Kanker Menyerang Usia Muda, Gaya Hidup Modern Mulai Dipertanyakan

0
51
Kanker

(Vibizmedia-Kolom) Kanker selama ini identik dengan penyakit yang muncul pada usia lanjut. Banyak orang menganggap risiko penyakit ini baru perlu diperhatikan ketika memasuki usia 50 atau 60 tahun, saat tubuh mulai kehilangan sebagian kemampuannya untuk memperbaiki diri. Namun, anggapan tersebut semakin sulit dipertahankan. Dalam beberapa dekade terakhir, kasus sejumlah jenis kanker justru meningkat di kalangan orang dewasa muda, termasuk mereka yang masih berada dalam usia produktif, aktif berolahraga, dan merasa telah menjalani kehidupan yang sehat.

Kenaikan ini menjadi perhatian serius para ahli onkologi di berbagai negara. Mia de Graaf, editor kesehatan Business Insider, mengungkapkan bahwa risiko seseorang didiagnosis kanker pada usia 15–39 tahun meningkat sekitar 40 persen dibandingkan dengan 1975. Fenomena ini tidak hanya mengejutkan karena terjadi pada kelompok usia yang relatif muda, tetapi juga karena penyebabnya belum sepenuhnya dipahami. Di balik peningkatan tersebut, para peneliti sedang menyelidiki perubahan pola makan, aktivitas fisik, kualitas tidur, paparan lingkungan, hingga faktor biologis yang mungkin berperan.

Ketika Usia Muda Tidak Lagi Menjadi Jaminan

Kisah pasien kanker usia muda memperlihatkan betapa jauhnya kenyataan ini dari anggapan masyarakat. Seorang perempuan bernama Mia dalam laporan tersebut didiagnosis kanker rektum stadium III pada usia 35 tahun, pada awal 2023. Sebelum menerima diagnosis, ia sempat mencari informasi mengenai gejala yang dirasakannya melalui internet. Hasil pencarian berulang kali mengarah pada kanker lambung atau kanker kolorektal, tetapi ia merasa penyakit tersebut tidak mungkin menimpanya karena masih muda.

Pengalaman serupa dialami pasien lain yang didiagnosis kanker usus besar pada usia 27 tahun. Ia mengaku aktif melakukan CrossFit dan berusaha memperbaiki pola makan agar hidup lebih sehat. Diagnosis tersebut menjadi pukulan besar karena kanker bukan sesuatu yang pernah ia bayangkan harus dihadapi pada usia ketika seseorang biasanya sedang membangun karier, merintis keluarga, membeli rumah, atau merencanakan masa depan.

Masalahnya bukan semata-mata bahwa kanker dapat menyerang orang muda. Hal yang lebih mengkhawatirkan adalah meningkatnya jumlah kasus pada kelompok usia tersebut, bahkan pada orang yang tampak bugar. Sejumlah dokter yang menangani pasien muda melaporkan bahwa sebagian pasien mereka terlihat sehat ketika datang untuk mendapatkan pemeriksaan. Ada yang rutin berolahraga, menjalani aktivitas fisik tinggi, dan tidak menunjukkan gambaran umum yang selama ini diasosiasikan dengan orang sakit.

Kondisi ini mengingatkan kita bahwa kebugaran fisik tidak identik dengan bebas kanker. Olahraga dan pola makan sehat tetap penting untuk menurunkan berbagai risiko penyakit, tetapi keduanya tidak memberikan perlindungan mutlak. Kanker merupakan penyakit kompleks yang dapat berkembang melalui interaksi faktor genetik, biologis, lingkungan, dan kebiasaan hidup.

Empat Belas Jenis Kanker yang Perlu Diwaspadai

Peningkatan kasus kanker pada usia muda tidak terjadi pada satu jenis penyakit saja. Dalam laporan Business Insider, terdapat 14 jenis kanker yang menjadi perhatian karena kasusnya meningkat pada kelompok usia lebih muda, termasuk mereka yang berusia di bawah 50 tahun.

Jenis tersebut meliputi kanker payudara, kolorektal atau usus besar dan rektum, endometrium, kerongkongan, saluran empedu, kandung empedu, kepala dan leher, ginjal, hati, sumsum tulang, pankreas, prostat, lambung, serta tiroid. Sebagian kanker tersebut berhubungan dengan sistem pencernaan, sehingga perubahan pola makan dan metabolisme tubuh menjadi salah satu bidang utama yang diteliti.

Kanker kolorektal mendapat perhatian khusus karena peningkatannya pada generasi yang lebih muda. Berdasarkan angka yang dipaparkan dalam laporan tersebut, seseorang yang lahir pada 1990 memiliki risiko didiagnosis kanker kolorektal sekitar empat kali lebih tinggi dibandingkan dengan seseorang yang lahir pada 1950. Proyeksi yang dikutip dalam laporan itu juga memperkirakan bahwa pada 2030, kanker kolorektal dapat melampaui kanker payudara sebagai penyebab utama kematian akibat kanker pada kelompok usia muda. Proyeksi tersebut perlu dipahami sebagai perkiraan berdasarkan tren yang dikaji, bukan kepastian bahwa kondisi tersebut akan terjadi di setiap negara.

Persoalan lain adalah banyak pasien muda baru terdiagnosis ketika penyakit sudah memasuki stadium lanjut. Dalam kasus kanker kolorektal, sebagian pasien datang dengan kanker stadium III atau IV, ketika penanganannya menjadi lebih rumit. Keterlambatan ini dapat terjadi karena gejala awal tidak dikenali, keluhan dianggap sebagai gangguan pencernaan biasa, atau pasien dan tenaga kesehatan tidak segera mencurigai kanker karena usia pasien masih muda.

Stigma juga menjadi penghalang. Gangguan pada usus dan rektum sering dianggap memalukan untuk dibicarakan, sehingga sebagian orang enggan mengungkapkan perubahan kebiasaan buang air besar, perdarahan, atau keluhan pencernaan lainnya. Padahal, keterbukaan mengenai gejala dan pemeriksaan medis yang tepat dapat membantu mempercepat diagnosis.

Makanan Modern dan Perubahan Metabolisme Tubuh

Salah satu dugaan utama yang sedang diteliti adalah perubahan pola makan dalam beberapa dekade terakhir. Masyarakat di sejumlah negara berpendapatan tinggi semakin mudah mengakses makanan ultra-proses, makanan tinggi kalori, minuman manis, serta produk yang relatif rendah serat. Daging merah, konsumsi alkohol, dan kebiasaan makan yang tidak seimbang juga menjadi bagian dari pola konsumsi yang diperhatikan para peneliti.

Perubahan ini penting karena makanan tidak hanya berfungsi sebagai sumber energi. Apa yang dikonsumsi setiap hari turut memengaruhi berat badan, kadar gula darah, metabolisme insulin, dan kondisi peradangan di dalam tubuh. Pola makan yang buruk dapat meningkatkan risiko obesitas dan diabetes tipe 2, sementara sejumlah kondisi metabolik tersebut berkaitan dengan peningkatan risiko beberapa jenis kanker.

Namun, hubungan ini tidak berarti bahwa makanan ultra-proses secara langsung menyebabkan semua kasus kanker pada orang muda. Penelitian masih perlu memisahkan pengaruh pola makan dari faktor lain, termasuk aktivitas fisik, riwayat keluarga, kondisi sosial ekonomi, dan paparan lingkungan. Yang dapat disimpulkan saat ini adalah bahwa pola konsumsi masyarakat telah berubah secara signifikan, sehingga pengaruh jangka panjangnya terhadap kesehatan perlu mendapat perhatian lebih serius.

Persoalannya juga berkaitan dengan lingkungan tempat manusia hidup. Makanan cepat saji sering kali lebih mudah diperoleh daripada makanan segar yang beragam, terutama bagi masyarakat yang memiliki keterbatasan waktu dan pendapatan. Jika pilihan makanan sehat lebih mahal atau sulit dijangkau, anjuran untuk memperbaiki pola makan tidak cukup hanya disampaikan sebagai tanggung jawab individu.

Kurang Bergerak dan Tidur yang Tidak Teratur

Gaya hidup modern tidak hanya mengubah isi piring, tetapi juga cara manusia menghabiskan waktunya. Pekerjaan di depan komputer, perjalanan menggunakan kendaraan, dan hiburan berbasis layar membuat banyak orang menjalani hari dengan aktivitas fisik yang terbatas. Padahal, gerakan tubuh yang teratur membantu menjaga berat badan, meningkatkan kesehatan metabolik, dan mengurangi sejumlah faktor risiko penyakit kronis.

Kurangnya aktivitas fisik juga sering berjalan beriringan dengan pola tidur yang buruk. Sebagian pekerja tidur larut malam, tetapi tetap harus bangun pagi untuk bekerja. Pekerja malam menghadapi tantangan berbeda karena jam kerja mereka dapat mengganggu ritme sirkadian, yaitu sistem biologis yang mengatur siklus tidur dan bangun. Gangguan ritme ini menjadi salah satu bidang penelitian mengenai hubungan antara lingkungan kerja, tidur, dan risiko kanker.

Meski demikian, kurang tidur atau jarang berolahraga tidak dapat langsung dinyatakan sebagai penyebab kanker pada seseorang. Risiko kanker terbentuk melalui banyak faktor, dan pengaruh setiap faktor berbeda menurut jenis penyakit serta karakteristik individu. Penelitian diperlukan untuk menentukan seberapa besar kontribusi pola tidur dan aktivitas fisik terhadap peningkatan kasus kanker usia muda.

Hal yang lebih mendasar adalah bagaimana lingkungan modern membentuk kebiasaan tersebut. Kota yang bergantung pada kendaraan pribadi, jam kerja panjang, akses ruang terbuka yang terbatas, dan minimnya kesempatan beraktivitas fisik dapat membuat pola hidup sehat lebih sulit dijalankan. Dengan kata lain, persoalan kesehatan tidak hanya ditentukan oleh pilihan seseorang, tetapi juga oleh sistem kehidupan yang membentuk pilihan itu.

Mikroplastik, Polusi, dan Faktor yang Belum Terjawab

Lingkungan menjadi bidang penelitian lain yang semakin mendapat perhatian. Mikroplastik, polusi udara, serta berbagai bahan kimia yang digunakan dalam kehidupan modern sedang diteliti untuk memahami kemungkinan pengaruhnya terhadap kesehatan manusia. Anak-anak yang lahir pada masa sekarang mungkin mengalami pola paparan lingkungan yang berbeda dibandingkan generasi sebelumnya, sehingga para peneliti berusaha mengetahui apakah perubahan tersebut berkaitan dengan peningkatan penyakit tertentu.

Namun, bukti mengenai kontribusi faktor lingkungan terhadap kenaikan kanker pada usia muda masih belum lengkap. Mikroplastik, misalnya, telah ditemukan dalam berbagai sampel biologis, tetapi keberadaan suatu zat di dalam tubuh tidak otomatis membuktikan bahwa zat tersebut menyebabkan kanker. Peneliti harus mengukur tingkat paparan, memahami mekanisme biologis, dan membandingkan hasil kesehatan dalam jangka panjang sebelum menarik kesimpulan yang kuat.

Faktor biologis lain yang turut dipelajari adalah peningkatan rata-rata tinggi badan manusia. Beberapa penelitian menunjukkan adanya hubungan antara tinggi badan dan risiko sejumlah kanker. Salah satu teori menyatakan bahwa tubuh yang lebih besar memiliki lebih banyak sel, sehingga terdapat lebih banyak kesempatan terjadinya perubahan pada sel selama proses pembelahan. Meski demikian, tinggi badan bukan penyebab tunggal dan hubungan tersebut tidak menjelaskan seluruh peningkatan kasus kanker pada generasi muda.

Cara seseorang dilahirkan juga pernah dikaitkan dengan risiko kanker tertentu dalam beberapa penelitian. Persalinan melalui operasi sesar, misalnya, sedang dipelajari dalam kaitannya dengan perkembangan mikrobioma awal kehidupan dan risiko penyakit di kemudian hari. Akan tetapi, temuan semacam ini belum cukup untuk menyimpulkan bahwa operasi sesar menyebabkan kanker. Banyak faktor lain memengaruhi kondisi ibu dan bayi, sehingga hasil penelitian perlu ditafsirkan secara hati-hati dan tidak boleh menjadi alasan untuk menentukan metode persalinan tanpa pertimbangan medis.

Mengapa Kanker Sering Ditemukan pada Stadium Lanjut?

Salah satu tantangan terbesar adalah memastikan bahwa peningkatan diagnosis kanker pada usia muda tidak sekadar disebabkan oleh pemeriksaan yang semakin luas. Kemajuan teknologi medis dan meningkatnya kesadaran masyarakat memang memungkinkan lebih banyak kasus ditemukan. Namun, menurut penjelasan dalam laporan tersebut, peningkatan pemeriksaan saja tidak cukup untuk menerangkan seluruh tren, terutama karena kasus kanker stadium lanjut juga meningkat pada kelompok usia muda.

Kondisi ini menunjukkan perlunya meningkatkan kesadaran terhadap gejala yang menetap atau tidak biasa. Perubahan kebiasaan buang air besar, darah dalam tinja, nyeri perut yang berulang, penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas, atau kelelahan berkepanjangan patut dibicarakan dengan tenaga kesehatan, terutama jika keluhan tidak membaik. Gejala-gejala tersebut tidak selalu menandakan kanker, tetapi tidak seharusnya diabaikan hanya karena seseorang masih berusia 20-an atau 30-an.

Pemeriksaan skrining juga penting, tetapi jenis dan waktu pemeriksaan harus mengikuti pedoman medis yang berlaku, riwayat keluarga, serta tingkat risiko masing-masing orang. Tidak semua orang muda membutuhkan pemeriksaan kanker yang sama. Bagi mereka yang memiliki riwayat keluarga dengan kanker tertentu atau faktor risiko khusus, dokter dapat menyarankan evaluasi lebih awal daripada jadwal skrining umum.

Mengubah Arah, Bukan Sekadar Menyalahkan Individu

Menghadapi peningkatan kanker usia muda membutuhkan lebih dari sekadar kampanye agar masyarakat makan sehat, berolahraga, tidur cukup, mengurangi alkohol, dan tidak merokok. Kebiasaan tersebut tetap penting, tetapi perubahan yang lebih luas juga dibutuhkan. Masyarakat memerlukan akses yang lebih mudah terhadap makanan segar, ruang publik yang aman untuk berjalan kaki, lingkungan kerja yang mendukung istirahat, serta layanan kesehatan yang dapat dijangkau tanpa hambatan biaya yang berlebihan.

Pada saat yang sama, investasi penelitian harus diperkuat untuk mengidentifikasi penyebab kenaikan kasus secara lebih tepat. Tanpa pemahaman yang lebih baik mengenai faktor biologis, lingkungan, dan sosial, kebijakan pencegahan berisiko terlalu bertumpu pada dugaan. Penelitian jangka panjang juga dibutuhkan untuk mengetahui mengapa beberapa generasi menghadapi risiko kanker tertentu yang lebih tinggi daripada generasi sebelumnya.

Di tengah kekhawatiran tersebut, terdapat perkembangan yang memberi harapan. Kemajuan pengobatan telah membantu menurunkan angka kematian akibat berbagai jenis kanker. Vaksin HPV, misalnya, dapat mencegah infeksi yang menyebabkan sebagian besar kanker serviks serta sejumlah kanker lain, termasuk kanker di area kepala dan leher. Pengendalian tembakau, pengurangan konsumsi alkohol, deteksi dini yang tepat, dan perbaikan terapi juga berperan penting dalam upaya menekan beban penyakit.

Kenaikan kanker pada usia muda memang menjadi peringatan bahwa asumsi lama tentang usia dan penyakit perlu ditinjau kembali. Namun, hal itu bukan alasan untuk hidup dalam ketakutan atau menganggap setiap keluhan sebagai tanda kanker. Pesan yang lebih penting adalah membangun kebiasaan sehat, mengenali perubahan tubuh, memanfaatkan layanan medis ketika diperlukan, dan mendukung penelitian yang dapat menjelaskan penyebab sebenarnya.

Kanker bukan semata-mata persoalan pilihan pribadi. Pola makan, pekerjaan, lingkungan, akses layanan kesehatan, dan faktor biologis saling berinteraksi membentuk risiko seseorang. Jika peningkatan kanker pada usia muda ingin dihentikan, masyarakat perlu bergerak melampaui nasihat individual menuju lingkungan yang memungkinkan lebih banyak orang hidup sehat, memperoleh diagnosis tepat waktu, dan mendapatkan pengobatan terbaik.