kerja. Salah satu langkah yang dianjurkan adalah menerapkan aturan 20-20-20 untuk mengurangi ketegangan mata akibat penggunaan layar dalam waktu lama.

Melalui panduan tersebut, masyarakat dianjurkan mengalihkan pandangan dari layar setiap 20 menit, selama 20 detik, ke objek yang berjarak sekitar 20 kaki atau 6 meter. Kebiasaan sederhana ini dapat membantu mengurangi kelelahan mata, khususnya bagi mereka yang banyak menggunakan perangkat digital dalam aktivitas sehari-hari.

Dante menekankan bahwa penanganan gangguan penglihatan tidak dapat dilakukan oleh pemerintah sendiri. Diperlukan sinergi dengan organisasi profesi, pemerintah daerah, serta mitra pembangunan untuk memperluas jangkauan pemeriksaan dan meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan mata.

Kolaborasi tersebut antara lain melibatkan Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia (Perdami) dan mitra pembangunan internasional guna mendukung berbagai program pencegahan serta penanganan gangguan penglihatan.

Kemenkes juga mengimbau masyarakat agar memanfaatkan layanan pemeriksaan mata yang tersedia dan segera berkonsultasi dengan tenaga kesehatan apabila mengalami gejala, seperti penglihatan kabur atau nyeri pada mata.

Pemeriksaan sejak dini dan penanganan yang tepat menjadi langkah penting untuk mencegah gangguan penglihatan berkembang lebih jauh. Melalui penguatan skrining, perluasan layanan, pemerataan tenaga medis, dan edukasi berkelanjutan, pemerintah berharap semakin banyak masyarakat dapat mempertahankan fungsi penglihatan dan meningkatkan kualitas hidup.